Ad space available
DeepSeek Bidik Valuasi US$45 Miliar Lewat Putaran Pendanaan Perdana
Laboratorium AI asal Tiongkok, DeepSeek, diprediksi mencapai valuasi US$45 miliar dalam putaran pendanaan pertamanya. Langkah ini diambil untuk memperkuat kemandirian teknologi AI Tiongkok di tengah persaingan dengan Amerika Serikat.

DeepSeek Bidik Valuasi US$45 Miliar Lewat Putaran Pendanaan Perdana
SAN FRANCISCO, (6 Mei 2026)
- Valuasi DeepSeek meroket dari US$20 miliar menjadi US$45 miliar hanya dalam beberapa minggu selama pembicaraan pendanaan.
- Putaran ini dipimpin oleh China Integrated Circuit Industry Investment Fund (Big Fund) milik pemerintah Tiongkok, serta melibatkan raksasa teknologi Alibaba dan Tencent.
- Pendanaan ini bertujuan untuk memberikan opsi saham bagi karyawan guna mencegah pembajakan peneliti oleh kompetitor.
DeepSeek sedang dalam pembicaraan serius untuk mengamankan putaran pendanaan venture capital pertamanya. Mengutip laporan dari Financial Times dan Bloomberg, valuasi laboratorium AI asal Tiongkok ini diperkirakan melambung dari US$20 miliar menjadi US$45 miliar hanya dalam hitungan minggu.
DeepSeek mulai mencuri perhatian global pada awal 2025 setelah merilis Large Language Model (LLM) yang mampu dilatih dengan biaya dan compute power yang jauh lebih kecil dibandingkan model-model besar dari Amerika Serikat seperti OpenAI dan Anthropic. Hingga kini, model DeepSeek terus menunjukkan performa yang kompetitif dalam aspek penalaran (reasoning) dan pemrograman (coding), dengan tetap mempertahankan prinsip open weight yang tersedia secara bebas di platform Hugging Face.
Strategi Bertahan dan Kemandirian Chip
Didirikan oleh miliarder hedge fund Tiongkok, Liang Wenfeng, DeepSeek sebelumnya tidak pernah mencari investor luar karena Liang menguasai hampir 90% saham perusahaan. Namun, melansir data dari Financial Times, langkah untuk menggalang dana kali ini diambil agar perusahaan dapat menawarkan kepemilikan saham kepada karyawan guna menangkal upaya pembajakan talenta peneliti oleh para pesaing.
Putaran pendanaan ini dikabarkan dipimpin oleh China Integrated Circuit Industry Investment Fund, sebuah kendaraan investasi negara yang fokus pada pengembangan sektor semikonduktor. Tiongkok terus berupaya memperkuat teknologi AI dalam negeri untuk memitigasi hambatan akses terhadap teknologi AS, terutama terkait ketersediaan chips kelas atas.
Secara teknis, DeepSeek telah dioptimalkan untuk beroperasi menggunakan hardware dari raksasa teknologi Huawei. Kombinasi antara algoritma efisien DeepSeek dan infrastruktur Huawei dianggap sebagai pilar utama Tiongkok dalam membangun ekosistem AI yang mampu menandingi dominasi Amerika Serikat. Dua raksasa cloud computing Tiongkok, Tencent dan Alibaba, juga dilaporkan turut berdiskusi untuk berpartisipasi dalam putaran mega-pendanaan ini.
Dampak bagi Indonesia
Kenaikan valuasi DeepSeek hingga US$45 miliar (sekitar Rp719 triliun) menandai babak baru dalam perang teknologi AI global yang akan dirasakan hingga ke pasar Indonesia. Pertama, kehadiran model open weight yang kuat dan efisien seperti DeepSeek memberikan alternatif bagi pengembang lokal di Indonesia untuk membangun aplikasi berbasis Generative AI tanpa ketergantungan penuh pada API berbayar yang mahal dari penyedia layanan AS.
Kedua, keterlibatan Alibaba dan Tencent dalam pendanaan ini kemungkinan besar akan mempercepat adopsi teknologi DeepSeek ke dalam infrastruktur data center dan layanan cloud computing mereka yang sudah memiliki pangsa pasar besar di Indonesia. Hal ini dapat memicu penurunan harga layanan AI bagi korporasi di dalam negeri karena efisiensi biaya pelatihan model yang ditawarkan oleh arsitektur DeepSeek.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


