Ad space available
Firestorm Labs Raih $82 Juta, Bangun Pabrik Drone Portabel dalam Kontainer
Startup pertahanan Firestorm Labs mengantongi pendanaan Seri B sebesar $82 juta untuk memproduksi drone di garis depan. Menggunakan teknologi 3D printing, platform xCell mereka mampu mencetak drone tempur dalam 24 jam.

Firestorm Labs Raih $82 Juta, Hadirkan Pabrik Drone dalam Kontainer
SAN DIEGO, (Rabu, 29 April 2026)
- Firestorm Labs mengamankan pendanaan Seri B senilai $82 juta (sekitar Rp1,31 triliun) untuk mempercepat produksi drone di medan tempur.
- Platform xCell memungkinkan pencetakan bodi drone menggunakan teknologi industrial 3D printing dalam waktu kurang dari 24 jam.
- Inovasi ini ditujukan untuk mengatasi tantangan logistik di wilayah Indo-Pasifik yang rawan gangguan pasokan.
Dalam konflik di wilayah Pasifik, lokasi pabrik drone terdekat milik Amerika Serikat bisa berjarak ribuan mil. Mengutip laporan dari TechCrunch, pengiriman suku cadang melalui kapal atau pesawat ke garis depan sangat rentan terhadap serangan musuh. Mengatasi masalah ini, startup teknologi pertahanan Firestorm Labs mengembangkan solusi berupa pabrik drone yang dapat dimasukkan ke dalam kontainer pengiriman.
Melansir data terbaru, Firestorm Labs mengumumkan perolehan pendanaan Seri B sebesar $82 juta yang dipimpin oleh Washington Harbour Partners. Putaran ini juga diikuti oleh raksasa industri seperti Lockheed Martin, NEA, In-Q-Tel, dan Booz Allen Ventures, sehingga total pendanaan perusahaan kini mencapai $153 juta.
Revolusi Manufaktur dengan Platform xCell
Firestorm Labs awalnya merupakan produsen drone tradisional. Namun, CEO Dan Magy mengungkapkan bahwa permintaan pelanggan untuk memindahkan produksi lebih dekat ke garis depan memicu transisi perusahaan menjadi penyedia platform manufaktur mobile. Produk unggulan mereka, xCell, adalah platform manufaktur dalam kontainer yang mampu memproduksi sistem drone dalam waktu kurang dari 24 jam.
Di dalam setiap unit xCell terdapat mesin industrial 3D printing dari HP. Firestorm memegang perjanjian eksklusif global selama lima tahun dengan HP untuk menggunakan teknologi tersebut dalam unit penyebaran mobile.
Drone yang dihasilkan bersifat modular. Tergantung pada kebutuhan misi, drone ini dapat dikonfigurasi untuk keperluan surveilans, Electronic Warfare, hingga operasi fatal (lethal operations). CEO Dan Magy mengonfirmasi bahwa semua platform dikirimkan ke komando operasional Departemen Pertahanan AS sesuai dengan doktrin militer yang berlaku.
Mengatasi Tantangan 'Contested Logistics'
Pentagon telah menetapkan Contested Logistics—yakni upaya menjaga pergerakan senjata dan pasokan di bawah ancaman tembakan—sebagai salah satu dari enam area teknologi kritis nasional. Keunggulan xCell tidak hanya pada kecepatan, tetapi juga fleksibilitas. Belajar dari konflik di Ukraina, desain drone harus bisa berubah dalam hitungan hari untuk beradaptasi dengan taktik musuh.
Saat ini, dua unit xCell telah digunakan secara domestik di New York dan Florida. Firestorm juga mengonfirmasi bahwa platform ini sudah operasional di wilayah Indo-Pasifik, meski lokasi spesifiknya tidak disebutkan demi alasan keamanan.
Dampak bagi Indonesia
Kehadiran teknologi pabrik drone portabel seperti xCell memiliki signifikansi besar bagi lanskap pertahanan di Indonesia:
- Geopolitik Indo-Pasifik: Sebagai negara kepulauan di jantung Indo-Pasifik, Indonesia berada di wilayah yang menjadi fokus utama Firestorm Labs. Adopsi teknologi manufaktur on-site seperti ini dapat menginspirasi modernisasi sistem pertahanan TNI, terutama untuk pengamanan perbatasan di wilayah terpencil yang sulit dijangkau logistik konvensional.
- Ekosistem 3D Printing: Investasi sebesar $82 juta (setara Rp1,3 triliun) menunjukkan nilai ekonomi tinggi dari advanced manufacturing. Jika teknologi serupa dikembangkan secara lokal, biaya produksi drone yang saat ini masih bergantung pada komponen impor bisa ditekan signifikan dengan konversi material lokal melalui 3D printing.
- Regulasi Drone Militer: Masuknya drone yang diproduksi secara cepat dan massal di kawasan akan menuntut pemerintah Indonesia untuk memperkuat regulasi ruang udara dan pertahanan siber guna mengantisipasi ancaman Electronic Warfare yang kian canggih.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


