Ad space available
Meta Akuisisi Manus $2 Miliar, Beijing Larang Pendirinya Keluar China
Meta secara resmi mengakuisisi startup AI Agent asal China, Manus, senilai $2 miliar untuk memperkuat teknologi otomasi masa depannya. Namun, kesepakatan ini memicu reaksi keras dari Beijing yang melarang para pendiri meninggalkan China demi melindungi kedaulatan teknologi.

Meta Akuisisi Manus $2 Miliar, Beijing Larang Pendirinya Keluar China
SAN FRANCISCO, (25 Maret 2026)
- Meta mengakuisisi startup AI Agent asal China, Manus, senilai $2 miliar setelah perusahaan tersebut merelokasi kantor pusat ke Singapura.
- Pemerintah China melalui NDRC melarang pendiri Manus meninggalkan negara tersebut untuk menyelidiki dugaan pelanggaran aturan investasi asing.
- Kasus ini mencerminkan fenomena 'selling young crops', di mana Beijing berusaha mencegah hilangnya Intellectual Property dan talenta AI ke tangan perusahaan Amerika Serikat.
Persaingan antara Amerika Serikat dan China dalam perlombaan membangun AI paling kuat di planet ini semakin memanas. Melansir laporan dari TechCrunch, Beijing terus menggelontorkan miliaran dolar ke model domestik sambil memperketat kendali pada sektor teknologi, terutama saat talenta AI terbaik mereka mulai bermigrasi ke perusahaan-perusahaan AS.
Mengutip data dari studi Carnegie Endowment, 87 dari 100 peneliti AI top asal China yang berada di institusi AS pada tahun 2019 tetap memilih bertahan di sana. Di tengah dinamika ini, Manus — salah satu startup AI paling diperbincangkan di China — secara diam-diam pindah ke Singapura dan menjual dirinya ke Meta senilai $2 miliar (sekitar Rp31,5 triliun).
Eksodus Manus dan Reaksi Keras Beijing
Manus mengejutkan industri pada musim semi tahun lalu dengan demo video yang menunjukkan kemampuan AI Agent dalam menyaring kandidat pekerja, merencanakan liburan, hingga menganalisis portofolio saham. Teknologi ini diklaim melampaui kemampuan Deep Research milik OpenAI. Benchmark, firma Venture Capital ternama di Silicon Valley, langsung memimpin pendanaan senilai $75 juta dengan valuasi $500 juta.
Pada Desember 2026, Manus telah memiliki jutaan pengguna dan mencatat Annual Recurring Revenue lebih dari $100 juta. Mark Zuckerberg, yang mempertaruhkan masa depan Meta pada AI, kemudian mengakuisisi startup tersebut. Manus pun merestrukturisasi kepemilikan, memindahkan tim inti ke Singapura, dan Meta berjanji untuk memutus semua hubungan dengan investor asal China serta menutup operasional di daratan China.
Namun, langkah ini memicu kemarahan di Beijing. China memiliki istilah khusus untuk fenomena ini: 'menjual tanaman muda' (selling young crops). Ini merujuk pada startup AI lokal yang pindah ke luar negeri dan menjual diri ke pembeli asing sebelum mereka matang sepenuhnya, membawa serta Intellectual Property dan talenta berharga.
Pencekalan Pendiri oleh NDRC
Laporan dari Financial Times menyebutkan bahwa co-founder Manus, Xiao Hong dan Ji Yichao, dipanggil untuk bertemu dengan Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) China bulan ini. Mereka diberitahu bahwa mereka tidak diizinkan meninggalkan negara tersebut untuk sementara waktu.
Meski belum ada tuntutan resmi, Beijing menyatakan ini sebagai 'tinjauan regulasi rutin' untuk menyelidiki apakah kesepakatan dengan Meta melanggar aturan investasi asing. Langkah ini mengingatkan publik pada tindakan tegas Beijing terhadap Jack Ma dan Ant Group di tahun 2020, yang menunjukkan bahwa tidak ada perusahaan yang berada di luar jangkauan regulasi mereka.
Dampak bagi Indonesia
Nilai akuisisi Manus yang mencapai $2 miliar memberikan sinyal kuat bagi ekosistem startup di Asia Tenggara. Relokasi Manus ke Singapura semakin mempertegas posisi negara tetangga tersebut sebagai hub AI regional, yang berpotensi menarik lebih banyak talenta digital Indonesia untuk bermigrasi ke sana.
Bagi regulator di Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran penting mengenai kedaulatan digital. Di tengah tren Generative AI, Indonesia perlu memastikan bahwa startup lokal yang memiliki Intellectual Property strategis tidak sekadar menjadi target akuisisi yang mengakibatkan hilangnya aset teknologi bangsa ke tangan Big Tech global tanpa adanya transfer teknologi yang adil.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


