Advertisement

Ad space available

Berita AI

Bukan Rebut Pekerjaan, Jepang Pakai Physical AI untuk Isi Kelangkaan Tenaga Kerja

Jepang mempercepat adopsi Physical AI dari proyek pilot ke implementasi nyata demi mengatasi krisis tenaga kerja. Pemerintah menargetkan penguasaan 30% pangsa pasar global pada tahun 2040.

Tim Rekayasa AI
Penulis
5 April 2026
4 min read
#Physical AI#Robotika#Jepang#Otomasi Industri#Smart Manufacturing
Bukan Rebut Pekerjaan, Jepang Pakai Physical AI untuk Isi Kelangkaan Tenaga Kerja

Bukan Rebut Pekerjaan, Jepang Pakai Physical AI untuk Isi Kelangkaan Tenaga Kerja

TOKYO, (5 April 2026)

Key Takeaway
  • Jepang menargetkan penguasaan 30% pangsa pasar global untuk sektor Physical AI pada tahun 2040.
  • Krisis demografi dengan penurunan populasi selama 14 tahun berturut-turut menjadi pendorong utama adopsi robotika pintar.
  • Pemerintah Jepang mengalokasikan dana sekitar USD 6,3 miliar (setara Rp100,8 triliun) untuk memperkuat infrastruktur AI dan pertahanan.

Physical AI kini muncul sebagai medan pertempuran industri utama berikutnya, di mana Jepang melakukan dorongan besar yang didorong oleh kebutuhan mendesak. Mengutip laporan dari TechCrunch yang ditulis oleh Kate Park, penyusutan tenaga kerja dan tekanan untuk mempertahankan produktivitas memaksa perusahaan-perusahaan di Jepang untuk mengerahkan robot bertenaga AI di berbagai pabrik, gudang, dan infrastruktur kritis.

Melansir data dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) Jepang, pemerintah menargetkan untuk membangun sektor Physical AI domestik dan merebut 30% pangsa pasar global pada tahun 2040. Saat ini, Jepang telah memegang posisi kuat dalam robotika industri, di mana produsen asal Negeri Sakura tersebut menyumbang sekitar 70% dari pasar global pada tahun 2022.

Krisis Demografi Sebagai Katalis Utama

Beberapa faktor utama yang mendorong adopsi teknologi ini di Jepang meliputi penerimaan budaya terhadap robotika, kelangkaan tenaga kerja akibat tekanan demografi, serta kekuatan industri yang mendalam pada rantai pasok hardware dan mekatronika. Ro Gupta, Managing Director Woven Capital, menyatakan bahwa Physical AI digunakan sebagai alat kontinuitas bisnis agar operasional pabrik dan logistik tetap berjalan dengan jumlah staf yang lebih sedikit.

Penurunan populasi Jepang yang terjadi selama 14 tahun berturut-turut telah mengubah arah pengembangan teknologi. Survei dari Reuters/Nikkei pada tahun 2024 menemukan bahwa kelangkaan tenaga kerja adalah kekuatan utama yang mendorong perusahaan Jepang untuk mengadopsi AI. "Physical AI adalah masalah urgensi nasional untuk menjaga standar industri dan layanan sosial," ujar Sho Yamanaka, Principal di Salesforce Ventures.

Kekuatan Hardware dan Tantangan Sistem

Secara historis, Jepang unggul dalam komponen fisik robotika seperti actuators, sensors, dan sistem kontrol. Namun, tantangan besar muncul saat Amerika Serikat dan China bergerak lebih cepat dalam mengembangkan full-stack systems yang mengintegrasikan hardware, software, dan data secara mendalam.

Issei Takino, CEO Mujin, menjelaskan bahwa perusahaannya kini fokus pada pengembangan software kontrol robotika yang memungkinkan hardware yang sudah ada untuk beroperasi secara otonom. Di sisi lain, startup seperti WHILL mengembangkan platform terintegrasi yang menggabungkan kendaraan listrik, onboard sensors, dan sistem manajemen armada berbasis Cloud Computing untuk mobilitas jarak pendek.

Dari Proyek Pilot ke Implementasi Nyata

Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi, pemerintah telah berkomitmen mengucurkan dana sekitar USD 6,3 miliar untuk memperkuat kapabilitas inti AI. Pergeseran dari sekadar eksperimen menuju implementasi nyata sudah terlihat di lapangan. Sektor logistik kini mulai menggunakan automated forklifts, sementara di pusat data (Data Center), robot inspeksi mulai digunakan secara rutin.

Perusahaan besar seperti SoftBank juga telah menerapkan Physical AI dengan mengombinasikan vision-language models dengan sistem kontrol real-time. Hal ini memungkinkan robot untuk menginterpretasikan lingkungan dan mengeksekusi tugas-tugas kompleks secara otonom tanpa campur tangan manusia yang konstan.

Dampak bagi Indonesia

Langkah agresif Jepang dalam Physical AI memberikan beberapa implikasi bagi Indonesia:

  1. Potensi Transfer Teknologi: Sebagai salah satu mitra dagang utama, adopsi Physical AI di pabrik-pabrik manufaktur Jepang di Indonesia dapat mempercepat otomasi di sektor otomotif dan elektronik lokal. Harga solusi robotika ini diprediksi akan semakin kompetitif seiring skala produksi global yang meningkat.
  2. Pergeseran Kebutuhan Tenaga Kerja: Berbeda dengan Jepang yang mengalami penyusutan populasi, Indonesia memiliki bonus demografi. Namun, industri Indonesia perlu mulai mengintegrasikan kompetensi Machine Learning dan Prompt Engineering bagi tenaga kerja agar tetap relevan dalam rantai pasok global yang semakin terotomasi.
  3. Investasi Infrastruktur Digital: Kebutuhan akan Data Center dan konektivitas tinggi untuk mendukung operasional Physical AI dapat memicu investasi baru dalam infrastruktur teknologi informasi di tanah air, terutama dalam mendukung ekosistem Smart Manufacturing.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin