Ad space available
Canggih, Gelang Ultrasonik dari MIT Bisa Kendalikan Tangan Robot Secara Real-Time
Insinyur MIT menciptakan gelang ultrasonik yang mampu melacak pergerakan tangan secara presisi untuk mengendalikan robot dan objek virtual. Teknologi ini memanfaatkan AI untuk memetakan kontraksi otot menjadi perintah digital.
Gelang Ultrasonik MIT Memungkinkan Pengguna Kendalikan Tangan Robot Melalui Gerakan Sendiri
CAMBRIDGE, (25 Maret 2026)
- Insinyur MIT mengembangkan gelang ultrasonik yang melacak pergerakan otot dan tendon pergelangan tangan secara real-time.
- Teknologi ini menggunakan algoritma AI untuk menerjemahkan citra ultrasonik menjadi 22 degrees of freedom posisi jari manusia.
- Inovasi ini memiliki potensi besar dalam kendali robot humanoid, prosedur bedah jarak jauh, serta interaksi di dunia Virtual Reality.
Mengutip laporan dari MIT News yang ditulis oleh Jennifer Chu, para insinyur di Massachusetts Institute of Technology (MIT) telah merancang gelang ultrasonik inovatif yang mampu melacak pergerakan tangan pemakainya dengan sangat presisi. Perangkat ini dapat mengomunikasikan informasi tersebut secara langsung ke robot atau lingkungan virtual.
Tangan manusia adalah salah satu bagian tubuh paling kompleks, yang dikoordinasikan oleh 34 otot, 27 sendi, serta lebih dari 100 tendon dan ligamen. Meniru gerakan halus tangan telah lama menjadi tantangan besar dalam bidang Robotics dan Virtual Reality. Melansir data dari jurnal Nature Electronics, perangkat baru ini menggunakan stiker ultrasonik seukuran jam tangan untuk memantau aktivitas internal pergelangan tangan.
Cara Kerja AI dan Sensor Ultrasonik
Gelang ini bekerja dengan menghasilkan citra ultrasonik dari otot, tendon, dan ligamen saat tangan bergerak. Citra tersebut kemudian diproses oleh algoritma Artificial Intelligence (AI) yang secara terus-menerus menerjemahkan gambar menjadi posisi koordinat dari lima jari dan telapak tangan.
"Tendon dan otot di pergelangan tangan Anda ibarat senar yang menarik boneka, yaitu jari-jari Anda," jelas Gengxi Lu, salah satu peneliti utama. Dengan mengambil gambar kondisi 'senar' tersebut, sistem dapat mengetahui posisi tangan secara akurat. Peneliti mengidentifikasi bahwa terdapat 22 degrees of freedom (derajat kebebasan) pada tangan manusia yang dapat dipetakan secara digital melalui pola pencitraan ini.
Dalam demonstrasi yang dilakukan, pengguna yang mengenakan gelang tersebut mampu mengendalikan tangan robot secara nirkabel untuk memainkan lagu sederhana di piano dan memasukkan bola basket kecil ke dalam ring desktop. Selain itu, perangkat ini memungkinkan pengguna memanipulasi objek di layar komputer, seperti mencubit jari untuk memperbesar atau memperkecil objek virtual.
Keunggulan Dibanding Teknologi Lama
Metode pelacakan tangan saat ini biasanya mengandalkan kamera atau sarung tangan bersensor. Namun, sistem kamera sering terhalang oleh objek fisik, sementara sarung tangan sensor dapat membatasi sensasi dan gerakan alami tangan. Pendekatan lain yang menggunakan sinyal elektrik otot (EMG) sering kali terganggu oleh noise lingkungan dan kurang sensitif terhadap gerakan halus.
Teknologi ultrasonik MIT ini menawarkan solusi yang lebih stabil dan detail. Xuanhe Zhao, Profesor Teknik Mesin di MIT, menyatakan bahwa teknologi ini dapat memberikan dampak langsung pada penggantian teknik pelacakan tangan di Virtual Reality dan Augmented Reality, serta menyediakan data pelatihan besar bagi humanoid robots untuk tugas-tugas ketangkasan tinggi, seperti prosedur bedah.
Dampak bagi Indonesia
Teknologi wearable ultrasonik ini memiliki potensi dampak signifikan bagi pasar teknologi di Indonesia, di antaranya:
- Revolusi Medis: Di masa depan, teknologi ini dapat mendukung implementasi bedah robotik jarak jauh di rumah sakit rujukan nasional. Estimasi biaya perangkat sensor ultrasonik yang lebih efisien dibanding sistem kamera kompleks dapat menekan biaya operasional medis di Indonesia.
- Industri Kreatif & Gaming: Pengembang gim lokal dapat memanfaatkan integrasi kontroler tanpa sarung tangan untuk pengalaman Virtual Reality yang lebih imersif. Dengan asumsi harga perangkat konsumen nantinya berkisar antara Rp3 juta hingga Rp7 juta (berdasarkan proyeksi biaya komponen hardware), adopsi di komunitas VR Indonesia diprediksi akan cepat.
- Aksesibilitas Difabel: Inovasi ini membuka peluang pengembangan protesis (tangan palsu) pintar yang lebih responsif bagi penyandang disabilitas di Indonesia dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan teknologi sensor saraf invasif.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


