Ad space available
Factory Raih Valuasi $1,5 Miliar, Fokus AI Agent untuk Coding Enterprise
Startup Factory mengamankan pendanaan $150 juta dari Khosla Ventures untuk memperkuat posisi di pasar AI assisted coding. Valuasi perusahaan kini mencapai Rp23,7 triliun.

Factory Raih Valuasi $1,5 Miliar untuk Kembangkan AI Agent bagi Enterprise
SAN FRANCISCO, (16 April 2026)
- Factory resmi mencapai valuasi $1,5 miliar setelah mengantongi pendanaan baru sebesar $150 juta yang dipimpin oleh Khosla Ventures.
- Startup ini mengembangkan AI Agent yang dirancang khusus untuk membantu tim engineering di level enterprise dalam proses coding.
- Diferensiasi utamanya terletak pada fleksibilitas platform yang memungkinkan pengguna berpindah antar foundation model seperti Claude atau DeepSeek.
Lebih dari tiga tahun sejak kemunculan Generative AI, teknologi AI assisted coding tetap menjadi salah satu penggunaan teknologi yang paling populer dan menguntungkan. Melansir laporan dari TechCrunch, startup bernama Factory baru saja mengumumkan keberhasilannya meraih pendanaan sebesar $150 juta. Suntikan modal ini melambungkan valuasi perusahaan yang baru berusia tiga tahun tersebut menjadi $1,5 miliar.
Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Khosla Ventures, dengan partisipasi dari raksasa modal ventura lainnya seperti Sequoia Capital, Insight Partners, dan Blackstone. Sebagai bagian dari kesepakatan, Keith Rabois, Managing Director di Khosla Ventures, resmi bergabung dalam dewan direksi startup tersebut.
Strategi Multi-Model dan Target Pasar Enterprise
Founder Factory, Matan Grinberg, menyatakan bahwa keunggulan utama perusahaannya dibandingkan kompetitor seperti Cursor atau Anthropic (dengan Claude Code) adalah kemampuan platform mereka untuk secara fleksibel beralih di antara berbagai foundation model. Pengguna dapat memilih untuk menggunakan LLM dari Anthropic hingga model besutan startup asal China, DeepSeek, sesuai dengan kebutuhan spesifik proyek mereka.
Saat ini, Factory telah mengamankan kontrak dengan sejumlah klien kakap di sektor korporasi, termasuk tim engineering di Morgan Stanley, Ernst & Young (EY), hingga perusahaan Cybersecurity ternama, Palo Alto Networks.
Kisah berdirinya Factory tergolong unik. Startup ini lahir pada tahun 2023 setelah Grinberg, yang saat itu merupakan mahasiswa PhD di UC Berkeley, mengirimkan cold-email kepada partner Sequoia, Shaun Maguire. Maguire, yang memiliki latar belakang akademis serupa di bidang fisika, kemudian meyakinkan Grinberg untuk meninggalkan studinya (drop out) guna membangun Factory dengan dukungan pendanaan awal (seed stage) dari Sequoia.
Dampak bagi Indonesia
Kenaikan valuasi Factory hingga mencapai kisaran Rp23,7 triliun (asumsi kurs Rp15.800/USD) menandakan bahwa otomatisasi di sektor pengembangan perangkat lunak semakin krusial bagi skala industri. Bagi ekosistem teknologi di Indonesia, tren ini diprediksi akan membawa dampak signifikan:
- Efisiensi Biaya Operasional IT: Perusahaan perbankan dan Fintech besar di Indonesia dapat memanfaatkan AI Agent seperti yang dikembangkan Factory untuk mempercepat siklus rilis produk digital tanpa harus menambah beban kerja tim developer secara manual.
- Adopsi Multi-Model LLM: Dengan fitur fleksibilitas model, perusahaan lokal dapat memilih LLM yang paling efisien secara biaya atau yang memiliki latensi rendah untuk infrastruktur Cloud Computing di Indonesia.
- Standar Keamanan Data: Mengingat klien Factory mencakup lembaga keuangan global, solusi ini memberikan standar baru bagi perusahaan di Indonesia dalam mengimplementasikan AI pada source code sensitif tanpa melanggar regulasi pelindungan data.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


