Advertisement

Ad space available

Berita AI

Kesaksian Greg Brockman: Kronologi Elon Musk Tinggalkan OpenAI

Presiden OpenAI Greg Brockman mengungkap detail ketegangan saat Elon Musk mencoba menguasai perusahaan sebelum akhirnya hengkang pada 2018. Persidangan ini menyoroti perebutan kekuasaan dan visi masa depan kecerdasan buatan.

Tim Rekayasa AI
Penulis
6 Mei 2026
4 min read
#OpenAI#Elon Musk#Greg Brockman#Generative AI#Kecerdasan Buatan
Kesaksian Greg Brockman: Kronologi Elon Musk Tinggalkan OpenAI

Drama Perebutan Kendali dan Visi AGI di Balik Hengkangnya Elon Musk

SAN FRANCISCO, (6 Mei 2026)

Key Takeaway
  • Perselisihan pecah pada 2017 karena Elon Musk menuntut kontrol absolut atas OpenAI saat transisi menuju entitas profit.
  • Greg Brockman memberikan kesaksian bahwa Musk tidak mengenali potensi awal dari teknologi yang kini menjadi ChatGPT, menyatakan bahwa Musk "tidak memahami AI".
  • Gugatan hukum ini mengungkap catatan pribadi Brockman mengenai kekhawatiran etis terkait transisi perusahaan tanpa melibatkan Musk.

Ketegangan di balik layar salah satu perusahaan teknologi paling berpengaruh di dunia kini menjadi konsumsi publik. Mengutip laporan dari TechCrunch yang ditulis oleh Tim Fernholz, Presiden OpenAI Greg Brockman memberikan kesaksian dalam persidangan yang mengungkap bagaimana hubungan antara para pendiri OpenAI retak akibat ambisi kontrol dan perbedaan visi teknis.

Melansir data dari persidangan tersebut, pada Agustus 2017, para tokoh kunci OpenAI berkumpul untuk mendiskusikan pembentukan anak perusahaan for-profit demi menggalang dana besar guna mencapai Artificial General Intelligence (AGI). Di saat yang sama, Elon Musk menuntut kendali penuh atas perusahaan. Brockman menyebut bahwa Musk sempat memberikan unit Tesla Model 3 kepada para pendirinya sebagai upaya untuk menarik dukungan, namun suasana berubah drastis saat tuntutannya ditolak.

Dalam kesaksiannya, Brockman menggambarkan Musk sangat marah ketika diberitahu bahwa ia tidak akan mendapatkan kendali penuh. Musk dilaporkan sempat terdiam beberapa menit sebelum akhirnya berkata, "Saya menolak," dan meninggalkan ruangan dengan emosional. Musk kemudian menghentikan donasi rutinnya dan resmi meninggalkan dewan direksi pada Februari 2018.

Perseteruan Visi dan Masa Depan Generative AI

Salah satu poin krusial dalam persidangan ini adalah catatan jurnal pribadi Brockman dari tahun 2017 yang disita oleh pengacara Musk. Dalam catatannya, Brockman sempat menuliskan kekhawatiran tentang "mencuri organisasi nirlaba" jika mereka bertransisi menjadi entitas profit tanpa Musk. Namun, Brockman mengklarifikasi di pengadilan bahwa konteks tersebut adalah mengenai apakah mereka harus mendepak Musk dari dewan direksi, yang pada akhirnya tidak mereka lakukan.

Selain masalah manajerial, Brockman memberikan pernyataan tajam mengenai kapabilitas teknis Musk. Ia mengklaim bahwa Musk tidak mengenali potensi Generative AI sejak dini. "Dia tidak tahu dan tetap tidak tahu tentang AI," ujar Brockman, merujuk pada ketidakmampuan Musk melihat potensi dalam demonstrasi awal perangkat lunak yang kemudian berevolusi menjadi ChatGPT.

Pada tahun 2019, OpenAI akhirnya membentuk entitas profit dan berhasil mengamankan investasi sebesar USD 1 miliar dari Microsoft, yang kemudian membengkak menjadi total USD 13 miliar. Kesuksesan finansial ini, yang kini bernilai ekuitas lebih dari USD 150 miliar, menjadi inti dari kecurigaan Musk bahwa ia telah dikelabui oleh Sam Altman dan Greg Brockman.

Dampak bagi Indonesia

Perseteruan hukum antara tokoh-tokoh utama OpenAI ini memiliki implikasi signifikan bagi ekosistem teknologi di Indonesia:

  1. Regulasi Tata Kelola AI: Kasus ini menyoroti pentingnya transparansi dalam tata kelola Neural Networks dan entitas AI. Bagi pemerintah Indonesia (Kominfo), dinamika ini menjadi studi kasus penting dalam menyusun regulasi etika AI agar tidak terpusat pada kontrol satu individu.
  2. Nilai Valuasi dan Pasar Lokal: Valuasi OpenAI yang kini mencapai sekitar Rp2.400 triliun (kurs Rp16.000) menunjukkan betapa masifnya nilai ekonomi Cloud Computing dan Machine Learning. Startup lokal di Indonesia yang bergantung pada API OpenAI perlu mewaspadai ketidakpastian hukum ini karena dapat memengaruhi stabilitas layanan di masa depan.
  3. Akses Teknologi: Jika kendali OpenAI bergeser akibat gugatan ini, arah pengembangan AI Agent dan LLM bisa berubah, yang berpotensi memengaruhi biaya operasional bagi perusahaan teknologi finansial (Fintech) dan e-commerce di Indonesia yang telah mengadopsi solusi tersebut.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin