Ad space available
Data Pokémon Go Digunakan untuk Latih Robot Pengantar Pizza yang Presisi
Niantic Spatial memanfaatkan 30 miliar citra hasil crowdsourcing pemain Pokémon Go untuk melatih model dunia baru bagi robot. Teknologi ini memungkinkan navigasi robot pengantar barang mencapai akurasi sentimeter di area yang sulit terjangkau GPS.

Data Pokémon Go Bantu Robot Pengantar Pizza Bernavigasi dengan Akurasi Tinggi
CAMBRIDGE, (10 Maret 2026)
- Niantic Spatial menggunakan 30 miliar gambar dari pemain Pokémon Go untuk membangun world model yang melatih kecerdasan navigasi robot.
- Teknologi Visual Positioning System (VPS) memberikan akurasi lokasi hingga hitungan sentimeter, melampaui kemampuan GPS di area perkotaan yang padat.
- Coco Robotics menjadi mitra pertama yang mengadopsi teknologi ini untuk 1.000 robot pengantar makanan di Amerika Serikat dan Eropa.
Pokémon Go merupakan fenomena Augmented Reality (AR) pertama di dunia yang sukses besar sejak dirilis pada 2016. Melansir laporan dari MIT Technology Review, Niantic Spatial—perusahaan AI hasil spin-off dari Niantic—kini memanfaatkan basis data visual raksasa dari gim tersebut untuk melatih world model terbaru. Teknologi ini bertujuan memberikan pemahaman spasial yang mendalam bagi robot agar dapat bernavigasi di dunia nyata dengan presisi tinggi.
Niantic Spatial menggunakan triliunan metadata dari foto-foto bangunan dan landmark yang diambil oleh ratusan juta pemain Pokémon Go. Data ini diolah menjadi produk yang mampu menentukan lokasi pengguna di peta dengan tingkat akurasi hingga beberapa sentimeter hanya berdasarkan beberapa cuplikan foto lingkungan sekitar. Fokus utamanya adalah membantu robot bergerak di area di mana sinyal GPS sering kali tidak dapat diandalkan.
Dari Pikachu ke Pengiriman Pizza
Dalam uji coba skala besar pertamanya, Niantic Spatial bermitra dengan Coco Robotics, sebuah startup yang mengoperasikan sekitar 1.000 robot pengantar barang berukuran koper di berbagai kota seperti Los Angeles hingga Helsinki. Robot-robot ini dirancang untuk membawa hingga delapan pizza ukuran ekstra besar atau empat kantong belanjaan.
CEO Coco Robotics, Zach Rash, menjelaskan bahwa masalah utama robot di kota besar adalah "ngarai urban" (urban canyon), di mana sinyal GPS memantul dari gedung-gedung tinggi dan menyebabkan pergeseran posisi hingga 50 meter. "Akurasi sangat krusial agar robot sampai tepat waktu di depan pintu pelanggan, bukan di blok yang salah," ujar Rash.
Niantic Spatial melatih modelnya menggunakan 30 miliar gambar yang terfokus pada titik-titik populer (seperti PokeGym atau PokeStop). Data ini mencakup berbagai sudut pandang, kondisi pencahayaan, dan cuaca yang berbeda, lengkap dengan metadata posisi ponsel saat gambar diambil. Hasilnya, robot dapat memahami lingkungan layaknya manusia yang mengenali jalan berdasarkan pandangan mata, sebuah sistem yang dikenal sebagai Visual Positioning System.
Masa Depan Peta untuk Mesin
Menurut John Hanke, CEO Niantic Spatial, perkembangan ini merupakan bagian dari ledakan evolusi robotika. Jika sebelumnya data AR ditujukan untuk kacamata pintar, kini robot menjadi audiens utama yang membutuhkan pemahaman spasial serupa manusia. Niantic bertujuan menciptakan "peta hidup" yang merupakan simulasi virtual dunia secara hiper-detail.
Berbeda dengan Generative AI atau LLM yang mungkin kurang memahami logika fisik lingkungan, world model dari Niantic berupaya merekonstruksi dunia nyata secara akurat. Ke depannya, peta tidak lagi hanya berupa titik koordinat untuk manusia, tetapi menjadi buku panduan deskriptif bagi mesin untuk memahami objek apa yang sedang mereka lihat di jalanan.
Dampak bagi Indonesia
Implementasi teknologi Visual Positioning System berbasis data crowdsourcing ini memiliki potensi besar di Indonesia, terutama di kota metropolitan seperti Jakarta. Kawasan perkantoran padat seperti Sudirman atau Kuningan sering kali menjadi titik lemah navigasi GPS karena terhalang gedung pencakar langit.
Bagi sektor logistik dan pengiriman makanan lokal (seperti Gojek atau Grab), teknologi ini bisa meningkatkan efisiensi pengiriman "mil terakhir" (last-mile delivery). Jika robot pengantar mulai diadopsi di Indonesia, akurasi sentimeter akan memastikan robot tidak tersesat di gang-gang sempit atau salah berhenti di depan gerbang gedung yang luas. Selain itu, komunitas pemain Pokémon Go di Indonesia yang sangat aktif dapat menjadi kontributor data visual yang berharga untuk memetakan kawasan lokal secara lebih detail dalam format 3D Map atau Digital Twin.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


