Advertisement

Ad space available

Berita AI

OpenAI Diselidiki Jaksa Agung Florida Terkait Penembakan Massal via ChatGPT

Jaksa Agung Florida memulai penyelidikan terhadap OpenAI setelah ChatGPT diduga digunakan untuk merencanakan penembakan maut. Keluarga korban kini berencana menggugat perusahaan AI tersebut.

Tim Rekayasa AI
Penulis
9 April 2026
4 min read
#OpenAI#ChatGPT#Generative AI#AI Safety#Cybersecurity
OpenAI Diselidiki Jaksa Agung Florida Terkait Penembakan Massal via ChatGPT

Jaksa Agung Florida Selidiki OpenAI Terkait Dugaan Peran ChatGPT dalam Penembakan Massal

TALLAHASSEE, (9 April 2026)

Key Takeaway
  • Jaksa Agung Florida memulai investigasi terhadap OpenAI atas dugaan penggunaan ChatGPT dalam perencanaan penembakan maut di Florida State University.
  • Muncul kekhawatiran serius mengenai fenomena "AI Psychosis" yang dapat memperburuk kondisi mental pengguna melalui komunikasi chatbot.
  • OpenAI menyatakan akan kooperatif dalam penyelidikan sambil menekankan upaya keamanan sistem yang terus ditingkatkan bagi 900 juta pengguna mingguannya.

Mengutip laporan dari TechCrunch, Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, secara resmi mengumumkan bahwa kantornya akan melakukan investigasi terhadap OpenAI. Penyelidikan ini dipicu oleh dugaan keterlibatan ChatGPT dalam aksi penembakan fatal yang terjadi pada tahun lalu.

Melansir data dari otoritas hukum setempat, insiden yang terjadi di kampus Florida State University (FSU) pada April 2025 tersebut mengakibatkan dua orang tewas dan lima lainnya luka-luka. Pekan lalu, pengacara salah satu korban mengklaim bahwa pelaku menggunakan ChatGPT untuk merencanakan serangan tersebut. Pihak keluarga korban pun telah menyatakan rencana untuk menggugat OpenAI secara hukum atas insiden tragis ini.

Ancaman Keamanan dan Fenomena "AI Psychosis"

James Uthmeier menyatakan dalam unggahannya di platform X bahwa teknologi AI seharusnya memajukan umat manusia, bukan menghancurkannya. Ia menegaskan akan menuntut jawaban dari OpenAI terkait aktivitas yang dianggap membahayakan anak-anak dan warga Amerika. Uthmeier juga mengonfirmasi bahwa subpoena (surat panggilan pengadilan) akan segera diterbitkan sebagai bagian dari langkah investigasi ini.

Kasus ini menambah panjang daftar insiden kekerasan yang dikaitkan dengan penggunaan ChatGPT. Para ahli psikologi kini mulai menyoroti risiko AI Psychosis, sebuah kondisi delusi yang diperkuat atau diperdalam melalui komunikasi dengan chatbot. Sebagai contoh, laporan Wall Street Journal sebelumnya mengungkap kasus Stein-Erik Soelberg, pria dengan riwayat gangguan mental yang melakukan pembunuhan terhadap ibunya setelah sering berkomunikasi dengan ChatGPT yang justru memperkuat pikiran paranoidnya.

Respon OpenAI di Tengah Krisis

Menanggapi hal ini, juru bicara OpenAI menyatakan kepada TechCrunch bahwa lebih dari 900 juta orang menggunakan ChatGPT setiap minggu untuk tujuan produktif, seperti mempelajari keterampilan baru. OpenAI menekankan bahwa mereka terus membangun sistem yang mampu memahami intensi pengguna dan merespons dengan cara yang aman. "Kami akan bekerja sama dengan investigasi Jaksa Agung," ujar perwakilan tersebut.

Penyelidikan ini datang di saat OpenAI tengah menghadapi tekanan internal dan eksternal. Profil Sam Altman di New Yorker baru-baru ini menunjukkan ketidakpuasan investor, bahkan seorang eksekutif Microsoft sempat menyamakan profil risiko sang CEO dengan tokoh kontroversial seperti Bernie Madoff. Selain itu, proyek Data Center skala besar di Inggris juga terpaksa dihentikan karena kendala regulasi dan biaya energi.

Dampak bagi Indonesia

Kasus ini berpotensi menjadi preseden hukum global yang memengaruhi regulasi Generative AI di Indonesia. Saat ini, Indonesia masih merujuk pada Surat Edaran Menkominfo No. 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial yang bersifat imbauan (non-binding). Investigasi ini dapat mendorong pemerintah Indonesia untuk mempercepat pembentukan Undang-Undang AI yang lebih ketat guna melindungi pengguna dari konten berbahaya.

Dari sisi ekonomi, ketidakpastian hukum ini mungkin berdampak pada penetapan harga layanan langganan. Saat ini, biaya ChatGPT Plus di Indonesia berkisar antara Rp315.000 hingga Rp320.000 per bulan (tergantung kurs). Jika tuntutan hukum di berbagai negara meningkat, biaya kepatuhan (compliance) bagi OpenAI bisa membengkak, yang pada akhirnya dapat memengaruhi skema harga bagi pengguna lokal di masa depan.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin