Ad space available
Inovasi MIT: Sandook Tingkatkan Performa Data Center Tanpa Tambah Hardware
Peneliti MIT mengembangkan Sandook, sistem cerdas yang mampu menyeimbangkan beban kerja SSD di pusat data secara real-time. Teknologi ini diklaim mampu menggandakan performa sekaligus memperpanjang usia perangkat penyimpanan.

Peneliti MIT Temukan Cara Tingkatkan Performa Data Center dengan Lebih Sedikit Hardware
CAMBRIDGE, (7 April 2026)
- Sandook adalah sistem berbasis software yang mengelola tiga variabilitas utama pada SSD: perbedaan usia perangkat, gangguan baca-tulis, dan proses garbage collection.
- Menggunakan arsitektur dua tingkat (global dan lokal), sistem ini mampu mengalihkan beban kerja secara real-time dari perangkat yang sedang mengalami perlambatan.
- Hasil uji coba menunjukkan peningkatan throughput hingga 94% dan pemanfaatan kapasitas SSD mencapai 95% dari batas teoretis maksimumnya.
Mengutip laporan dari MIT News, para peneliti di Massachusetts Institute of Technology telah mengembangkan sebuah sistem cerdas bernama Sandook untuk menyeimbangkan tugas perangkat penyimpanan di dalam Data Center. Melansir data dari penelitian tersebut, inovasi ini mampu memperpanjang masa pakai hardware penyimpanan dan membantu operasional Data Center menjadi jauh lebih efisien.
Sistem ini dirancang untuk mengatasi masalah variabilitas performa pada Solid-state drives (SSD) yang sering kali membuat kapasitas perangkat tidak terpakai secara optimal. Dengan menyeimbangkan beban kerja secara cerdas di antara banyak SSD, Sandook memungkinkan pusat data memberikan performa tinggi tanpa harus terus-menerus menambah hardware baru.
Arsitektur Dua Tingkat: Global dan Lokal
Sandook, yang diambil dari kata bahasa Urdu berarti "kotak", menggunakan arsitektur dua tingkat yang unik. Terdapat sebuah central controller yang membuat keputusan strategis tentang tugas apa yang harus dijalankan oleh setiap perangkat penyimpanan. Di sisi lain, terdapat local controller pada setiap mesin yang secara cepat melakukan reroute data jika perangkat tersebut terdeteksi sedang mengalami kendala.
Sistem ini secara simultan menangani tiga sumber utama variabilitas performa:
- Usia dan Keausan: SSD yang dibeli pada waktu berbeda dari vendor yang berbeda memiliki tingkat performa yang tidak seragam.
- Interferensi Read-Write: Operasi penulisan data baru sering kali memperlambat proses pembacaan data yang terjadi di waktu bersamaan.
- Garbage Collection: Proses pembersihan data lama secara otomatis oleh SSD yang sering kali terjadi secara acak dan memperlambat kinerja.
"Ada kecenderungan untuk terus menambah sumber daya (hardware) demi menyelesaikan masalah, namun itu tidak berkelanjutan. Kami ingin memaksimalkan umur panjang dari sumber daya yang sangat mahal dan intensif karbon ini," ujar Gohar Chaudhry, mahasiswa pascasarjana Electrical Engineering and Computer Science (EECS) di MIT.
Performa Maksimal untuk AI dan Data
Dalam pengujian pada tugas-tugas realistis seperti pelatihan model Machine Learning dan kompresi gambar, Sandook terbukti meningkatkan throughput aplikasi antara 12 hingga 94 persen dibandingkan metode tradisional. Hebatnya lagi, sistem ini memungkinkan SSD mencapai 95 persen dari potensi performa maksimalnya tanpa memerlukan hardware khusus.
Solusi berbasis software ini bersifat adaptif dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan beban kerja secara real-time. Hal ini sangat krusial bagi penyedia Cloud Computing yang mengelola ribuan SSD dengan karakteristik yang beragam.
Dampak bagi Indonesia
Inovasi ini memiliki relevansi tinggi bagi industri teknologi di Indonesia, terutama dengan masifnya pembangunan Data Center di wilayah Jabodetabek dan Batam.
- Efisiensi Biaya (OPEX): Dengan harga SSD enterprise yang sangat mahal di pasar lokal (bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta Rupiah per unit tergantung kapasitas), kemampuan untuk memperpanjang usia hardware berarti penghematan besar pada belanja modal perusahaan.
- Skalabilitas Startup: Startup lokal yang menggunakan infrastruktur Cloud sendiri dapat meningkatkan kapasitas layanan AI atau database mereka tanpa harus segera melakukan upgrade hardware fisik.
- Keberlanjutan (Sustainability): Sejalan dengan komitmen Green Data Center di Indonesia, pengurangan frekuensi penggantian hardware akan membantu menekan limbah elektronik dan jejak karbon industri digital nasional.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


