Ad space available
Nomadic Raih $8,4 Juta, Kelola Data Video Kendaraan Otonom Pakai AI
Nomadic AI mengamankan pendanaan $8,4 juta untuk memproses data masif dari kendaraan otonom dan robotika menggunakan Vision Language Models. Platform ini membantu perusahaan mengolah data video mentah menjadi dataset terstruktur.

Nomadic Raih Pendanaan $8,4 Juta untuk Kelola Data Masif Kendaraan Otonom
SAN FRANCISCO, (31 MARET 2026)
- Nomadic AI mengamankan pendanaan seed round senilai $8,4 juta (sekitar Rp132,7 miliar) dengan valuasi mencapai $50 juta.
- Platform ini menggunakan Vision Language Models (VLM) untuk mengubah ribuan jam rekaman video dari robot dan kendaraan otonom menjadi dataset terstruktur yang dapat dicari.
- Putaran pendanaan ini dipimpin oleh TQ Ventures, dengan partisipasi dari Pear VC dan tokoh AI kenamaan, Jeff Dean.
Untuk membangun mesin otonom masa depan, terkadang sebuah model membutuhkan model lainnya. Mengutip laporan dari TechCrunch, startup bernama Nomadic AI baru saja mengumumkan perolehan pendanaan seed round sebesar $8,4 juta untuk mengatasi tantangan pengelolaan data pada sektor Autonomous Vehicles (AV) dan robotika.
Melansir data industri, perusahaan yang mengembangkan mobil tanpa sopir atau robot industri seringkali mengumpulkan jutaan jam data video. Namun, tantangannya adalah sekitar 95% dari data tersebut hanya tersimpan di arsip tanpa pernah diolah karena proses kurasi manual oleh manusia dianggap tidak efisien dan sulit untuk ditingkatkan skalanya (scale up).
Mengubah Video Menjadi Wawasan Terstruktur
Nomadic AI, yang didirikan oleh CEO Mustafa Bal dan CTO Varun Krishnan, menawarkan solusi berupa platform yang mengubah rekaman video mentah menjadi dataset terstruktur dan searchable melalui koleksi Vision Language Models. Hal ini memungkinkan pemantauan armada yang lebih baik serta pembuatan dataset unik untuk Reinforcement Learning.
Sistem ini sangat krusial dalam mengidentifikasi edge cases—kejadian langka yang sering kali membingungkan model Physical AI konvensional. Sebagai contoh, platform Nomadic dapat secara otomatis mengisolasi momen ketika kendaraan otonom harus melanggar lampu merah karena diarahkan oleh petugas polisi, atau mendeteksi setiap kali kendaraan melintasi jenis jembatan tertentu.
Mustafa Bal menyatakan kepada TechCrunch bahwa fokus mereka adalah memberikan wawasan mendalam bagi para pembangun sistem otonom. Saat ini, perusahaan besar seperti Zoox, Mitsubishi Electric, Natix Network, dan Zendar telah menggunakan platform tersebut untuk mempercepat iterasi teknologi mereka dibandingkan harus melakukan outsourcing pelabelan data secara manual.
Persaingan di Sektor Infrastruktur AI
Nomadic tidak sendirian di pasar ini. Nama-nama besar seperti Scale, Kognic, dan Encord juga mengembangkan alat pelabelan otomatis berbasis AI. Bahkan Nvidia telah merilis keluarga model open-source bernama Alpamayo untuk menangani masalah serupa. Namun, pendukung Nomadic percaya bahwa fokus spesifik pada infrastruktur ini akan menjadi pemenang, serupa dengan bagaimana Salesforce tidak membangun cloud sendiri dan Netflix tidak membangun fasilitas distribusi kontennya sendiri.
Langkah selanjutnya bagi Nomadic adalah mengembangkan alat serupa untuk data non-visual, seperti pembacaan sensor Lidar, serta mengintegrasikan data sensor dari berbagai moda (multi-mode).
Dampak bagi Indonesia
Kehadiran teknologi seperti Nomadic AI memiliki relevansi signifikan bagi ekosistem teknologi di Indonesia, terutama dalam dua aspek utama:
- Pengembangan Smart City dan Logistik: Indonesia sedang gencar mendorong inisiatif Smart City di IKN dan kota-kota besar lainnya. Teknologi yang mampu mengolah data video jalan raya secara otomatis dapat membantu pengembangan sistem transportasi cerdas lokal tanpa harus bergantung pada tenaga kerja manual yang masif untuk pelabelan data.
- Nilai Investasi: Pendanaan $8,4 juta atau setara Rp132,7 miliar (kurs Rp15.800) menunjukkan besarnya minat investor global terhadap Physical AI. Startup lokal di bidang logistik otonom atau pemantauan infrastruktur berbasis AI dapat melihat ini sebagai peluang untuk mengembangkan solusi infrastruktur serupa yang lebih efisien.
- Adopsi AI di Industri Manufaktur: Dengan banyaknya pabrik di Indonesia yang mulai melirik otomatisasi, kebutuhan akan platform yang mampu memahami pergerakan robot melalui video akan menjadi krusial untuk meningkatkan standar keamanan dan efisiensi kerja di lantai produksi.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


