Advertisement

Ad space available

Berita AI

Musk vs Altman: OpenAI Ungkap Upaya Musk Bajak Sam Altman ke Tesla

Minggu kedua persidangan Elon Musk vs OpenAI mengungkap ambisi kontrol absolut Musk dan upayanya merekrut Sam Altman ke Tesla.

Tim Rekayasa AI
Penulis
9 Mei 2026
5 min read
#OpenAI#Elon Musk#Sam Altman#Tesla#Artificial Intelligence
Musk vs Altman: OpenAI Ungkap Upaya Musk Bajak Sam Altman ke Tesla

Musk v. Altman Minggu 2: OpenAI Balas Serangan dan Shivon Zilis Ungkap Upaya Poaching Sam Altman

SAN FRANCISCO, (Sabtu, 9 Mei 2026)

Key Takeaway
  • Greg Brockman memberikan kesaksian bahwa Elon Musk sempat mendesak OpenAI menjadi entitas for-profit dengan syarat kendali absolut berada di tangannya.
  • Shivon Zilis mengungkap bahwa Musk pernah mencoba melakukan poaching terhadap Sam Altman untuk memimpin lab AI baru di Tesla guna menyaingi Google dan Meta.
  • Hasil persidangan ini berpotensi menghambat rencana IPO OpenAI yang nilai valuasinya diperkirakan mendekati $1 triliun (sekitar Rp16.000 triliun).

Minggu kedua persidangan penting antara Elon Musk dan OpenAI menyoroti motivasi sebenarnya di balik gugatan hukum yang dilayangkan sang miliarder. Mengutip laporan dari MIT Technology Review, pihak OpenAI kini melancarkan serangan balik dengan menghadirkan kesaksian yang menyudutkan narasi Musk.

Melansir data dari persidangan, Presiden OpenAI Greg Brockman membantah klaim Musk yang menyebut dirinya ditipu untuk menyumbang $38 juta demi misi non-profit. Brockman berargumen bahwa Musk justru merupakan pihak yang pertama kali mendorong OpenAI untuk membuat lengan for-profit dan bertarung sengit demi mendapatkan "kendali absolut" atas entitas tersebut.

Perseteruan Lukisan Tesla dan Ambisi Kontrol

Dalam kesaksiannya, Brockman menceritakan sebuah insiden pada musim panas 2017 setelah model AI OpenAI berhasil mengalahkan pemain profesional dalam video game Dota 2. Musk dilaporkan mengirim email yang menyatakan bahwa pencapaian tersebut adalah momen yang tepat untuk menciptakan entitas for-profit.

Namun, negosiasi pecah ketika Brockman dan Ilya Sutskever (mantan Chief Scientist OpenAI) mengusulkan pembagian ekuitas yang setara. Brockman mengisahkan bagaimana Musk marah, menolak tawaran tersebut, dan bahkan mengambil kembali sebuah lukisan Tesla yang diberikan sebagai hadiah sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.

Pengacara Musk, Steven Molo, mencoba menyerang kredibilitas Brockman dengan membuka catatan jurnal elektroniknya. Terungkap bahwa pada tahun 2017, Brockman sempat menuliskan pertanyaan tentang bagaimana dirinya bisa mencapai kekayaan $1 miliar. Saat ini, kepemilikan saham Brockman di OpenAI diperkirakan bernilai hampir $30 miliar (Rp480 triliun).

Plot Pembajakan untuk Tesla AI

Kesaksian paling mengejutkan datang dari Shivon Zilis, mantan anggota dewan OpenAI dan ibu dari anak-anak Musk. Zilis mengungkapkan bahwa pada tahun 2017-2018, Musk sudah kehilangan kepercayaan bahwa OpenAI bisa mencapai Artificial General Intelligence (AGI).

Sebagai gantinya, Musk mencoba membangun lab AI saingan di dalam Tesla. Menurut bukti pesan teks yang dihadirkan pengacara OpenAI, Sarah Eddy, Musk meminta Andrej Karpathy untuk menyusun daftar orang-orang terbaik di OpenAI untuk dibajak (poach), termasuk mencoba merekrut Sam Altman untuk memimpin lab tersebut.

Dampak bagi Indonesia

Drama hukum antara dua raksasa teknologi ini memiliki implikasi signifikan bagi ekosistem digital di Indonesia:

  1. Investasi Infrastruktur AI: Microsoft, investor utama OpenAI, baru-baru ini berkomitmen mengucurkan investasi senilai $1,7 miliar (sekitar Rp27,6 triliun) di Indonesia untuk pembangunan Data Center dan pelatihan AI. Ketidakpastian hukum di tingkat global dapat memengaruhi stabilitas kemitraan jangka panjang yang berdampak pada pembangunan infrastruktur lokal.
  2. Regulasi Tata Kelola AI: Kasus ini mempertegas pentingnya transparansi antara misi sosial dan profit dalam pengembangan teknologi. Pemerintah Indonesia melalui Kemenkominfo (terkait SE Menkominfo No. 9/2023) dapat mengambil pelajaran tentang perlunya aturan yang jelas bagi organisasi non-profit yang bertransformasi menjadi korporasi komersial agar tidak merugikan kepentingan publik.
  3. Pasar Modal dan Startup: Rencana IPO OpenAI dengan valuasi fantastis sering kali menjadi acuan bagi sentimen investor terhadap startup AI di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jika persidangan ini berlarut-larut, hal tersebut dapat memicu sikap lebih konservatif dari modal ventura di kawasan ini.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin