Advertisement

Ad space available

Berita AI

Luma Luncurkan Studio Produksi AI, Garap Film 'Moses' di Prime Video

Startup video AI Luma berkolaborasi dengan Wonder Project meluncurkan studio Innovative Dreams untuk revolusi film religi. Proyek pertamanya menghadirkan aktor Ben Kingsley dalam kisah Nabi Musa.

Tim Rekayasa AI
Penulis
16 April 2026
4 min read
#Luma AI#Generative AI#Virtual Production#Prime Video#Innovative Dreams
Luma Luncurkan Studio Produksi AI, Garap Film 'Moses' di Prime Video

Luma Luncurkan Studio Produksi AI, Garap Film 'Moses' di Prime Video

SAN FRANCISCO, (16 April 2026)

Key Takeaway
  • Luma meluncurkan Innovative Dreams, studio produksi bertenaga Generative AI melalui kemitraan dengan Wonder Project.
  • Proyek pertama studio ini adalah serial "The Old Stories: Moses" yang dibintangi oleh pemenang Academy Award, Ben Kingsley.
  • Teknologi Luma Agents memungkinkan kolaborasi real-time antara sineas dan AI untuk mengubah set, pencahayaan, hingga footage aktor manusia secara instan.

Startup video AI, Luma, resmi meluncurkan Innovative Dreams, sebuah perusahaan produksi yang dibangun melalui kemitraan dengan Wonder Project. Mengutip laporan dari TechCrunch yang ditulis oleh Rebecca Bellan, Wonder Project merupakan layanan streaming yang memproduksi film dan serial TV bertema religi di Amazon Prime Video.

Karya perdana dari kolaborasi ini adalah serial berjudul "The Old Stories: Moses" yang dibintangi oleh aktor legendaris asal Inggris, Ben Kingsley. Serial ini dijadwalkan meluncur pada musim semi tahun ini di platform Prime Video.

Revolusi Virtual Production dengan AI Agent

Innovative Dreams diposisikan sebagai perusahaan layanan produksi tempat para pembuat film berpengalaman dari tim Sutradara Jon Erwin bekerja sama dengan teknolog kreatif Luma. Mereka akan menggunakan Luma Agents, yaitu perangkat AI yang baru saja diluncurkan untuk menangani pekerjaan kreatif dari ujung ke ujung (end-to-end) yang mencakup teks, gambar, video, hingga audio.

Dalam keterangannya, Luma menyatakan bahwa tim kreatif kini dapat berkolaborasi secara real-time dengan AI Agent untuk melakukan perubahan pada set, properti, dan pencahayaan, serta memasukkan rekaman aktor manusia.

"Ini adalah peningkatan signifikan dibandingkan proses Virtual Production dan Performance Capture saat ini, di mana segala sesuatunya baru bisa disatukan pada tahap pascaproduksi," tulis Luma dalam unggahan media sosialnya. Mereka menekankan bahwa keunggulan AI bukan sekadar lebih cepat atau murah, melainkan memberikan kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.

Mengejar Efisiensi Produksi Hollywood

Langkah Luma ini menyusul tren startup AI yang mulai merambah ke sektor produksi konten orisinal. Sebelumnya, startup Higgsfield dan Wonder Studios yang didukung OpenAI juga telah memulai proyek serupa. CEO Luma, Amit Jain, berpendapat bahwa biaya produksi Hollywood yang melambung tinggi telah membuat pembuatan film menjadi sangat terbatas secara kreatif. Generative AI dipandang sebagai solusi untuk membuat pembuatan film lebih efisien tanpa mengorbankan kualitas.

Sutradara Jon Erwin menjelaskan bahwa Innovative Dreams akan menggunakan proses "real-time hybrid filmmaking". Metode ini menggabungkan teknik Performance Capture (seperti pada film Avatar) dan Virtual Production (seperti pada The Mandalorian), namun dilakukan secara langsung dan jauh lebih murah menggunakan teknologi Luma.

Dampak bagi Indonesia

Transformasi industri film berbasis AI ini membawa dampak signifikan bagi ekosistem kreatif di Indonesia:

  1. Demokratisasi Produksi Berkualitas Tinggi: Dengan teknologi yang dipelopori Luma, sineas lokal dapat mengadopsi metode Virtual Production tanpa harus membangun studio LED raksasa yang mahal. Jika biaya produksi film kolosal Hollywood yang biasanya mencapai USD 100 juta (sekitar Rp1,6 triliun) bisa dipangkas drastis, maka kreator Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk memproduksi konten sejarah atau fantasi dengan standar visual global menggunakan budget lokal.
  2. Akses Konten Religi Modern: Serial "The Old Stories: Moses" akan hadir di Prime Video Indonesia (dengan biaya langganan sekitar Rp59.000/bulan). Ini menunjukkan adanya pasar yang besar untuk konten religi berkualitas tinggi yang dipadukan dengan teknologi canggih, yang bisa menjadi inspirasi bagi rumah produksi lokal di Indonesia.
  3. Adopsi Teknologi AI Agent: Perusahaan post-production di Jakarta dan kota besar lainnya kemungkinan besar akan mulai mengintegrasikan AI Agent ke dalam alur kerja mereka untuk mempercepat proses visual effects (VFX) yang selama ini memakan waktu berbulan-bulan.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin