Ad space available
Dominasi Gen Z: 50% Pengguna ChatGPT di India Berusia 18-24 Tahun
OpenAI melaporkan bahwa pengguna muda di India mendominasi interaksi di ChatGPT, dengan 80% pengguna berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun.

Dominasi Gen Z: 50% Pengguna ChatGPT di India Berusia 18-24 Tahun
NEW DELHI, (20 Februari 2026).
- Pengguna berusia 18-24 tahun menyumbang hampir 50% dari total pesan ChatGPT di India.
- India kini menjadi pasar terbesar kedua OpenAI dengan lebih dari 100 juta pengguna aktif mingguan.
- Tingkat penggunaan alat coding AI di India tercatat tiga kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
OpenAI tampaknya telah menemukan product-market fit yang sempurna di kalangan anak muda India. Mengutip laporan dari TechCrunch, perusahaan pimpinan Sam Altman tersebut mengungkapkan bahwa pengguna berusia antara 18 hingga 24 tahun menyumbang hampir 50% dari total pesan yang dikirim ke ChatGPT di negara tersebut. Jika diperluas ke kelompok usia di bawah 30 tahun, angka tersebut melonjak hingga 80%.
Laboratorium AI asal Amerika Serikat ini menyatakan bahwa mayoritas pengguna di India memanfaatkan ChatGPT untuk keperluan profesional. Sebanyak 35% dari seluruh pesan berkaitan dengan tugas pekerjaan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di angka 30%.
Fokus pada Coding dan Efisiensi Kerja
Salah satu temuan paling menonjol adalah tingginya minat pada pengembangan perangkat lunak. OpenAI mencatat bahwa coding assistant mereka, Codex, digunakan tiga kali lebih banyak oleh pengguna India dibandingkan median global. Sejak peluncuran aplikasi Mac untuk agentic coding dua pekan lalu, penggunaan mingguan alat tersebut bahkan meningkat empat kali lipat. Pengguna di India juga tercatat mengajukan pertanyaan terkait coding tiga kali lebih banyak daripada rata-rata pengguna dunia.
Data ini sejalan dengan temuan Anthropic awal pekan ini yang menyebutkan bahwa 45,2% tugas pada Claude di India dipetakan untuk kasus penggunaan terkait perangkat lunak. Selain pekerjaan, OpenAI merinci bahwa 35% pesan di India bersifat meminta panduan, 20% mengenai informasi umum, dan 20% lainnya meminta bantuan penulisan atau pembuatan konten.
Ekspansi Besar di Pasar Terbesar Kedua
India kini merupakan pasar terbesar kedua bagi OpenAI dengan lebih dari 100 juta pengguna mingguan. Untuk mendorong adopsi, OpenAI telah meluncurkan paket langganan di bawah $5 (sekitar Rp78.000) per bulan khusus untuk pasar India, serta menjalankan berbagai kampanye promosi agresif tahun lalu.
"Adopsi AI bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mengukurnya. Signals adalah cara kami menyajikan bukti dunia nyata agar debat AI di India didasarkan pada fakta, bukan sekadar hype," ujar Ronnie Chatterji, Chief Economist OpenAI.
OpenAI juga memperkuat infrastrukturnya di Asia Selatan dengan membuka kantor baru di Mumbai dan Bengaluru tahun ini. Mereka telah menandatangani kemitraan strategis dengan konglomerat Tata Group untuk mengamankan kapasitas Data Center dan GPU sebesar 100 megawatt, serta mendistribusikan ChatGPT Enterprise melalui unit bisnis IT mereka, TCS.
Dampak bagi Indonesia
Tren di India memberikan gambaran krusial bagi pasar teknologi Indonesia yang memiliki profil demografis serupa, didominasi oleh Gen Z dan milenial. Keberhasilan paket langganan murah (sub-$5 atau di bawah Rp80.000) di India bisa menjadi acuan bagi OpenAI untuk menerapkan strategi harga yang kompetitif di Indonesia guna memperluas jangkauan ke segmen pelajar dan profesional muda.
Tingginya penggunaan AI untuk coding di India juga menunjukkan peluang bagi talenta digital Indonesia untuk mempercepat adopsi Generative AI dalam pengembangan perangkat lunak lokal. Jika model kemitraan infrastruktur seperti yang dilakukan dengan Tata Group diterapkan di Indonesia—misalnya dengan perusahaan telekomunikasi besar—hal ini akan mempercepat kapasitas Cloud Computing nasional dan memperkuat ekosistem Machine Learning lokal.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


