Ad space available
Krutrim, Unicorn GenAI Pertama India, Kini Fokus ke Cloud Services
Krutrim resmi mengalihkan fokus bisnis dari pengembangan model AI ke layanan Cloud Services akibat tantangan ekonomi. Keputusan ini mencerminkan realitas sulitnya membangun model AI berskala besar.

Krutrim, Unicorn GenAI Pertama India, Kini Fokus ke Cloud Services
BENGALURU, (5 Mei 2026)
- Krutrim mengalihkan fokus utama dari pengembangan model AI ke layanan Cloud Services dan infrastruktur GPU.
- Perusahaan telah menghentikan upaya desain chip dan melakukan efisiensi tenaga kerja dengan memangkas lebih dari 200 peran.
- Meskipun mencatat pendapatan sekitar Rp504 miliar (₹3 miliar), mayoritas pemasukan masih bergantung pada ekosistem induk perusahaannya, Ola.
Krutrim, unicorn Generative AI pertama asal India, resmi mengalihkan fokus bisnisnya dari pengembangan model AI ke layanan Cloud Services. Melansir laporan dari TechCrunch, langkah strategis ini diambil setelah periode minimnya pembaruan produk, yang mencerminkan ketatnya ekonomi dalam membangun sistem AI berskala besar.
Dalam pernyataan resminya pada Selasa, Krutrim mengungkapkan bahwa pergeseran ke Cloud Services ini merupakan kelanjutan dari perombakan bisnis pada akhir 2025. Restrukturisasi tersebut mencakup realokasi modal dan talenta, serta penghentian sementara upaya perancangan chip mandiri. Padahal, startup yang berbasis di Bengaluru ini sempat menarik perhatian global saat merilis model dasar Krutrim-2 lebih dari setahun lalu.
Tantangan Operasional dan Persaingan Ketat
Pergeseran strategi ini terjadi setelah Krutrim absen dalam sesi-sesi utama di India’s AI Impact Summit di New Delhi, di mana raksasa global seperti Anthropic, Google, dan OpenAI turut berpartisipasi. Sebaliknya, kompetitor lokal seperti Sarvam justru tampil agresif dengan memamerkan model open-source baru dan kemitraan perangkat keras.
Selain perubahan fokus, Krutrim juga menghadapi tantangan internal berupa pemutusan hubungan kerja (layoffs) yang berdampak pada lebih dari 200 posisi dalam setahun terakhir. Aplikasi asisten pintar mereka, Kruti AI, bahkan telah ditarik dari toko aplikasi sejak April lalu.
Didirikan oleh Bhavish Aggarwal—yang juga memimpin perusahaan ride-hailing Ola dan produsen kendaraan listrik Ola Electric—Krutrim awalnya diposisikan sebagai penantang domestik bagi model-model milik OpenAI dan xAI milik Elon Musk. Meskipun berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar $50 juta dengan valuasi $1 miliar pada Januari 2024, realitas biaya infrastruktur tampaknya mengubah arah perusahaan.
Krutrim mengeklaim telah mencatat pendapatan sebesar ₹3 miliar (sekitar Rp504 miliar) pada tahun fiskal 2026, naik tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Namun, laporan internal menunjukkan bahwa sekitar 90% dari pendapatan tersebut berasal dari grup perusahaan Ola sendiri, bukan dari pelanggan eksternal.
Pertumbuhan Permintaan Cloud Services
Meski ambisi model AI-nya meredup, Krutrim melihat adanya pertumbuhan permintaan untuk layanan Cloud Services mereka. Saat ini, perusahaan mengeklaim telah memiliki lebih dari 25 pelanggan korporat dari sektor telekomunikasi, layanan keuangan, hingga kesehatan. Sebagian besar kapasitas komputasi GPU mereka dikabarkan telah dipesan untuk beban kerja eksternal.
Sanchit Vir Gogia, Chief Analyst di Greyhound Research, menilai langkah menuju Cloud Services ini masuk akal secara komersial. Namun, ia mengingatkan bahwa klaim profitabilitas Krutrim perlu diuji lebih lanjut seiring dengan standar pembuktian yang lebih tinggi bagi perusahaan rintisan.
Dampak bagi Indonesia
Fenomena yang dialami Krutrim memberikan pelajaran berharga bagi ekosistem startup teknologi di Indonesia yang sedang menjajaki sektor Generative AI. Biaya operasional untuk melatih model bahasa besar (LLM) sangat mahal, terutama dengan harga GPU NVIDIA yang terus melambung di pasar internasional. Jika dikonversi ke kurs Rupiah, investasi infrastruktur Cloud Computing berskala besar dapat mencapai triliunan Rupiah.
Bagi perusahaan AI di Indonesia, fokus pada penyediaan infrastruktur Cloud Services atau pengembangan AI Agent yang bersifat vertikal (spesifik industri) mungkin jauh lebih realistis dan menguntungkan secara bisnis dibandingkan mencoba membangun model dasar dari nol yang harus bersaing langsung dengan pemain besar seperti OpenAI atau Google. Hal ini juga sejalan dengan tren di tanah air di mana pusat data (Data Center) mulai menjamur untuk mendukung kebutuhan kedaulatan data dan Machine Learning lokal.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


