Advertisement

Ad space available

Berita AI

Meta Digugat Terkait Privasi AI Smart Glasses: Rekaman Intim Ditinjau Manusia

Meta menghadapi gugatan hukum di Amerika Serikat setelah laporan mengungkap bahwa kontraktor manusia meninjau rekaman sensitif dari kacamata pintar bertenaga AI milik pengguna.

Tim Rekayasa AI
Penulis
5 Maret 2026
4 min read
#Meta#AI Smart Glasses#Privacy#Generative AI#Cybersecurity
Meta Digugat Terkait Privasi AI Smart Glasses: Rekaman Intim Ditinjau Manusia

Kontraktor Manusia Diduga Tinjau Rekaman Sensitif Pengguna AI Smart Glasses Meta

SAN FRANCISCO, (Kamis, 5 Maret 2026)

Key Takeaway
  • Meta menghadapi gugatan class action di AS setelah penyelidikan mengungkap kontraktor di Kenya meninjau rekaman sensitif dari AI smart glasses, termasuk konten intim.
  • Gugatan menuduh Meta melakukan iklan palsu karena menjanjikan privasi penuh, padahal data pengguna masuk ke data pipeline untuk tinjauan manual tanpa opsi opt-out yang jelas.
  • Lebih dari 7 juta unit kacamata pintar Meta terjual pada 2025, memicu kekhawatiran pengawasan massal yang melanggar hak privasi konsumen.

Meta sedang menghadapi tuntutan hukum baru terkait masalah privasi pada produk AI smart glasses miliknya. Melansir laporan dari TechCrunch, penyelidikan oleh media Swedia menemukan bahwa pekerja di perusahaan subkontraktor yang berbasis di Kenya meninjau rekaman dari kacamata pelanggan yang mencakup konten sangat sensitif, termasuk ketelanjangan, aktivitas seksual, hingga aktivitas di toilet.

Mengutip data dari complaint yang diajukan, penggugat Gina Bartone dari New Jersey dan Mateo Canu dari California menuduh Meta melanggar undang-undang privasi dan melakukan penipuan iklan. Meta mengeklaim produk tersebut "dirancang untuk privasi" dan "dikendalikan oleh Anda," namun kenyataannya rekaman intim pengguna dapat diakses oleh pekerja di luar negeri untuk tujuan pelatihan Machine Learning dan Generative AI.

Janji Privasi vs. Realitas Tinjauan Manual

Dalam gugatan yang diajukan oleh Clarkson Law Firm, disebutkan bahwa pemasaran kacamata pintar Ray-Ban Meta sangat menekankan kontrol pengguna atas data mereka. Namun, penyelidikan mengungkap bahwa wajah dalam video tidak selalu disamarkan dengan benar saat ditinjau oleh pihak ketiga. Hal ini mendorong regulator Inggris, Information Commissioner’s Office, untuk turut menyelidiki masalah tersebut.

Pada tahun 2025 saja, lebih dari tujuh juta orang telah membeli AI smart glasses dari Meta. Para ahli hukum berpendapat bahwa skala data yang dikumpulkan sangat masif, dan pengguna sering kali tidak menyadari bahwa interaksi mereka dengan AI Agent di perangkat tersebut bisa dipantau secara manual oleh manusia untuk meningkatkan performa LLM (Large Language Model).

Menanggapi hal ini, juru bicara Meta, Christopher Sgro, menyatakan bahwa rekaman tetap berada di perangkat kecuali pengguna memilih untuk membagikannya kepada Meta AI. Namun, ia mengakui bahwa ketika pengguna berbagi konten, Meta terkadang menggunakan kontraktor untuk meninjau data tersebut guna meningkatkan pengalaman pengguna, sebuah praktik yang menurutnya juga dilakukan oleh perusahaan teknologi lain.

Dampak bagi Indonesia

Di Indonesia, kacamata pintar Ray-Ban Meta merupakan produk Consumer Tech yang cukup populer di kalangan early adopter, meski belum dirilis secara resmi oleh Meta Indonesia. Produk ini banyak tersedia melalui platform e-commerce dengan harga kisaran Rp5.500.000 hingga Rp8.500.000 tergantung model.

Kasus ini menjadi pengingat penting bagi konsumen di Indonesia mengenai implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Mengingat perangkat ini mampu merekam secara hands-free di ruang publik maupun privat, risiko kebocoran data sensitif ke pihak ketiga di luar negeri menjadi ancaman nyata. Pengguna di Indonesia disarankan untuk lebih berhati-hati saat mengaktifkan fitur cloud syncing atau berinteraksi dengan Generative AI pada perangkat wearable jika tidak ingin data pribadi mereka ditinjau secara manual oleh tenaga kerja asing.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin