Advertisement

Ad space available

Berita AI

Militer AS Gunakan Generative AI untuk Prioritaskan Target Serangan Militer

Pentagon dilaporkan mulai mengintegrasikan Generative AI untuk meranking daftar target serangan secara real-time. Penggunaan teknologi ini memicu kontroversi di tengah penyelidikan serangan fatal di Iran.

Tim Rekayasa AI
Penulis
12 Maret 2026
4 min read
#Generative AI#Pentagon#ChatGPT#Teknologi Militer#Keamanan Global
Militer AS Gunakan Generative AI untuk Prioritaskan Target Serangan Militer

Militer AS Gunakan Generative AI untuk Prioritaskan Target Serangan Militer

WASHINGTON D.C., (12 Maret 2026)

Key Takeaway
  • Pentagon mengintegrasikan Generative AI sebagai lapisan percakapan untuk mempercepat analisis dan prioritas target militer.
  • Model LLM dari OpenAI (ChatGPT) dan xAI (Grok) telah mendapatkan izin untuk digunakan dalam lingkungan terklasifikasi (classified settings).
  • Penggunaan AI dalam operasi militer menghadapi pengawasan ketat setelah insiden serangan di Iran yang menewaskan lebih dari 100 anak.

Mengutip laporan dari MIT Technology Review, militer Amerika Serikat mulai menjajaki penggunaan sistem Generative AI untuk menyusun peringkat daftar target dan memberikan rekomendasi mengenai sasaran mana yang harus diserang terlebih dahulu. Meskipun rekomendasi tersebut nantinya akan divalidasi oleh operator manusia, langkah ini menandai babak baru dalam integrasi teknologi kecerdasan buatan di medan perang.

Melansir data dari pejabat pertahanan yang mengetahui masalah tersebut, daftar target potensial akan dimasukkan ke dalam sistem Generative AI yang digelar Pentagon untuk pengaturan klasifikasi. Operator manusia kemudian dapat meminta sistem tersebut untuk menganalisis informasi dan meranking target berdasarkan prioritas, dengan mempertimbangkan faktor-faktor logistik seperti posisi pesawat tempur saat ini.

Dari Project Maven ke Era Chatbot

Sejak 2017, militer AS telah mengandalkan inisiatif Data Center dan Big Data berskala besar yang disebut Maven. Sistem ini menggunakan teknologi AI yang lebih konvensional, terutama Computer Vision, untuk menyaring ribuan jam rekaman drone dan mengidentifikasi objek secara otomatis.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa Generative AI yang berbasis LLM (Large Language Models) kini ditambahkan sebagai lapisan interpretatif. Berbeda dengan interface Maven yang memaksa pengguna memeriksa data pada peta secara manual, Generative AI memungkinkan tentara berinteraksi melalui chatbot untuk menemukan dan menganalisis data lebih cepat.

Model-model seperti Claude dari Anthropic, ChatGPT dari OpenAI, dan Grok milik xAI menjadi kandidat utama dalam skenario ini. Meskipun lebih mudah diakses, para ahli memperingatkan bahwa output dari Generative AI jauh lebih sulit untuk diverifikasi akurasinya dibandingkan sistem deteksi objek tradisional.

Kontroversi dan Risiko Operasional

Pengungkapan ini muncul di tengah sorotan publik yang tajam menyusul serangan rudal AS terhadap sebuah sekolah anak perempuan di Iran yang menewaskan lebih dari seratus orang. Investigasi awal yang dilaporkan oleh New York Times menunjukkan bahwa data penargetan yang kedaluwarsa menjadi salah satu penyebab insiden tersebut. Walaupun belum ada bukti langsung keterlibatan Generative AI dalam tragedi itu, penggunaan chatbot dalam proses pengambilan keputusan fatal tetap memicu perdebatan etika yang luas.

Di sisi lain, dinamika politik di Washington juga memengaruhi adopsi teknologi ini. Presiden Trump baru-baru ini memerintahkan penghentian penggunaan produk Anthropic dalam enam bulan ke depan setelah adanya sengketa mengenai pembatasan penggunaan militer, yang kemudian membuka jalan lebih lebar bagi OpenAI dan xAI untuk mendominasi kontrak pertahanan di sektor Cloud Computing dan AI.

Dampak bagi Indonesia

Adopsi Generative AI untuk kepentingan militer oleh negara adidaya memiliki implikasi serius bagi Indonesia, baik dari sisi kebijakan maupun keamanan regional:

  1. Regulasi AI Nasional: Indonesia perlu memperkuat panduan etika penggunaan AI, terutama mengingat posisi Indonesia yang secara diplomatis sering mendorong pelarangan Lethal Autonomous Weapons Systems (LAWS) di forum internasional.
  2. Modernisasi Pertahanan (Alutsista): Dengan pergeseran teknologi global, anggaran pertahanan Indonesia (yang mencapai Rp150+ triliun pada 2024/2025) kemungkinan akan semakin terfokus pada pengembangan kapabilitas Cybersecurity dan intelijen berbasis AI agar tidak tertinggal dalam peta kekuatan kawasan.
  3. Kedaulatan Data: Ketergantungan pada model AI asing (seperti ChatGPT atau Grok) di sektor strategis dapat menjadi risiko kedaulatan. Hal ini memperkuat urgensi pembangunan infrastruktur Data Center lokal dan pengembangan LLM berbahasa Indonesia untuk kebutuhan pemerintah dan keamanan.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin