Advertisement

Ad space available

Berita AI

Filosofi Kerja di Era AI: Michal Masny dari MIT Bahas Etika Teknologi

Michal Masny dari MIT mengeksplorasi nilai intrinsik pekerjaan di tengah gempuran otomatisasi AI. Ia menekankan pentingnya menutup celah antara inovasi teknis dan kebijaksanaan etis.

Tim Rekayasa AI
Penulis
9 April 2026
4 min read
#Ethics of Technology#AI#Future of Work#Deepfakes#MIT
Filosofi Kerja di Era AI: Michal Masny dari MIT Bahas Etika Teknologi

Filosofi Kerja di Era AI: Pentingnya Kebijaksanaan dalam Inovasi

[CAMBRIDGE], (9 APRIL 2026)

Key Takeaway
  • Pekerjaan memiliki nilai intrinsik lebih dari sekadar gaji, termasuk ruang untuk kontribusi sosial, pengembangan diri, dan pembangunan komunitas.
  • Terdapat urgensi untuk menghapus "wisdom gap" antara ilmuwan yang menciptakan teknologi dengan filosof serta ahli hukum yang mengevaluasinya.
  • Penghapusan jam kerja atau pekerjaan sepenuhnya akibat AI tidak secara otomatis membawa dampak positif bagi kesejahteraan manusia.

Melansir laporan dari MIT News, Michal Masny, seorang NC Ethics of Technology Postdoctoral Fellow di Massachusetts Institute of Technology (MIT), kini tengah memimpin dialog krusial mengenai dimensi sosial dan etis dari teknologi komputasi masa depan. Di bawah naungan Department of Philosophy MIT, Masny menyelidiki peran pekerjaan dalam kehidupan manusia dan dampaknya terhadap well-being.

Masny berargumen bahwa pekerjaan adalah ruang bagi individu untuk mencapai keunggulan, mendapatkan pengakuan sosial, serta menciptakan komunitas yang berkelanjutan. Ia menantang gagasan populer bahwa masa depan tanpa kerja akibat otomatisasi AI akan selalu berujung pada kebaikan. "Pekerjaan itu perlu dan memiliki nilai positif. Hidup kita bisa memburuk jika kita menghilangkan pekerjaan sepenuhnya," tegasnya.

Menghapus Wisdom Gap dalam Teknologi

Selama masa jabatannya, Masny mengadvokasi pendekatan baru dalam pendidikan ilmuwan agar mereka lebih peka secara sosial. Mengutip peringatan Carl Sagan, ia menyoroti bahaya menjadi kuat secara teknologi tanpa menjadi bijaksana secara proporsional. Masny berupaya menciptakan ilmuwan yang mampu berpikir seperti pengacara atau filsuf saat merancang proyek mereka.

"Pembagian kerja tradisional di mana ilmuwan dan insinyur menemukan teknologi baru, lalu filsuf dan pengacara meregulasi mereka, sudah tidak lagi memadai," ujar Masny. Kecepatan perkembangan teknologi saat ini menuntut integrasi etika sejak tahap awal pengembangan.

Selain mengajar mata kuliah Ethics of Technology, Masny juga memimpin kelompok riset bertajuk "Deepfakes: Ethical, Political, and Epistemological Issues" di bawah program Social and Ethical Responsibilities of Computing (SERC). Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana risiko Deepfakes yang menyesatkan dapat dimitigasi melalui pendekatan interdisipliner.

Dampak bagi Indonesia

Bagi Indonesia, pemikiran Masny sangat relevan mengingat negara ini sedang mengalami transformasi digital masif dan menyongsong bonus demografi. Integrasi kurikulum Ethics of Technology di perguruan tinggi seperti UI, ITB, atau ITS menjadi krusial agar talenta digital lokal tidak hanya mumpuni secara teknis, tetapi juga bijaksana dalam merancang solusi yang berdampak pada masyarakat.

Di sisi lain, ancaman Deepfakes dalam lanskap politik dan sosial Indonesia menuntut adanya kolaborasi antara pengembang Computer Science dan ahli etika untuk menciptakan sistem verifikasi informasi yang kuat. Mengenai masa depan kerja, meskipun adopsi AI meningkat di berbagai sektor industri di Indonesia, nilai-nilai komunitas dan gotong royong dalam bekerja tetap menjadi elemen fundamental yang sulit digantikan oleh mesin.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin