Ad space available
CEO Read AI & Lucidya: AI Takkan Ganti Peran Manusia, Hanya Otomatisasi Tugas
Para pemimpin startup di Web Summit Qatar menegaskan bahwa AI hanya akan mengambil alih tugas repetitif, bukan menggantikan peran manusia secara keseluruhan. Fokus utama kini beralih pada kemampuan talenta 'AI native' dalam meningkatkan produktivitas.

CEO Read AI & Lucidya: AI Takkan Ganti Peran Manusia, Hanya Otomatisasi Tugas
DOHA, (19 FEBRUARI 2026)
- AI dipandang sebagai alat navigasi (seperti Waze) di mana kendali akhir tetap berada di tangan manusia untuk pengambilan keputusan strategis.
- Teknologi ini berfokus pada otomatisasi tugas (tasks), bukan peran (roles), sehingga pekerja dapat beralih ke tanggung jawab yang lebih produktif.
- Perusahaan teknologi kini memprioritaskan perekrutan talenta AI native untuk mencapai skala bisnis tanpa harus menambah headcount secara masif.
Seiring dengan meningkatnya valuasi dan penggunaan teknologi AI, debat mengenai potensi teknologi ini menggantikan pekerjaan manusia terus memanas. Mengutip laporan dari TechCrunch, para CEO startup ternama justru memberikan perspektif optimis bahwa AI tidak akan menghapus peran manusia, melainkan mentransformasi tugas-tugas di dalamnya.
David Shim, CEO dari perusahaan meeting notetaker dan intelligence, Read AI, menyatakan dalam ajang Web Summit Qatar bahwa manusia akan selalu memegang peranan krusial sebagai penentu keputusan. Melansir data dari diskusinya, ia menyamakan peran AI dengan penggunaan aplikasi navigasi saat berkendara.
“Saya pikir akan selalu ada manusia di tengahnya,” ujar Shim. “Pekerjaan akan menjadi lebih mudah seiring berjalannya waktu. Contoh yang baik adalah menyetir mobil. Dulu kita menggunakan peta fisik dan memutuskan sendiri arahnya. Sekarang semua orang menggunakan Waze atau Google Maps, dan peta itu memberi tahu ke mana harus pergi. Namun, Anda tetaplah manusia yang memutuskan apa yang terjadi.”
Transformasi Tugas Bukan Penggantian Peran
Abdullah Asiri, pendiri startup customer support tooling berbasis AI, Lucidya, juga menekankan bahwa AI hanya akan menggantikan tugas (tasks), bukan peran (roles). Ia mengungkapkan bahwa klien Lucidya sering kali mendapati agen customer support mereka beralih fungsi menjadi supervisor yang memandu AI Agent, atau fokus pada pembangunan relasi dan pengembangan bisnis menggunakan waktu yang berhasil dihemat.
Read AI sendiri telah membuktikan efisiensi ini. Tim customer service mereka hanya terdiri dari lima orang namun mampu melayani jutaan pengguna bulanan. Dengan menggunakan alat AI yang terintegrasi ke sistem CRM seperti HubSpot dan Salesforce, mereka mampu memprediksi status kesepakatan bisnis secara akurat. Shim mengeklaim bahwa sistem ini telah menyetujui kesepakatan senilai $200 juta (sekitar Rp3,1 triliun) dengan konteks data yang 23% lebih kaya dibanding proses manual.
Kebutuhan Talenta AI Native
Strategi ke depan bagi banyak perusahaan teknologi adalah menjaga tim tetap ramping namun sangat produktif. Asiri mencatat bahwa perusahaannya ingin mencapai hasil skala besar tanpa harus menambah jumlah karyawan (scale outcomes without scaling headcounts).
Oleh karena itu, permintaan akan talenta AI native—individu yang mahir menggunakan berbagai alat AI untuk mempercepat pekerjaan—semakin meningkat. Asiri menekankan bahwa kemampuan untuk membangun agents yang dapat membantu tugas sehari-hari akan menjadi nilai tawar tinggi bagi para pencari kerja di masa depan.
Dampak bagi Indonesia
Transformasi ini membawa implikasi signifikan bagi lanskap industri di Indonesia, khususnya di sektor layanan pelanggan dan startup. Perusahaan lokal dapat mengadopsi teknologi meeting notetaker dan AI Agent untuk meningkatkan produktivitas tim yang ramping, mengingat biaya operasional yang semakin kompetitif.
Bagi tenaga kerja di Indonesia, tren ini menuntut percepatan literasi digital menuju level AI native. Penguasaan terhadap Generative AI dan Prompt Engineering bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan pokok untuk tetap relevan di pasar kerja. Selain itu, regulasi terkait privasi data dalam penggunaan AI di ruang rapat digital juga diprediksi akan menjadi fokus perhatian pemerintah guna melindungi kerahasiaan informasi perusahaan di tanah air.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


