Advertisement

Ad space available

Berita AI

CEO Patreon: Argumen 'Fair Use' Perusahaan AI Itu Omong Kosong

CEO Patreon Jack Conte menegaskan bahwa perusahaan AI wajib membayar kreator atas penggunaan karya mereka sebagai data pelatihan. Ia menyebut argumen 'fair use' tidak konsisten karena perusahaan AI sudah membayar lisensi kepada penerbit besar.

Tim Rekayasa AI
Penulis
18 Maret 2026
4 min read
#Patreon#Generative AI#Fair Use#Ekonomi Kreator#Jack Conte
CEO Patreon: Argumen 'Fair Use' Perusahaan AI Itu Omong Kosong

CEO Patreon: Argumen 'Fair Use' Perusahaan AI Itu Omong Kosong

AUSTIN, (18 Maret 2026)

Key Takeaway
  • CEO Patreon, Jack Conte, menyebut dalih fair use oleh perusahaan AI sebagai argumen yang tidak sah (bogus).
  • Perusahaan AI terbukti membayar lisensi kepada penerbit besar (seperti Disney dan Warner Music), namun mengabaikan hak jutaan kreator individu.
  • Conte mendesak adanya model kompensasi yang adil bagi musisi, penulis, dan ilustrator yang karyanya digunakan untuk melatih LLM.

CEO Patreon, Jack Conte, menyatakan dengan tegas bahwa dirinya tidak anti-AI, namun ia menuntut keadilan bagi para kreator. Melansir laporan dari TechCrunch, dalam konferensi SXSW di Austin pekan ini, pendiri platform kreator tersebut menyatakan bahwa perusahaan AI tidak seharusnya melatih model mereka menggunakan karya kreator tanpa memberikan kompensasi.

Conte menyebut keputusan perusahaan teknologi untuk melabeli penggunaan data tersebut sebagai fair use adalah argumen yang "omong kosong" (bogus). Menurutnya, integritas argumen tersebut runtuh ketika perusahaan-perusahaan AI yang sama justru bersedia membayar kontrak jutaan dolar kepada pemegang hak cipta besar.

"Perusahaan AI mengklaim fair use, tapi argumen ini tidak berdasar," ujar Conte sambil membacakan manifestonya. "Ini tidak masuk akal karena sementara mereka mengklaim adil untuk menggunakan karya kreator sebagai training data, mereka justru melakukan kesepakatan bernilai jutaan dolar dengan pemegang hak cipta dan penerbit seperti Disney, Condé Nast, Vox, dan Warner Music."

Ia menambahkan sebuah pertanyaan retoris: "Jika secara hukum diperbolehkan untuk menggunakannya begitu saja, mengapa mereka membayar perusahaan besar tersebut? Mengapa membayar mereka tetapi tidak membayar jutaan ilustrator, musisi, dan penulis yang karyanya dikonsumsi oleh model ini untuk membangun nilai ratusan miliar dolar bagi perusahaan AI?"

Meskipun mengkritik praktik tersebut, Conte yang juga merupakan seorang musisi menekankan bahwa ia menerima keniscayaan perubahan teknologi. Ia melihat AI sebagai siklus disrupsi berikutnya, serupa dengan transisi dari iTunes ke era streaming atau pergeseran video ke format vertikal seperti TikTok. Baginya, tantangannya adalah memastikan bahwa di masa depan, para seniman tetap memiliki tempat dan dihargai secara ekonomi.

Dampak bagi Indonesia

Isu ini memiliki relevansi tinggi bagi komunitas kreatif di Indonesia yang semakin masif menggunakan platform monetisasi seperti Patreon atau platform lokal serupa seperti KaryaKarsa dan Saweria. Jika argumen fair use terus digunakan secara sepihak oleh perusahaan AI global, kreator Indonesia berisiko kehilangan potensi pendapatan dari karya digital mereka yang diambil untuk melatih Generative AI tanpa izin.

Secara ekonomi, nilai ratusan miliar dolar AS yang disinggung Conte (setara dengan ribuan triliun Rupiah) menunjukkan betapa besarnya valuasi yang dibangun di atas data publik. Bagi regulator di Indonesia, hal ini memperkuat urgensi pembahasan mengenai perlindungan hak cipta dalam ekosistem Cloud Computing dan AI, agar talenta lokal tidak hanya menjadi penyedia data gratis bagi LLM luar negeri, tetapi juga mendapatkan kompensasi yang layak.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin