Advertisement

Ad space available

Berita AI

Lansia di Kentucky Tolak US$26 Juta demi Lindungi Lahan dari Data Center AI

Seorang petani wanita berusia 82 tahun di Kentucky menolak tawaran senilai US$26 juta dari perusahaan AI raksasa untuk membangun data center di lahannya. Ia memilih menjaga warisan keluarga di tengah masifnya ekspansi infrastruktur digital.

Tim Rekayasa AI
Penulis
24 Maret 2026
3 min read
#Data Center#Artificial Intelligence#Infrastruktur#Cloud Computing#Lingkungan
Lansia di Kentucky Tolak US$26 Juta demi Lindungi Lahan dari Data Center AI

Lansia di Kentucky Tolak US$26 Juta demi Lindungi Lahan dari Data Center AI

MAYSVILLE, (24 MARET 2026)

Key Takeaway
  • Ida Huddleston (82) menolak tawaran US$26 juta (sekitar Rp410 miliar) dari perusahaan AI ternama untuk menjual lahan pertaniannya.
  • Penolakan didasari kekhawatiran terhadap krisis air, polusi lingkungan, dan hilangnya lahan produktif akibat pembangunan Data Center.
  • Perusahaan tersebut kini mengajukan permohonan rezoning lahan seluas 2.000 hektar di area sekitar untuk tetap melanjutkan proyek infrastruktur mereka.

Melansir laporan dari TechCrunch, seorang wanita asal Kentucky bernama Ida Huddleston baru saja mengambil keputusan besar dengan menolak tawaran fantastis senilai US$26 juta atau setara Rp410 miliar. Tawaran tersebut diajukan oleh sebuah "perusahaan Artificial Intelligence besar" yang berniat mengubah lahan pertanian keluarganya menjadi kompleks Data Center.

Huddleston, yang kini berusia 82 tahun, menegaskan bahwa keluarganya telah memiliki lahan tersebut selama beberapa generasi. Ia menyatakan tidak ingin ada Data Center yang dibangun di atas atau di dekat 1.200 hektar tanah miliknya di wilayah Maysville, Kentucky. Mengutip data dari laporan WKRC, Huddleston meragukan klaim bahwa proyek tersebut akan membawa pertumbuhan ekonomi bagi Mason County.

Kekhawatiran Lingkungan dan Ancaman Polusi

Dalam sebuah wawancara, Huddleston mengungkapkan alasan mendalam di balik penolakannya. Ia menyoroti dampak lingkungan yang sering kali menyertai pembangunan infrastruktur Cloud Computing skala besar. "Mereka menyebut kami petani tua yang bodoh, tapi kami tidak sebodoh itu," ujar Huddleston. "Kami tahu saat makanan kami menghilang, lahan kami menghilang, dan kami kekurangan air—serta racun itu."

Pernyataan Huddleston merujuk pada kekhawatiran global mengenai konsumsi air yang masif untuk pendinginan Data Center serta risiko pencemaran tanah yang telah banyak dilaporkan di wilayah pemukiman dekat pusat data. Meskipun identitas perusahaan AI tersebut dirahasiakan, mereka dilaporkan telah merevisi rencana dan mengajukan permintaan rezoning untuk lebih dari 2.000 hektar lahan di Northern Kentucky, yang menandakan proyek tersebut akan tetap berjalan di lokasi yang berdekatan dengan lahan Huddleston.

Dampak bagi Indonesia

Kasus di Kentucky ini memberikan perspektif krusial bagi Indonesia yang saat ini tengah memposisikan diri sebagai hub Data Center di Asia Tenggara:

  1. Spekulasi Harga Lahan: Penawaran senilai US$26 juta (Rp410 miliar) menunjukkan betapa tingginya nilai lahan strategis bagi perusahaan teknologi global. Di Indonesia, kawasan seperti Batam dan Cikarang terus mengalami peningkatan harga lahan akibat masuknya pemain besar seperti AWS, Microsoft, dan Google.
  2. Ketahanan Pangan vs Industrialisasi: Penolakan Huddleston menyoroti konflik antara pelestarian lahan pertanian produktif dengan kebutuhan infrastruktur digital. Pemerintah Indonesia perlu memperketat regulasi tata ruang agar ekspansi Data Center tidak menggerus lahan pertanian teknis.
  3. Manajemen Sumber Daya Air: Mengingat Data Center membutuhkan jutaan liter air untuk operasionalnya, pembangunan di Indonesia harus memperhatikan ketersediaan air tanah bagi masyarakat lokal agar tidak memicu konflik sosial seperti yang dikhawatirkan di Amerika Serikat.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin