Advertisement

Ad space available

Berita AI

Meta Bakal Tambah Fitur Facial Recognition di Smart Glasses Tahun Ini

Meta berencana meluncurkan fitur 'Name Tag' yang memungkinkan pengguna kacamata pintar mengidentifikasi orang secara real-time. Fitur ini didukung oleh teknologi Facial Recognition dan AI Assistant.

Tim Rekayasa AI
Penulis
13 Februari 2026
3 min read
#Meta#Facial Recognition#Smart Glasses#Artificial Intelligence#Privacy
Meta Bakal Tambah Fitur Facial Recognition di Smart Glasses Tahun Ini

Meta Siapkan Fitur Facial Recognition "Name Tag" untuk Smart Glasses

MENLO PARK, (13 Februari 2026)

Key Takeaway
  • Meta berencana meluncurkan fitur Facial Recognition bernama "Name Tag" pada Smart Glasses miliknya paling cepat tahun ini.
  • Fitur ini memungkinkan pengguna mengidentifikasi identitas dan informasi orang lain melalui AI Assistant.
  • Proyek ini sempat tertunda karena kekhawatiran privasi, namun dilanjutkan kembali seiring tingginya minat pasar terhadap kacamata pintar Meta.

Mengutip laporan dari The New York Times dan melansir data dari TechCrunch, Meta berencana untuk menyematkan teknologi Facial Recognition ke dalam perangkat Smart Glasses mereka dalam waktu dekat. Fitur yang secara internal dikenal dengan nama "Name Tag" ini akan memungkinkan pemakai kacamata pintar untuk mengidentifikasi orang di sekitar mereka dan mendapatkan informasi relevan melalui AI Assistant Meta.

Meta sebenarnya telah mendiskusikan rencana ini sejak awal tahun lalu. Namun, raksasa teknologi tersebut sempat ragu karena menyadari adanya risiko keamanan dan privasi yang sangat sensitif. Berdasarkan memo internal, perusahaan awalnya berniat merilis "Name Tag" secara terbatas bagi komunitas tunanetra sebelum diluncurkan ke publik luas, meski rencana tersebut tidak langsung terealisasi.

Strategi Peluncuran di Tengah Dinamika Politik

Menariknya, dokumen internal menunjukkan bahwa Meta melihat situasi politik di Amerika Serikat saat ini sebagai momentum yang tepat untuk merilis fitur kontroversial tersebut. Meta memprediksi bahwa kelompok masyarakat sipil yang biasanya vokal mengkritik isu privasi saat ini sedang memfokuskan sumber daya mereka pada isu-isu lain.

"Kami akan meluncurkan fitur ini di tengah lingkungan politik yang dinamis, di mana banyak kelompok masyarakat sipil yang kami perkirakan akan menyerang kami justru sedang memfokuskan sumber daya mereka pada masalah lain," tulis dokumen tersebut.

Sebagai catatan, Meta pernah mempertimbangkan untuk menyematkan Facial Recognition pada versi pertama kacamata pintar Ray-Ban di tahun 2021. Rencana itu sempat dibatalkan karena tantangan teknis dan pertimbangan etika. Namun, kesuksesan komersial Smart Glasses Meta generasi terbaru telah mendorong perusahaan untuk menghidupkan kembali ambisi tersebut.

Dampak bagi Indonesia

Implementasi fitur ini di Indonesia berpotensi membawa beberapa dampak signifikan:

  1. Isu Privasi dan UU PDP: Penggunaan Facial Recognition di ruang publik tanpa persetujuan subjek dapat berbenturan dengan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) di Indonesia. Masyarakat perlu lebih waspada terhadap penggunaan data biometrik tanpa izin.
  2. Tren Gaya Hidup Digital: Konsumen Indonesia yang adaptif terhadap teknologi kemungkinan akan menyambut fitur ini untuk kebutuhan jejaring sosial, seperti mengidentifikasi profil Instagram seseorang secara instan saat bertemu di acara offline.
  3. Harga dan Ketersediaan: Saat ini, kacamata pintar hasil kolaborasi Meta dan Ray-Ban beredar di Indonesia melalui importir dengan rentang harga Rp5.000.000 hingga Rp7.500.000. Adanya fitur AI canggih seperti "Name Tag" kemungkinan akan mempertahankan nilai jual perangkat ini tetap tinggi di pasar lokal.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin