Advertisement

Ad space available

Berita AI

Meta Terus Bakar Uang di AR/VR, Fokus Kini Bergeser ke Infrastruktur AI

Divisi Reality Labs milik Meta mencatat kerugian rutin sebesar $4 miliar per kuartal, sementara perusahaan bersiap meningkatkan belanja infrastruktur AI hingga $145 miliar.

Tim Rekayasa AI
Penulis
30 April 2026
4 min read
#Meta#Reality Labs#Generative AI#Mark Zuckerberg#Data Center
Meta Terus Bakar Uang di AR/VR, Fokus Kini Bergeser ke Infrastruktur AI

Meta Terus Bakar Uang di AR/VR, Fokus Kini Bergeser ke Infrastruktur AI

[MENLO PARK], (29 APRIL 2026)

Key Takeaway
  • Reality Labs mencatat kerugian rata-rata $4 miliar per kuartal, dengan total akumulasi kerugian mencapai $83,5 miliar sejak 2021.
  • Meta memproyeksikan belanja modal (capex) untuk infrastruktur AI mencapai $125 miliar hingga $145 miliar pada tahun 2026.
  • Meskipun pendapatan naik 33% year-over-year, saham Meta turun 5% karena kekhawatiran investor terhadap pembengkakan biaya operasional.

Mengutip laporan dari TechCrunch, Meta kembali mencatatkan kerugian besar pada divisi Reality Labs dalam laporan keuangan kuartal pertamanya tahun 2026. Melansir data yang dirilis perusahaan pada Rabu malam, divisi yang bertanggung jawab atas pengembangan kacamata AR, headset VR, dan perangkat lunak metaverse tersebut merugi sebesar $4 miliar (sekitar Rp65,2 triliun).

Kehilangan $4 miliar dalam satu kuartal bagi Reality Labs seolah telah menjadi "rutinitas" bagi Meta. Sejak tahun 2021, Meta telah membakar total $83,5 miliar (sekitar Rp1.361 triliun) untuk ambisi metaverse mereka. Meski divisi hardware ini terus merugi, Meta secara keseluruhan tetap mencetak laba bersih sebesar $26,8 miliar, naik 61% dari tahun sebelumnya, dengan total pendapatan mencapai $56,3 miliar.

Ambisi AI yang Jauh Lebih Mahal

Walaupun Meta mulai menarik diri dari ambisi metaverse yang menggebu-gebu, pengeluaran perusahaan diprediksi akan semakin membengkak demi mengejar ketertinggalan di sektor AI. Meta memproyeksikan pengeluaran total untuk tahun 2026 berada di angka $125 miliar hingga $145 miliar, melampaui estimasi awal para analis.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, menyatakan bahwa peningkatan infrastructure capex ini sebagian besar didorong oleh biaya komponen yang lebih tinggi, terutama pada memory pricing. Zuckerberg menegaskan bahwa perusahaan sangat fokus untuk meningkatkan efisiensi investasi mereka di tengah perlombaan senjata compute.

Strategi ini telah membuahkan hasil awal berupa peluncuran model AI terbaru mereka, Muse Spark, yang dirilis awal bulan ini setelah Meta melakukan perekrutan besar-besaran terhadap lebih dari 50 peneliti dan engineer dari kompetitornya. Namun, biaya untuk membangun dan memelihara produk Generative AI terus meroket seiring dengan kebutuhan Data Center dan GPU yang semakin masif.

CFO Meta, Susan Li, dalam panggilan telepon dengan investor, mengakui bahwa Meta cenderung meremehkan kebutuhan kapasitas compute mereka. Ketidakpastian mengenai outlook belanja modal untuk tahun 2027 membuat para investor khawatir, yang mengakibatkan saham Meta turun lebih dari 5% dalam perdagangan setelah jam kerja.

Dampak bagi Indonesia

Lonjakan pengeluaran Meta untuk infrastruktur AI dan kerugian berkelanjutan di divisi hardware AR/VR memberikan beberapa dampak strategis bagi pasar Indonesia:

  1. Harga Perangkat Keras: Dengan kerugian Reality Labs yang mencapai Rp65 triliun per kuartal, ada kemungkinan Meta akan mengurangi subsidi harga pada perangkat seperti Meta Quest di pasar internasional. Bagi konsumen di Indonesia, hal ini bisa berarti harga retail yang lebih tinggi karena fluktuasi kurs IDR dan pengurangan skema diskon global.
  2. Layanan Generative AI: Fokus Meta pada model Muse Spark kemungkinan besar akan membawa fitur AI yang lebih canggih ke platform WhatsApp, Instagram, dan Facebook di Indonesia. Ini akan berdampak pada bagaimana UMKM lokal memanfaatkan AI Agent untuk layanan pelanggan dan digital marketing.
  3. Ekosistem Pengembang: Fokus Meta yang bergeser dari metaverse murni ke AI berarti peluang bagi developer lokal di Indonesia akan lebih banyak tersedia di bidang pengembangan aplikasi berbasis LLM dan Prompt Engineering dibandingkan pengembangan aset 3D untuk dunia virtual.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin