Ad space available
Deccan AI Raih US$25 Juta, Perkuat Pelatihan Model AI Lewat Pakar India
Deccan AI mengamankan pendanaan Seri A sebesar US$25 juta untuk menyediakan data pasca-pelatihan berkualitas tinggi bagi laboratorium AI. Startup ini mengandalkan jutaan kontributor ahli di India guna memastikan akurasi model AI di dunia nyata.

Deccan AI Raih US$25 Juta, Perkuat Pelatihan Model AI Lewat Pakar India
SAN FRANCISCO, (25 MARET 2026)
- Deccan AI mengamankan pendanaan Seri A senilai US$25 juta (sekitar Rp395,2 miliar) yang dipimpin oleh A91 Partners.
- Perusahaan berfokus pada penyediaan data pasca-pelatihan (post-training) dan evaluasi model AI menggunakan jaringan 1 juta kontributor ahli di India.
- Klien utama mereka mencakup raksasa teknologi seperti Google DeepMind dan Snowflake.
Seiring dengan melonjaknya permintaan untuk melatih dan menyempurnakan model AI, Deccan AI—sebuah startup yang menyediakan data pasca-pelatihan dan layanan evaluasi—telah meraih pendanaan sebesar US$25 juta dalam putaran pendanaan besar pertamanya. Mengutip laporan dari TechCrunch, putaran pendanaan Seri A ini dipimpin oleh A91 Partners, dengan partisipasi dari Susquehanna International Group dan Prosus Ventures.
Layanan yang ditawarkan Deccan AI sangat krusial di tengah tren pengembangan AI saat ini. Melansir data industri, meskipun laboratorium AI garis depan seperti OpenAI dan Anthropic membangun model inti secara internal, sebagian besar pekerjaan pasca-pelatihan—mulai dari pembuatan data hingga evaluasi dan Reinforcement Learning—semakin banyak dialihdayakan ke pihak ketiga demi memastikan sistem tersebut reliabel saat digunakan di dunia nyata.
Fokus pada Kualitas dan Keahlian Spesifik
Didirikan pada Oktober 2024, Deccan AI menyediakan berbagai layanan yang membantu model meningkatkan kemampuan coding, kapabilitas AI Agent, hingga melatih sistem untuk berinteraksi dengan alat eksternal melalui API. Startup ini juga membantu pengembangan sistem yang melampaui teks, seperti World Models yang memahami lingkungan fisik untuk kebutuhan robotika dan sistem visi.
Founder Deccan AI, Rukesh Reddy, menyatakan bahwa startupnya saat ini memiliki sekitar 125 karyawan tetap dengan dukungan jaringan lebih dari 1 juta kontributor. Dari jumlah tersebut, sekitar 5.000 hingga 10.000 kontributor aktif setiap bulannya, yang terdiri dari mahasiswa, pakar domain, hingga pemegang gelar PhD.
"Kualitas tetap menjadi tantangan yang belum terselesaikan," ujar Reddy. Ia menekankan bahwa toleransi terhadap kesalahan dalam tahap pasca-pelatihan mendekati nol, karena kesalahan kecil dapat langsung berdampak negatif pada performa model dalam produksi. Oleh karena itu, Deccan AI lebih memilih mengonsentrasikan tenaga kerjanya di India untuk mempermudah kontrol kualitas dibandingkan kompetitor yang tersebar di ratusan negara.
Persaingan di Pasar Pelatihan AI
Deccan AI kini bersaing ketat dengan pemain besar seperti Scale AI milik Meta, serta startup lain seperti Turing dan Mercor. Sektor ini sempat mendapat kritik terkait kondisi kerja dan upah pekerja kontrak. Namun, Reddy mengklaim bahwa penghasilan di platform Deccan AI berkisar antara US$10 hingga US$700 per jam, dengan kontributor papan atas bisa mengantongi hingga US$7.000 per bulan.
Saat ini, Deccan AI telah melayani sekitar 10 pelanggan korporat besar, dengan 80% pendapatan berasal dari lima klien teratas, termasuk Google DeepMind dan Snowflake. Ini mencerminkan betapa terkonsentrasinya pasar AI garis depan saat ini pada beberapa pemain kunci.
Dampak bagi Indonesia
Suntikan dana sebesar US$25 juta (setara Rp395,2 miliar) bagi Deccan AI menunjukkan bahwa bisnis penyediaan data berkualitas tinggi merupakan tulang punggung ekonomi Generative AI. Bagi Indonesia, fenomena ini memberikan dua dampak strategis:
- Potensi Ekonomi Gig High-Skill: Indonesia memiliki peluang besar untuk mengikuti jejak India dengan menggerakkan lulusan universitas dan pakar lokal untuk menjadi kontributor pelatih model AI, khususnya dalam pengembangan LLM berbahasa daerah atau konteks budaya lokal yang belum terakomodasi oleh model global.
- Standarisasi Data Lokal: Perusahaan teknologi di Indonesia yang sedang mengadopsi Cloud Computing dan AI perlu mulai mempertimbangkan investasi pada layanan evaluasi pihak ketiga untuk memastikan AI Agent mereka aman dan minim halusinasi sebelum diluncurkan ke publik.
- Investasi Infrastruktur: Pertumbuhan startup pelatihan AI akan mendorong permintaan akan Data Center dan GPU lokal yang lebih masif untuk memproses dataset besar secara efisien di dalam negeri.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


