Ad space available
Mantan Desainer iPhone Garap Hark: Revolusi Interface AI Tanpa Aplikasi
Hark, startup baru besutan Brett Adcock dan mantan desainer utama Apple, tengah mengembangkan produk personal intelligence yang mengintegrasikan model AI dan hardware secara seamless.

Mantan Desainer iPhone Garap Hark: Revolusi Interface AI Tanpa Aplikasi
SAN FRANCISCO, (24 Maret 2026)
- Hark sedang membangun produk "personal intelligence" end-to-end yang menggabungkan model AI, hardware, dan interface secara seamless.
- Proyek ini dipimpin oleh Abidur Chowdhury, desainer legendaris di balik iPhone Air, dengan dukungan dana awal senilai $100 juta.
- Hark menolak konsep wearable seperti AI pin atau kacamata pintar, dan lebih memilih integrasi kecerdasan pada "base layer" perangkat.
Hark, sebuah lab AI rahasia yang didirikan oleh entrepreneur Brett Adcock, baru saja mengungkap detail baru mengenai visi mereka untuk mengubah cara manusia berinteraksi dengan software cerdas. Mengutip laporan dari TechCrunch, perusahaan ini berencana mendesain model multi-modal, hardware, dan interface secara bersamaan demi menghadirkan produk intelijen pribadi yang benar-benar terintegrasi.
Melansir data internal perusahaan, sistem ini nantinya akan memiliki memori persisten tentang kehidupan penggunanya. AI tersebut diklaim mampu mendengar, melihat, dan berinteraksi dengan dunia secara real-time. Ambisi Hark adalah menemukan "killer app" yang menjadikan AI sebagai produk konsumen yang diinginkan, bukan sekadar fitur tambahan yang dipaksakan masuk ke platform digital yang sudah ada.
Visi "Intelligence at the Base Layer"
Abidur Chowdhury, Director of Design di Hark yang sebelumnya merupakan desainer industri di Apple, menjadi sosok kunci dalam proyek ini. Chowdhury, yang berjasa dalam desain iPhone Air, meninggalkan Apple musim gugur lalu setelah terpikat oleh visi Adcock untuk memperbarui cara manusia mengotomatisasi hidup mereka.
"Pandangan saya sederhana: model AI saat ini belum cukup cerdas, terasa cukup bodoh, dan perangkat yang kita gunakan untuk mengaksesnya secara fundamental bersifat pre-AI," tulis Adcock dalam memo internalnya. Hark menargetkan sistem yang menyerupai karakter Jarvis di film fiksi ilmiah—sistem yang mampu mengantisipasi, beradaptasi, dan benar-benar peduli pada penggunanya.
Dalam wawancara eksklusif, Chowdhury menekankan bahwa dunia sedang berubah, namun manusia masih menggunakan perangkat lama. Menurutnya, potensi AI akan maksimal jika kecerdasan berada di base layer (lapisan dasar) dari setiap interaksi, bukan hanya sekadar aplikasi atau website di lapisan atas. Hark berencana merilis model AI pertamanya pada musim panas tahun ini.
Menolak Tren Wearable Saat Ini
Menariknya, Chowdhury menyatakan ketidaktertarikannya pada platform AI wearable yang sedang tren saat ini, seperti kacamata pintar atau AI pin. Ia merasa tidak nyaman dengan perangkat yang menempatkan lapisan kamera atau sensor tambahan di antara manusia dan interaksi dunia nyata.
Saat ini, Hark mempekerjakan 45 engineer dan desainer, termasuk mantan peneliti AI dari Meta serta desainer dari Apple dan Tesla. Perusahaan ini juga telah menyiapkan infrastruktur besar dengan klaster ribuan NVIDIA GPU yang akan mulai beroperasi pada April mendatang untuk melatih model-model canggih mereka.
Dampak bagi Indonesia
Kehadiran produk personal intelligence dari Hark ini berpotensi mengubah lanskap penggunaan gadget di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Berikut beberapa poin dampaknya:
- Pergeseran Perilaku Konsumen: Jika Hark berhasil menciptakan interface tanpa aplikasi, pengguna di Indonesia yang sangat bergantung pada ekosistem aplikasi (seperti Super Apps) mungkin akan mulai beralih ke sistem otomatisasi berbasis AI Agent yang lebih ringkas.
- Konteks Ekonomi: Investasi personal seed senilai $100 juta (sekitar Rp1,57 triliun) menunjukkan skala masif proyek ini. Jika hardware Hark masuk ke pasar Indonesia, harganya diprediksi akan berada di segmen premium, bersaing dengan jajaran iPhone atau flagship Android.
- Kebutuhan Infrastruktur Data Center: Model AI yang memiliki memori persisten dan pemrosesan real-time membutuhkan latensi rendah. Hal ini bisa mendorong permintaan pembangunan Data Center lokal yang lebih canggih di Indonesia untuk mendukung pemrosesan data personal secara aman dan cepat.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


