Ad space available
India Catat 100 Juta Pengguna Mingguan ChatGPT, Sam Altman: Terbesar Kedua Dunia
Sam Altman mengungkapkan bahwa India kini memiliki 100 juta pengguna aktif mingguan ChatGPT, menjadikannya pasar terbesar kedua di dunia. India juga tercatat sebagai basis pengguna ChatGPT dari kalangan pelajar yang paling masif secara global.

India Catat 100 Juta Pengguna Mingguan ChatGPT, Sam Altman: Terbesar Kedua Dunia
NEW DELHI, (15 Februari 2026)
- India memiliki 100 juta pengguna aktif mingguan (Weekly Active Users/WAU) ChatGPT, menjadikannya pasar terbesar kedua OpenAI setelah Amerika Serikat.
- India tercatat sebagai negara dengan jumlah pengguna ChatGPT dari kalangan pelajar terbanyak di dunia.
- OpenAI memperkuat ekspansi dengan strategi harga khusus, termasuk peluncuran tier ChatGPT Go yang sempat digratiskan selama setahun bagi pengguna di India.
India kini memiliki 100 juta pengguna aktif mingguan ChatGPT, menempatkan negara tersebut sebagai salah satu pasar terbesar OpenAI secara global. Mengutip laporan dari TechCrunch, CEO OpenAI Sam Altman mengungkapkan pencapaian ini menjelang partisipasinya dalam konferensi AI yang diselenggarakan oleh pemerintah India.
Dalam artikel yang dipublikasikan oleh harian Times of India pada hari Minggu, Altman menguraikan adopsi ChatGPT yang terus tumbuh pesat di negara tersebut. Pengumuman ini muncul saat OpenAI bersiap untuk berpartisipasi dalam India AI Impact Summit selama lima hari di New Delhi. Altman dijadwalkan hadir bersama para eksekutif senior dari berbagai perusahaan teknologi terkemuka dunia.
Strategi Pasar Sensitif Harga
Melansir data pertumbuhan perusahaan, OpenAI telah menargetkan populasi muda India yang memiliki lebih dari satu miliar pengguna internet untuk mendorong ekspansi global. Produsen ChatGPT tersebut telah membuka kantor di New Delhi pada Agustus 2025 dan menyesuaikan pendekatan mereka untuk pasar India yang sangat sensitif terhadap harga.
Salah satu langkah strategisnya adalah peluncuran tier "ChatGPT Go" dengan biaya di bawah $5 (sekitar Rp78.000), yang kemudian sempat digratiskan selama satu tahun bagi pengguna di India. Strategi ini terbukti efektif mendorong angka penggunaan global ChatGPT yang dilaporkan mencapai 800 juta pengguna mingguan pada Oktober 2025 dan kini mendekati angka 900 juta.
Altman secara khusus menyoroti peran pelajar dalam memicu adopsi teknologi ini. India tercatat memiliki jumlah pengguna ChatGPT dari kalangan pelajar terbanyak di dunia. Hal ini memicu persaingan ketat dengan rival seperti Google, yang juga menawarkan langganan gratis paket AI Pro bagi pelajar di India sejak September 2025. Menurut Google, India juga menyumbang penggunaan Gemini tertinggi untuk tujuan pembelajaran secara global.
"Dengan fokus pada akses, literasi Al praktis, dan infrastruktur yang mendukung adopsi luas, India berada dalam posisi yang tepat untuk memperluas siapa yang mendapat manfaat dari teknologi ini dan membantu membentuk bagaimana AI yang demokratis diadopsi dalam skala besar," tulis Altman.
Tantangan Monetisasi dan Infrastruktur
Meskipun angka adopsi sangat tinggi, tantangan besar bagi OpenAI dan perusahaan AI lainnya di India adalah mengubah basis pengguna yang besar menjadi dampak ekonomi yang berkelanjutan. Pemerintah India telah meluncurkan IndiaAI Mission, sebuah program nasional untuk memperluas kapasitas Data Center, mendukung startup, dan mempercepat adopsi Generative AI di layanan publik.
Altman juga mengisyaratkan bahwa OpenAI berencana untuk memperdalam kerja sama dengan pemerintah India, dengan pengumuman kemitraan baru yang bertujuan untuk memperluas akses AI ke seluruh penjuru negeri dalam waktu dekat.
Dampak bagi Indonesia
Fenomena ledakan pengguna di India memberikan gambaran penting bagi pasar teknologi di Indonesia. Dengan karakteristik pasar yang serupa—populasi muda yang besar dan sensitivitas terhadap harga—Indonesia berpotensi menjadi target ekspansi berikutnya untuk model langganan AI yang lebih terjangkau.
Jika OpenAI atau kompetitornya menerapkan skema harga "Go" di Indonesia dengan harga di bawah Rp80.000 per bulan, hal ini diprediksi akan meningkatkan adopsi Machine Learning dan LLM di sektor pendidikan dan UMKM secara signifikan. Selain itu, tingginya angka penggunaan pelajar di India seharusnya menjadi sinyal bagi institusi pendidikan di Indonesia untuk segera merumuskan regulasi dan kurikulum yang mengintegrasikan penggunaan AI secara etis dan produktif.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


