Advertisement

Ad space available

Berita AI

Microsoft Rilis 3 Foundational Model Baru, Siap Bersaing dengan OpenAI dan Google

Microsoft meluncurkan tiga model AI baru melalui divisi MAI yang mampu menghasilkan teks, suara, dan video dengan harga lebih kompetitif. Langkah ini menandai ambisi Microsoft untuk membangun teknologi AI mandiri di samping kemitraannya dengan OpenAI.

Tim Rekayasa AI
Penulis
2 April 2026
4 min read
#Microsoft AI#Foundational Model#Generative AI#Mustafa Suleyman#LLM
Microsoft Rilis 3 Foundational Model Baru, Siap Bersaing dengan OpenAI dan Google

Microsoft Rilis 3 Foundational Model Baru, Siap Bersaing dengan OpenAI dan Google

SAN FRANCISCO, (2 April 2026)

Key Takeaway
  • Microsoft AI meluncurkan tiga Foundational Model baru: MAI-Transcribe-1, MAI-Voice-1, dan MAI-Image-2 untuk teks, suara, dan video.
  • Model-model ini diklaim lebih murah dan lebih cepat dibandingkan solusi kompetitor seperti Google dan OpenAI.
  • Meski merilis teknologi mandiri, Microsoft tetap mempertahankan kemitraan strategis senilai $13 miliar dengan OpenAI.

Melansir laporan dari TechCrunch, Microsoft AI melalui laboratorium risetnya mengumumkan perilisan tiga Foundational Model AI baru pada hari Kamis yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan teks, suara, dan gambar. Perilisan ini merupakan sinyal kuat atas dorongan berkelanjutan Microsoft untuk membangun tumpukan model Multimodal AI miliknya sendiri dan bersaing dengan laboratorium AI rival, meskipun perusahaan tetap terikat erat dengan OpenAI.

Ketiga model tersebut mencakup MAI-Transcribe-1 yang mampu melakukan transkripsi suara di 25 bahasa berbeda ke dalam teks dengan kecepatan 2,5 kali lebih cepat dibandingkan layanan Azure Fast. Selain itu, terdapat MAI-Voice-1 yang merupakan model audio generator, memungkinkan pengguna menghasilkan 60 detik audio hanya dalam waktu satu detik. Terakhir, MAI-Image-2 diperkenalkan sebagai model yang mampu menghasilkan video.

Fokus pada Humanist AI dan Efisiensi

Model-model ini dikembangkan oleh tim MAI Superintelligence, sebuah unit riset AI yang dipimpin oleh Mustafa Suleyman, CEO Microsoft AI. Tim ini dibentuk pada November 2025 dengan tujuan menciptakan teknologi yang lebih berpusat pada kebutuhan manusia.

"Di Microsoft AI, kami membangun Humanist AI. Kami memiliki pandangan yang berbeda saat menciptakan model AI kami—menempatkan manusia sebagai pusat, mengoptimalkan bagaimana orang benar-benar berkomunikasi, dan melatih untuk penggunaan praktis," tulis Suleyman dalam sebuah unggahan blog. Ia juga menambahkan bahwa lebih banyak model akan segera tersedia di platform Microsoft Foundry dan produk-produk Microsoft lainnya.

Di tengah pasar LLM yang semakin padat, Microsoft memposisikan harga sebagai nilai jual utama. MAI-Transcribe-1 dibanderol mulai dari $0,36 per jam. MAI-Voice-1 mulai dari $22 per 1 juta karakter, sementara MAI-Image-2 dipatok seharga $5 per 1 juta token untuk input teks dan $33 per 1 juta token untuk output gambar.

Strategi Mandiri di Tengah Kemitraan Strategis

Meski meluncurkan model buatan sendiri, Suleyman menegaskan komitmen Microsoft terhadap kemitraannya dengan OpenAI. Namun, negosiasi ulang kontrak baru-baru ini memungkinkan Microsoft untuk secara penuh mengejar riset Superintelligence ini secara mandiri.

Langkah ini mencerminkan strategi Microsoft di sektor perangkat keras. Perusahaan tetap membeli GPU dan chip AI dari Nvidia dan AMD, namun di saat yang sama memproduksi teknologi internal untuk mengurangi ketergantungan dan mengoptimalkan biaya di Data Center mereka.

Dampak bagi Indonesia

Peluncuran model AI baru dari Microsoft ini memiliki implikasi signifikan bagi pasar teknologi di Indonesia:

  1. Efisiensi Biaya Startup: Dengan harga transkripsi sekitar Rp5.700 per jam ($0,36), startup lokal dapat mengintegrasikan fitur transkripsi suara ke teks dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan standar industri saat ini.
  2. Aksesibilitas Multimodal: Dukungan terhadap 25 bahasa pada model transkripsi memudahkan pengembang di Indonesia untuk menciptakan aplikasi yang lebih akurat dalam menangani percakapan lokal untuk kebutuhan layanan pelanggan.
  3. Kompetisi Generative AI: Kehadiran model yang lebih murah ini akan memaksa penyedia layanan Cloud Computing lain di Indonesia untuk menyesuaikan harga mereka, yang pada akhirnya menguntungkan perusahaan pengguna akhir di tanah air.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin