Ad space available
CEO Anthropic Lobi Ulang Pentagon Soal Kontrak AI Rp3,1 Triliun
Dario Amodei berupaya menghidupkan kembali kesepakatan AI senilai $200 juta dengan Pentagon setelah sempat terhenti karena isu etika. Perselisihan ini memicu ketegangan baru antara Anthropic dan OpenAI di sektor pertahanan.

CEO Anthropic Lobi Ulang Pentagon Soal Kontrak AI Rp3,1 Triliun
SAN FRANCISCO, (5 Maret 2026)
- Dario Amodei mencoba menghidupkan kembali kesepakatan $200 juta dengan Pentagon setelah sebelumnya ditolak karena isu privasi dan kendali akses.
- Konflik berpusat pada tuntutan militer untuk akses tanpa batas ke model AI, yang dianggap Anthropic melanggar prinsip keamanan perusahaan.
- Pentagon sempat beralih ke OpenAI, memicu persaingan tajam dan ancaman label 'risiko rantai pasokan' terhadap Anthropic oleh pejabat AS.
CEO Anthropic, Dario Amodei, dikabarkan tengah melakukan upaya diplomatik intensif untuk memenangkan kembali kontrak senilai $200 juta (sekitar Rp3,1 triliun) dengan Departemen Pertahanan AS (Pentagon). Langkah ini diambil setelah negosiasi sebelumnya menemui jalan buntu akibat persyaratan ketat terkait etika penggunaan kecerdasan buatan dalam operasi militer.
Konflik Prinsip Keamanan AI
Awal ketegangan bermula saat Pentagon menuntut akses tanpa batas (unrestricted access) ke model AI milik Anthropic. Amodei secara tegas menolak, dengan alasan bahwa teknologi tersebut tidak boleh digunakan untuk pengawasan massal domestik atau pengembangan senjata otonom. Ketegasan ini membuat Pentagon sempat mengalihkan fokus mereka kepada kompetitor utama, OpenAI, yang dianggap lebih fleksibel dalam mengikuti persyaratan militer.
Namun, transisi ke OpenAI ternyata tidak berjalan mulus karena sebagian infrastruktur teknologi militer yang sudah berjalan telah terintegrasi dengan sistem Anthropic. Hal ini memberikan celah bagi Amodei untuk kembali ke meja perundingan dengan tawaran protokol keamanan yang lebih kompromistis namun tetap menjaga garis etika perusahaan.
Tuduhan "Safety Theater" dan Risiko Blacklist
Persaingan ini semakin memanas setelah bocornya memo internal yang menunjukkan kritik pedas Amodei terhadap OpenAI. Ia menyebut kerja sama OpenAI dengan militer sebagai bentuk "safety theater"—sebuah tindakan yang seolah-olah peduli keamanan demi kepentingan bisnis. Amodei menuduh bahwa OpenAI mengabaikan risiko jangka panjang demi memenangkan kontrak pemerintah yang menguntungkan.
Di sisi lain, pejabat Pentagon sempat mengancam akan memasukkan Anthropic ke dalam daftar "risiko rantai pasokan" (supply-chain risk). Jika ancaman ini terealisasi, Anthropic bisa dilarang beroperasi dengan entitas mana pun yang memiliki kontrak dengan militer AS, sebuah langkah drastis yang biasanya hanya ditujukan untuk perusahaan dari negara-negara yang dianggap sebagai ancaman keamanan nasional.
Implikasi Bagi Industri Global
Dinamika ini menunjukkan betapa besarnya pengaruh AI dalam sektor pertahanan global saat ini. Bagi Indonesia, perselisihan ini menjadi pelajaran penting mengenai kedaulatan data dan etika AI. Penggunaan teknologi asing dalam sektor strategis memerlukan regulasi yang kuat agar prinsip keamanan negara tidak bertabrakan dengan kebijakan internal penyedia teknologi global.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


