Ad space available
CEO Anthropic Sebut Klaim OpenAI Soal Kontrak Militer Sebagai 'Kebohongan'
CEO Anthropic, Dario Amodei, mengecam keras kesepakatan OpenAI dengan militer AS sebagai 'safety theater'. Ia menuding klaim perlindungan teknis Sam Altman sebagai kebohongan terang-terangan.

CEO Anthropic Sebut Klaim OpenAI Soal Kontrak Militer Sebagai 'Kebohongan'
SAN FRANCISCO, (4 Maret 2026)
- CEO Anthropic, Dario Amodei, menuding OpenAI melakukan "kebohongan terang-terangan" terkait klaim perlindungan teknis dalam kontrak militer dengan Pentagon.
- Anthropic melepaskan kontrak senilai $200 juta (Rp3,1 triliun) demi prinsip keamanan AI, menolak penggunaan teknologi untuk surveilans massal atau senjata otonom.
- Sentimen negatif publik terhadap OpenAI meningkat drastis, ditandai dengan lonjakan penghapusan instalasi (uninstall) ChatGPT sebesar 295%.
Ketegangan antara dua raksasa Artificial Intelligence (AI) dunia mencapai titik baru. Mengutip laporan dari TechCrunch yang bersumber dari The Information, CEO Anthropic, Dario Amodei, melontarkan kritik tajam terhadap bos OpenAI, Sam Altman. Amodei menyebut pesan yang disampaikan OpenAI terkait kesepakatan militer dengan Departemen Pertahanan AS (DoD) sebagai "kebohongan terang-terangan" (straight up lies).
Dalam sebuah memo internal kepada stafnya, Amodei melabeli langkah OpenAI sebagai "safety theater" atau drama keamanan semata. Melansir data perselisihan tersebut, Anthropic sebelumnya diketahui melepaskan kontrak senilai $200 juta (sekitar Rp3,1 triliun) dengan Pentagon setelah gagal mencapai kesepakatan mengenai batasan penggunaan teknologi mereka.
Prinsip Keamanan vs Ekspansi Pasar
Anthropic bersikeras agar Pentagon memberikan jaminan bahwa teknologi mereka tidak akan digunakan untuk memfasilitasi surveilans massal domestik atau pengembangan senjata otonom. Namun, pihak militer menolak persyaratan tersebut dan justru beralih ke OpenAI. Sam Altman kemudian mengumumkan bahwa OpenAI telah mencapai kesepakatan dengan protokol perlindungan yang diklaim serupa dengan apa yang diajukan Anthropic.
Amodei membantah klaim Altman tersebut. Ia menyatakan bahwa OpenAI hanya berupaya menenangkan karyawan mereka tanpa benar-benar peduli pada pencegahan penyalahgunaan teknologi. "Alasan utama [OpenAI] menerima kesepakatan itu dan kami tidak, adalah karena mereka peduli untuk menyenangkan karyawan, sementara kami benar-benar peduli untuk mencegah penyalahgunaan," tulis Amodei dalam memonya.
Kritik ini muncul setelah OpenAI menyatakan dalam sebuah blog post bahwa kontrak mereka memungkinkan penggunaan AI untuk "semua tujuan yang sah secara hukum." Namun, para kritikus menunjukkan bahwa standar hukum bersifat fleksibel dan apa yang dianggap ilegal saat ini bisa saja dilegalkan di masa depan.
Reaksi Publik dan Penurunan Pengguna
Tindakan OpenAI ini tampaknya tidak diterima dengan baik oleh masyarakat luas. Data menunjukkan bahwa angka uninstall ChatGPT melonjak drastis hingga 295% segera setelah kesepakatan dengan Pentagon diumumkan. Sebaliknya, Anthropic justru melihat peningkatan popularitas, dengan aplikasi Claude naik ke posisi kedua di App Store.
Amodei meyakini bahwa upaya gaslighting yang dilakukan OpenAI tidak berhasil meyakinkan publik maupun media. Bagi Amodei, posisi Anthropic sebagai pihak yang mempertahankan prinsip etika telah menjadikan mereka dipandang lebih positif oleh pengguna yang sadar akan risiko keamanan AI.
Dampak bagi Indonesia
Perselisihan etika antara Anthropic dan OpenAI ini memiliki relevansi penting bagi lanskap teknologi di Indonesia:
- Etika AI dalam Korporasi: Perusahaan dan fintech di Indonesia yang mulai mengadopsi Generative AI atau LLM perlu lebih selektif dalam memilih penyedia layanan. Integritas penyedia teknologi dalam menjaga kerahasiaan data dari kepentingan militer asing dapat menjadi faktor penentu bagi kepercayaan konsumen lokal.
- Kedaulatan Data Nasional: Kontrak senilai Rp3,1 triliun yang dilepaskan Anthropic menekankan pentingnya prinsip keamanan di atas keuntungan. Hal ini dapat mendorong regulator di Indonesia untuk memperkuat implementasi UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) terkait penggunaan AI oleh pihak ketiga.
- Sentimen Pengguna: Lonjakan uninstall ChatGPT sebesar 295% menunjukkan bahwa pengguna global kini lebih sensitif terhadap isu etika. Pengguna di Indonesia kemungkinan akan mulai melirik alternatif AI Agent lain seperti Claude dari Anthropic jika isu transparansi ini terus memanas.
--- *Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join [Komunitas Rekayasa AI di Discord](https://discord.gg/s9jwwtXc6V) untuk diskusi lebih lanjut.*
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


