Advertisement

Ad space available

Berita AI

Freeform Raih Pendanaan $67 Juta, Skalakan Manufaktur Metal Berbasis AI

Startup asal AS, Freeform, mengamankan pendanaan Seri B senilai $67 juta untuk memperluas platform pencetakan logam 3D berbasis AI. Didukung oleh Nvidia, perusahaan ini memanfaatkan klaster H200 untuk simulasi fisika guna memproduksi komponen mesin presisi.

Tim Rekayasa AI
Penulis
19 Februari 2026
3 min read
#Freeform#AI Manufacturing#Nvidia H200#3D Printing Metal#Startup Funding
Freeform Raih Pendanaan $67 Juta, Skalakan Manufaktur Metal Berbasis AI

Freeform Raih Pendanaan $67 Juta, Skalakan Manufaktur Metal Berbasis AI

BOSTON, (19 Februari 2026)

Key Takeaway
  • Freeform mengamankan pendanaan Seri B senilai $67 juta untuk mengembangkan platform pencetakan logam 3D yang sepenuhnya dikendalikan oleh software.
  • Perusahaan ini merupakan pionir manufaktur "AI native" yang menggunakan klaster GPU Nvidia H200 di Data Center lokal untuk simulasi fisika secara real-time.
  • Teknologi terbaru mereka, Skyfall, ditargetkan mampu memproduksi ribuan kilogram komponen logam presisi setiap harinya.

Investor teknologi belum menyerah pada ambisi untuk memproduksi produk fisik dengan kecepatan dan kemudahan yang sama seperti menulis kode software. Mengutip laporan dari TechCrunch, eksekutif di Freeform, sebuah startup yang mengembangkan sistem pencetakan 3D inovatif untuk komponen logam, mengumumkan perolehan pendanaan Seri B senilai $67 juta (sekitar Rp1,05 triliun) untuk memperluas platform manufaktur mereka.

Putaran pendanaan ini melibatkan investor ternama seperti Apandion, AE Ventures, Founders Fund, Linse Capital, NVentures (lengan modal ventura Nvidia), Threshold Ventures, dan Two Sigma Ventures. Meskipun Freeform enggan mengungkapkan valuasi pasca-pendanaan, data dari Pitchbook memperkirakan nilai perusahaan kini mencapai $179 juta.

Inovasi Laser dan Klaster GPU Nvidia

CEO dan co-founder Freeform, Erik Palitsch, menyatakan bahwa suntikan dana ini akan digunakan untuk meningkatkan sistem pencetakan GoldenEye saat ini—yang menggunakan 18 laser untuk melebur bubuk logam menjadi komponen presisi—ke versi terbaru yang disebut Skyfall. Platform Skyfall dijadwalkan menggunakan ratusan laser untuk menghasilkan ribuan kilogram suku cadang logam setiap harinya.

Palitsch dan co-founder Thomas Ronacher mendirikan perusahaan ini pada 2018 setelah sebelumnya mengembangkan mesin roket di SpaceX. Mereka menemukan bahwa mesin industri tradisional untuk mencetak logam sangat mahal, rumit, dan tidak dirancang untuk manufaktur massal. Oleh karena itu, Freeform membangun platform yang bersifat "AI native".

Melalui kemitraan strategis dengan Nvidia, Freeform mendapatkan akses ke GPU tercanggih. "Saya rasa kami adalah satu-satunya perusahaan manufaktur yang memiliki klaster H200 di Data Center di lokasi operasional kami," ujar Palitsch. Perangkat keras ini digunakan untuk menjalankan simulasi berbasis fisika secara real-time guna mempelajari setiap aspek alur kerja manufaktur dari ujung ke ujung.

Ekspansi dan Kontrak Backlog

Data yang dikumpulkan oleh sensor pada platform manufaktur dan selama simulasi memungkinkan Freeform untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi dengan cepat. Head of Talent Freeform, Cameron Kay, mengeklaim bahwa perusahaan memiliki data paling bermakna mengenai fisika proses pencetakan logam dibandingkan perusahaan lain di dunia.

Saat ini, Freeform telah mengirimkan ratusan komponen "mission-critical" kepada pembeli, meskipun identitas pelanggan masih dirahasiakan. Dengan dana baru ini, perusahaan berencana merekrut hingga 100 karyawan baru dan memperluas fasilitas mereka untuk mulai memenuhi tumpukan kontrak (backlog) yang ada.

Dampak bagi Indonesia

Inovasi Manufacturing-as-a-service berbasis AI seperti yang diusung Freeform memiliki relevansi besar bagi agenda hilirisasi industri di Indonesia:

  1. Hilirisasi Mineral Strategis: Teknologi pencetakan logam 3D presisi dapat meningkatkan nilai tambah mineral hasil tambang Indonesia seperti nikel dan bauksit menjadi komponen high-tech untuk sektor dirgantara atau otomotif global.
  2. Efisiensi Rantai Pasok: Dengan kemampuan memproduksi komponen mesin misi kritis secara lokal atau melalui layanan on-demand, industri manufaktur Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada impor suku cadang mahal yang sering terkendala logistik. Jika dikonversi, komponen yang diproduksi dengan skala Skyfall berpotensi menekan biaya produksi massal di masa depan.
  3. Transformasi SDM: Munculnya teknologi yang menggabungkan Machine Learning dengan manufaktur berat menuntut tenaga kerja lokal untuk menguasai keahlian baru seperti AI Agent management dan pengoperasian sistem berbasis Cloud Computing di lingkungan pabrik.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin