Advertisement

Ad space available

Berita AI

CPO Anthropic Mundur dari Board Figma, Sinyal Persaingan Alat Desain AI?

Mike Krieger resmi meninggalkan dewan direksi Figma di tengah laporan bahwa Anthropic akan meluncurkan fitur desain AI pada model Opus 4.7. Langkah ini memicu spekulasi persaingan langsung antara lab AI dan penyedia SaaS.

Tim Rekayasa AI
Penulis
16 April 2026
4 min read
#Anthropic#Figma#Generative AI#SaaS#Mike Krieger
CPO Anthropic Mundur dari Board Figma, Sinyal Persaingan Alat Desain AI?

CPO Anthropic Mundur dari Board Figma, Sinyal Persaingan Alat Desain AI?

SAN FRANCISCO, (16 APRIL 2026)

Key Takeaway
  • Mike Krieger (CPO Anthropic) resmi mengundurkan diri dari dewan direksi Figma setelah menjabat kurang dari satu tahun.
  • Laporan menyebutkan model AI terbaru Anthropic, Opus 4.7, akan menyertakan fitur desain yang bersaing langsung dengan Figma.
  • Fenomena ini memperkuat ketakutan pasar akan "SAASpocalypse", di mana model AI besar mulai menginvasi vertikal perangkat lunak spesifik.

Melansir laporan dari TechCrunch, Mike Krieger, yang menjabat sebagai Chief Product Officer (CPO) di Anthropic, telah resmi mengundurkan diri dari dewan direksi perusahaan desain antarmuka, Figma, pada 14 April lalu.

Langkah pengunduran diri ini diungkapkan kepada U.S. Securities and Exchange Commission (SEC) oleh Figma, sebuah perusahaan publik dengan valuasi mencapai US$10 miliar. Kepergian Krieger terjadi pada hari yang sama ketika The Information melaporkan bahwa model AI berikutnya dari Anthropic, yakni Opus 4.7, akan mencakup design tools yang berpotensi menjadi pesaing utama bagi produk inti Figma.

Figma dikenal luas sebagai platform utama bagi para desainer User Experience (UX) untuk membangun antarmuka situs web dan aplikasi. Sebelumnya, Figma telah bekerja sama erat dengan Anthropic untuk mengintegrasikan model AI ke dalam produk mereka sebagai asisten bagi pengguna.

Krieger, yang juga merupakan co-founder Instagram dan aplikasi berita berbasis AI, Artifact, bergabung dengan Anthropic sebagai eksekutif produk tertinggi pada tahun 2024. Ia baru bergabung dengan dewan direksi Figma kurang dari setahun yang lalu.

Ancaman "SAASpocalypse"

Kepergian Krieger dan potensi hadirnya alat desain dari Anthropic menjadi data baru bagi investor yang mengkhawatirkan fenomena "SAASpocalypse". Ini adalah tesis di mana laboratorium AI terbesar akan mendominasi bisnis perangkat lunak tradisional, sebuah teori yang sempat mengguncang pasar publik tahun ini. Sebagai gambaran, ETF perangkat lunak utama iShares, IGV, telah turun hampir 18% sepanjang tahun ini.

Di sisi lain, Anthropic saat ini berada di posisi yang sangat kuat. Perusahaan dikabarkan mulai menolak tawaran investor yang ingin membeli saham dengan valuasi mencapai US$800 miliar—lebih dari dua kali lipat valuasi mereka pada awal tahun.

Meski demikian, perusahaan seperti Anthropic dan OpenAI masih harus membuktikan apakah model AI mereka yang sangat kapabel benar-benar dapat mereplikasi pengalaman domain dan hubungan pelanggan yang telah dibangun oleh brand perangkat lunak mapan seperti Figma. Saham Figma sendiri tercatat naik 5% sejak kepergian Krieger diumumkan, meskipun pasar masih menunggu peluncuran resmi Opus 4.7 untuk melihat dampak sebenarnya.

Dampak bagi Indonesia

Langkah Anthropic ini memiliki implikasi signifikan bagi ekosistem digital di Indonesia:

  1. Workflow Desainer UI/UX: Figma adalah standar industri di banyak startup dan agensi desain di Indonesia. Jika Anthropic merilis alat desain yang terintegrasi langsung dengan LLM mereka, desainer lokal mungkin akan beralih ke alur kerja yang lebih berbasis Prompt Engineering daripada manipulasi visual manual.
  2. Biaya Langganan Software: Perusahaan di Indonesia yang saat ini membayar biaya langganan Figma Pro (sekitar Rp180.000 - Rp220.000 per bulan per editor) mungkin akan meninjau kembali pengeluaran mereka jika fitur serupa tersedia dalam paket langganan AI mereka (seperti Claude Pro).
  3. Persaingan Talenta AI: Perpindahan Krieger menunjukkan betapa berharganya talenta yang memahami irisan antara produk konsumen dan Generative AI. Ini dapat memicu tren serupa di Indonesia, di mana perusahaan SaaS lokal harus mulai mengintegrasikan AI secara mendalam atau berisiko kehilangan pasar.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin