Advertisement

Ad space available

Berita AI

Meta Pesan Energi Surya dari Luar Angkasa untuk Operasi Data Center Malam Hari

Meta bekerja sama dengan startup Overview Energy untuk memancarkan energi surya dari luar angkasa guna menyuplai listrik ke data center pada malam hari. Teknologi ini menggunakan ribuan satelit dengan sinar infra merah untuk menjaga operasional AI tetap berkelanjutan.

Tim Rekayasa AI
Penulis
27 April 2026
4 min read
#Meta#Overview Energy#Data Center#Space-based Solar Power#Generative AI
Meta Pesan Energi Surya dari Luar Angkasa untuk Operasi Data Center Malam Hari

Meta Pesan Energi Surya dari Luar Angkasa untuk Operasi Data Center Malam Hari

ASHBURN, (27 April 2026)

Key Takeaway
  • Meta memesan kapasitas hingga 1 Gigawatt (GW) energi surya yang dipancarkan dari luar angkasa oleh startup Overview Energy.
  • Teknologi ini menggunakan sinar infra merah (near-infrared) yang ditembakkan dari satelit ke solar farm di Bumi untuk menghasilkan listrik pada malam hari.
  • Deployment skala penuh ditargetkan mulai tahun 2030 dengan rencana peluncuran 1.000 satelit di Geosynchronous Orbit.

Persaingan untuk mengamankan pasokan listrik bagi model AI telah mencapai level baru. Mengutip laporan dari TechCrunch, raksasa teknologi Meta telah menandatangani perjanjian dengan startup Overview Energy yang memungkinkan ribuan satelit memancarkan cahaya infra merah ke solar farm untuk memberi daya pada Data Center di malam hari.

Melansir data tahun 2024, Data Center milik Meta mengonsumsi lebih dari 18.000 gigawatt-jam listrik—setara dengan kebutuhan daya lebih dari 1,7 juta rumah di Amerika Serikat selama setahun. Dengan kebutuhan compute power yang terus melonjak untuk mendukung Generative AI, perusahaan telah berkomitmen membangun 30 gigawatt sumber energi terbarukan, dengan fokus utama pada pembangkit listrik tenaga surya skala industri.

Inovasi Transmisi Energi Tanpa Baterai

Biasanya, Data Center yang mengandalkan energi surya harus berinvestasi besar pada penyimpanan baterai atau bergantung pada sumber energi lain saat matahari terbenam. Overview Energy, startup asal Ashburn, Virginia, menawarkan solusi berbeda: mengembangkan pesawat luar angkasa yang mengumpulkan energi matahari di ruang angkasa yang melimpah, lalu mengubahnya menjadi sinar near-infrared untuk dipancarkan ke solar farm terrestrial berukuran besar.

CEO Overview, Marc Berte, menyatakan bahwa penggunaan spektrum infra merah ini jauh lebih aman dan menghindari masalah regulasi yang biasanya menghambat rencana transmisi daya melalui laser berkekuatan tinggi atau gelombang mikrowaver. Berte mengklaim bahwa manusia dapat menatap langsung ke arah pancaran satelit tersebut tanpa efek buruk.

Overview telah mendemonstrasikan transmisi daya ke darat dari pesawat terbang dan berencana meluncurkan satelit pertama ke orbit rendah Bumi pada Januari 2028. Dalam pengumuman hari ini, Meta menandatangani perjanjian reservasi kapasitas pertama untuk menerima hingga 1 gigawatt daya dari armada luar angkasa tersebut.

Skala Global dan Masa Depan Energi AI

Berte mengharapkan peluncuran satelit untuk memenuhi komitmen Meta akan dimulai pada tahun 2030, dengan target menerbangkan 1.000 unit pesawat luar angkasa di Geosynchronous Orbit. Orbit tinggi ini memungkinkan satelit tetap berada di posisi tetap di atas titik yang sama di Bumi, memberikan pasokan energi yang stabil selama lebih dari 10 tahun.

Setelah beroperasi penuh, armada ini diperkirakan mampu mencakup sepertiga planet, mulai dari Pantai Barat Amerika Serikat hingga Eropa Barat. Saat Bumi berputar dan solar farm pelanggan memasuki waktu malam, satelit Overview akan meningkatkan regenerasi listrik mereka dengan cahaya tambahan dari luar angkasa.

Dampak bagi Indonesia

Langkah berani Meta ini memberikan implikasi signifikan bagi ekosistem teknologi di Indonesia. Sebagai salah satu hub Data Center yang tumbuh paling cepat di Asia Tenggara, Indonesia sering menghadapi tantangan intermitensi energi terbarukan karena keterbatasan lahan untuk baterai skala besar.

Jika teknologi ini berhasil dikomersialkan, penyedia Cloud Computing dan pengelola Data Center di Indonesia dapat mengadopsi model serupa untuk memanfaatkan solar farm yang sudah ada di wilayah seperti Waduk Cirata atau proyek surya di IKN secara lebih optimal selama 24 jam. Dari sisi ekonomi, efisiensi ini dapat menekan biaya operasional yang saat ini mencapai miliaran Rupiah per bulan hanya untuk pendinginan dan daya server AI, yang pada akhirnya dapat membuat harga layanan digital berbasis AI di Indonesia menjadi lebih kompetitif.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin