Ad space available
Startup AI Inference Modal Labs Bidik Valuasi $2,5 Miliar
Modal Labs tengah dalam pembicaraan untuk putaran pendanaan baru yang bisa melipatgandakan valuasinya menjadi $2,5 miliar. Startup infrastruktur AI ini dilaporkan mencatat ARR sebesar $50 juta.

Startup AI Inference Modal Labs Bidik Valuasi $2,5 Miliar
SAN FRANCISCO, (11 Februari 2026)
- Modal Labs dilaporkan sedang berdiskusi untuk pendanaan baru dengan valuasi mencapai $2,5 miliar, naik dua kali lipat dalam waktu kurang dari lima bulan.
- General Catalyst dikabarkan akan memimpin putaran ini, didorong oleh angka Annualized Revenue Run Rate (ARR) perusahaan yang menyentuh $50 juta.
- Sektor AI Inference menjadi medan tempur baru bagi investor, menyusul lonjakan valuasi kompetitor seperti Baseten dan Fireworks AI.
Mengutip laporan dari TechCrunch, Modal Labs, sebuah startup yang mengkhususkan diri pada infrastruktur AI Inference, tengah menjajaki putaran pendanaan baru dengan valuasi mencapai sekitar $2,5 miliar. Jika kesepakatan ini rampung, nilai perusahaan akan melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan valuasi $1,1 miliar yang diumumkan pada September lalu.
General Catalyst dikabarkan tengah dalam pembicaraan untuk memimpin putaran tersebut. Sumber internal menyebutkan bahwa Annualized Revenue Run Rate (ARR) Modal Labs saat ini telah menyentuh angka $50 juta. Meski demikian, diskusi ini masih dalam tahap awal dan rincian persyaratan akhir masih bisa berubah.
Co-founder dan CEO Modal Labs, Erik Bernhardsson, membantah bahwa perusahaannya sedang aktif melakukan penggalangan dana (fundraising). Ia mengkarakterisasi interaksinya dengan para VC baru-baru ini sebagai percakapan umum. Di sisi lain, General Catalyst belum memberikan komentar resmi terkait kabar ini.
Fokus pada Efisiensi AI Inference
Modal Labs berfokus pada optimasi AI Inference, yaitu proses menjalankan AI model yang sudah dilatih untuk menghasilkan jawaban dari permintaan pengguna. Meningkatkan efisiensi pada tahap ini sangat krusial karena dapat menekan Compute Costs dan mengurangi lag antara Prompt Engineering yang dilakukan pengguna dengan respon dari AI.
Modal adalah salah satu dari segelintir perusahaan fokus inference yang menarik perhatian besar investor saat ini. Pekan lalu, kompetitornya, Baseten, mengumumkan pendanaan sebesar $300 juta dengan valuasi $5 miliar. Begitu pula dengan Fireworks AI, penyedia Inference Cloud, yang mengamankan valuasi $4 miliar pada Oktober lalu.
Fenomena ini juga merambah ke sektor Open Source. Pengembang proyek vLLM baru-baru ini bertransformasi menjadi startup bernama Inferact dengan pendanaan awal dari Andreessen Horowitz pada valuasi $800 juta. Selain itu, tim di balik SGLang juga telah dikomersialkan sebagai RadixArk dengan dukungan pendanaan dari Accel.
Modal Labs didirikan oleh Erik Bernhardsson pada tahun 2021. Sebelum membangun Modal, ia menghabiskan lebih dari 15 tahun memimpin tim data di perusahaan besar seperti Spotify dan sempat menjabat sebagai CTO di Better.com.
Dampak bagi Indonesia
Kenaikan valuasi Modal Labs hingga $2,5 miliar (sekitar Rp39,5 triliun) menunjukkan bahwa infrastruktur untuk menjalankan AI secara efisien kini menjadi prioritas utama dibandingkan sekadar melatih model baru. Bagi ekosistem teknologi di Indonesia, hal ini memiliki dampak signifikan:
- Efisiensi Operasional Startup Lokal: Startup di Indonesia yang mulai mengintegrasikan Generative AI atau AI Agent ke dalam layanan mereka—seperti Fintech atau E-commerce—sangat bergantung pada biaya inference. Solusi infrastruktur yang lebih efisien dapat membantu perusahaan lokal menekan biaya Cloud Computing yang biasanya menjadi beban pengeluaran terbesar dalam mata uang USD.
- Adopsi Open Source yang Lebih Matang: Banyak pengembang di Indonesia menggunakan alat Open Source seperti vLLM. Dengan komersialisasi alat-alat ini di tingkat global, komunitas pengembang di Indonesia akan mendapatkan akses ke teknologi yang lebih stabil dan teroptimasi untuk beban kerja produksi.
- Kebutuhan Data Center: Meningkatnya permintaan akan AI Inference global secara tidak langsung akan mendorong kebutuhan akan Data Center yang dioptimalkan untuk GPU di wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia, guna mengurangi latensi bagi pengguna lokal.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


