Ad space available
Dominasi AI Open Source Tiongkok: Qwen dan DeepSeek Guncang Standar Global
Model AI asal Tiongkok kini mendominasi pasar open-source global, melampaui jumlah unduhan model Llama milik Meta. Dengan efisiensi biaya yang ekstrem, model seperti Qwen dan DeepSeek menjadi fondasi baru bagi pengembang di seluruh dunia.

Dominasi AI Open Source Tiongkok: Qwen dan DeepSeek Guncang Standar Global
[CAMBRIDGE], (12 Februari 2026)
- Model AI asal Tiongkok, khususnya keluarga Qwen dari Alibaba, telah resmi melampaui seri Llama milik Meta dalam total unduhan kumulatif di platform Hugging Face.
- Rilis DeepSeek R1 dan Kimi K2.5 membuktikan bahwa perusahaan Tiongkok mampu menyamai performa model frontier AS dengan biaya operasional hingga 7 kali lebih murah.
- Sekitar 80% startup di Silicon Valley yang menggunakan tumpukan teknologi open-source kini mengandalkan model AI buatan Tiongkok sebagai infrastruktur dasar mereka.
Tahun lalu menjadi titik balik krusial bagi industri kecerdasan buatan di Tiongkok. Mengutip laporan dari MIT Technology Review, sejak DeepSeek merilis model penalaran R1 pada Januari 2025, perusahaan-perusahaan Tiongkok secara konsisten menghadirkan model AI yang mampu menandingi performa model terkemuka Barat dengan biaya yang jauh lebih rendah.
Melansir data terbaru, firma Moonshot AI baru saja merilis model open-weight terbarunya, Kimi K2.5. Model ini menunjukkan performa yang mendekati sistem proprietary papan atas seperti Claude Opus milik Anthropic dalam beberapa uji tolok ukur (benchmark). Perbedaan utamanya terletak pada harga: K2.5 dibanderol sekitar sepertujuh dari harga Opus, memberikan akses kemampuan AI tingkat tinggi dengan harga yang sangat terjangkau bagi para pengembang global.
Pergeseran Dominasi di Hugging Face
Di platform Hugging Face, keluarga model Qwen milik Alibaba telah mengukuhkan posisinya sebagai seri model yang paling banyak diunduh sepanjang tahun 2025 dan 2026, menyalip model Llama milik Meta. Sebuah studi terbaru dari MIT menemukan bahwa model open-source Tiongkok kini telah melampaui model-model AS dalam hal total unduhan. Fenomena ini dimungkinkan karena perusahaan Tiongkok memilih untuk mempublikasikan model weights mereka, sehingga siapa pun dapat mengunduh, menjalankan, mempelajari, dan memodifikasi model tersebut secara mandiri.
Keputusan Tiongkok untuk fokus pada strategi open-source bukanlah tanpa alasan. Dengan konsentrasi talenta AI terbesar kedua di dunia setelah AS, strategi ini dianggap sebagai cara tercepat untuk menutup celah ketertinggalan, mendorong adopsi massal, dan menetapkan standar industri baru. Alex Chenglin Wu, CEO Atoms (perusahaan AI Agent), menyatakan bahwa kesuksesan DeepSeek menunjukkan bahwa dengan budaya organisasi yang tepat, talenta Tiongkok mampu menghasilkan inovasi kelas dunia.
Munculnya Model yang Lebih Spesifik dan Efisien
Tren berikutnya dalam ekosistem AI Tiongkok adalah pengembangan model yang lebih kecil dan terspesialisasi. Model seperti ini dirancang untuk berjalan secara lokal di perangkat seperti ponsel, mobil, dan perangkat keras konsumen lainnya. Liu Zhiyuan, profesor ilmu komputer di Universitas Tsinghua, menekankan bahwa kebangkitan small language models bertujuan untuk membuat AI lebih murah dijalankan dan lebih mudah diakses oleh lebih banyak orang.
Selain itu, model Tiongkok mulai mendominasi dalam hal variasi. Qwen, misalnya, menawarkan berbagai varian mulai dari model ringan untuk laptop hingga sistem raksasa dengan ratusan miliar parameter untuk Data Center. Hal ini menjadikannya basis utama atau "remix" bagi komunitas pengembang, di mana derivatif model berbasis Qwen kini mencakup lebih dari 40% model baru di Hugging Face.
Dampak bagi Indonesia
Kebangkitan AI open-source dari Tiongkok membawa dampak signifikan bagi ekosistem digital di Indonesia:
- Efisiensi Biaya Startup: Dengan model seperti Kimi K2.5 yang 7 kali lebih murah dibanding model AS, startup lokal dapat memangkas biaya operasional Generative AI secara drastis. Jika dikonversi ke Rupiah, biaya per juta token yang sebelumnya mencapai ratusan ribu rupiah bisa ditekan hingga ke kisaran puluhan ribu rupiah saja.
- Kemandirian Teknologi: Pengembang di Indonesia kini memiliki opsi untuk meng-host model open-weight berkualitas tinggi di infrastruktur Cloud Computing lokal atau on-premise, yang sangat penting untuk kepatuhan regulasi perlindungan data pribadi (UU PDP).
- Lokalisasi LLM: Kemudahan melakukan Fine-tuning pada model dasar seperti Qwen memungkinkan peneliti di Indonesia untuk mengembangkan model bahasa yang lebih memahami dialek dan konteks budaya lokal dengan biaya komputasi yang lebih efisien.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


