Ad space available
Kebangkitan Anthropic Buat Investor OpenAI Mulai Ragu, Ini Alasannya
Valuasi OpenAI senilai $852 miliar kini menghadapi skeptisisme seiring lonjakan pendapatan Anthropic yang mencapai $30 miliar. Beberapa investor mulai beralih fokus pada Anthropic yang dianggap sebagai investasi yang lebih menguntungkan.

Kebangkitan Anthropic Buat Investor OpenAI Mulai Ragu
SAN FRANCISCO, (14 April 2026)
- Pendapatan tahunan Anthropic melonjak drastis dari $9 miliar di akhir 2025 menjadi $30 miliar pada Maret 2026, didorong oleh permintaan coding tools.
- Investor menilai valuasi OpenAI sebesar $852 miliar terlalu tinggi dan membutuhkan valuasi IPO minimal $1,2 triliun untuk dianggap sukses.
- Di pasar sekunder, saham Anthropic sangat diburu, sementara saham OpenAI justru diperdagangkan dengan harga diskon.
Valuasi raksasa OpenAI sebesar $852 miliar kini mulai menuai skeptisisme dari para investornya sendiri. Melansir laporan dari TechCrunch dan Financial Times, perusahaan yang dipimpin Sam Altman ini tengah berjuang keras untuk melakukan reorientasi strategi demi menggaet pelanggan korporasi (enterprise) dan menahan gempuran Anthropic.
Anthropic mencatatkan pertumbuhan yang fenomenal. Pendapatan tahunan yang disetahunkan (annualized revenue) perusahaan ini melonjak dari $9 miliar pada akhir 2025 menjadi $30 miliar pada akhir Maret 2026. Pertumbuhan masif ini sebagian besar dipicu oleh tingginya permintaan terhadap lini coding tools milik mereka.
Salah satu investor yang menyuntikkan modal ke kedua perusahaan tersebut mengungkapkan bahwa untuk membenarkan valuasi OpenAI saat ini, seseorang harus berasumsi bahwa perusahaan tersebut akan mencapai nilai IPO sebesar $1,2 triliun atau lebih. Hal ini membuat valuasi Anthropic yang berada di angka $380 miliar terlihat seperti penawaran yang jauh lebih murah (bargain).
Dinamika Pasar Sekunder dan Persaingan AI
Fenomena ini juga terlihat di pasar sekunder, di mana permintaan untuk saham Anthropic hampir tidak terpuaskan. Sebaliknya, saham OpenAI justru diperdagangkan dengan harga diskon. Situasi ini memberikan tekanan bagi OpenAI yang baru saja melakukan penggalangan dana sebesar $122 miliar—putaran pendanaan swasta terbesar dalam sejarah.
Roy Luo, partner di Iconiq Capital yang telah menginvestasikan lebih dari $1 miliar di Anthropic, menyatakan pandangannya mengenai persaingan ini. "Ada ruang untuk keduanya, tetapi secara mendasar ada dinamika nomor satu dan nomor dua, dan pemenang nomor satu akan menang secara tidak proporsional," ujarnya.
Meski demikian, CFO OpenAI Sarah Friar menepis keraguan tersebut. Ia menegaskan bahwa keberhasilan OpenAI mengumpulkan dana jumbo adalah bukti nyata dari kepercayaan investor yang berkelanjutan terhadap visi jangka panjang perusahaan dalam mengembangkan Generative AI dan LLM.
Dampak bagi Indonesia
Persaingan sengit antara OpenAI dan Anthropic di level global memiliki implikasi signifikan bagi ekosistem teknologi di Indonesia:
- Valuasi Fantastis dalam Rupiah: Valuasi OpenAI sebesar $852 miliar setara dengan kurang lebih Rp13.632 triliun, sementara Anthropic senilai $380 miliar setara dengan Rp6.080 triliun (asumsi kurs Rp16.000/USD). Angka ini melampaui kapitalisasi pasar gabungan banyak perusahaan terbuka di Bursa Efek Indonesia.
- Adopsi AI di Korporasi Lokal: Dengan Anthropic yang semakin agresif dan efisien, perusahaan-perusahaan besar di Indonesia (seperti di sektor perbankan dan telekomunikasi) memiliki alternatif yang lebih kompetitif selain OpenAI untuk integrasi AI Agent dan Cloud Computing dalam operasional mereka.
- Akses Tools bagi Developer: Lonjakan pendapatan Anthropic yang didorong oleh coding tools menunjukkan tren bahwa pengembang perangkat lunak di Indonesia kemungkinan besar akan semakin banyak mengadopsi teknologi Anthropic untuk mempercepat siklus pengembangan aplikasi lokal.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


