Ad space available
Match Group Rem Perekrutan Karyawan Demi Fokus Investasi AI di Tinder
Match Group memperlambat proses rekrutmen demi menutupi biaya operasional teknologi AI yang mahal di Tinder. Strategi ini diharapkan mampu mendongkrak produktivitas dan memulihkan minat pengguna.
Match Group Rem Perekrutan Karyawan Demi Fokus Investasi AI di Tinder
SAN FRANCISCO, (7 Mei 2024)
- Match Group memperlambat perekrutan staf baru untuk mengalihkan anggaran ke biaya lisensi dan operasional alat AI.
- Perusahaan berambisi menjadi organisasi 'AI-native' guna meningkatkan efisiensi karyawan secara signifikan.
- Langkah ini diambil di tengah tantangan penurunan jumlah pengguna aktif di aplikasi Tinder.
Induk usaha Tinder, Match Group, baru-baru ini mengumumkan kebijakan untuk memperlambat laju perekrutan karyawan hingga akhir tahun ini. Keputusan strategis tersebut diambil guna mengalihkan anggaran perusahaan untuk membiayai adopsi teknologi Generative AI yang membutuhkan investasi besar.
Dalam laporan kinerja kuartal pertama, Chief Financial Officer Match Group, Steven Bailey, mengungkapkan bahwa biaya untuk lisensi dan alat-alat AI ternyata cukup tinggi. Namun, perusahaan melihat hal ini sebagai investasi krusial untuk masa depan bisnis kencan digital mereka.
Menuju Perusahaan AI-Native
Match Group berencana membekali seluruh karyawannya dengan akses ke teknologi AI terbaru serta pelatihan yang mumpuni. "Kami ingin menjadi perusahaan yang benar-benar AI-native. Meskipun biaya operasionalnya mahal, kami membiayainya dengan memperlambat rencana rekrutmen untuk sisa tahun ini," ujar Bailey kepada para analis.
Manajemen menegaskan bahwa kebijakan ini bersifat cost-neutral atau netral secara biaya. Artinya, penghematan dari pengurangan jumlah rekrutmen staf baru akan menyeimbangkan pengeluaran perangkat lunak AI yang membengkak. Fokus utamanya adalah meningkatkan produktivitas internal agar dapat berinovasi lebih cepat.
Tantangan Kejenuhan Gen Z
Upaya transformasi AI ini juga merupakan respons terhadap penurunan jumlah pengguna aktif bulanan Tinder sebesar 7% pada kuartal terakhir. Generasi Z kini cenderung menunjukkan kejenuhan terhadap aplikasi kencan konvensional dan mulai beralih ke pertemuan tatap muka melalui komunitas hobi.
Di Indonesia, tren ini terlihat dari populernya komunitas olahraga seperti klub lari atau kegiatan kolektif lainnya di kota besar. Dengan integrasi AI, Tinder berharap dapat menawarkan fitur pencocokan yang lebih relevan dan personal guna menarik kembali minat pasar muda yang semakin selektif.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


