Ad space available
Atasi Bottleneck Daya AI Data Center, C2i Raih US$15 Juta dari Peak XV
C2i Semiconductors mengantongi pendanaan Seri A sebesar US$15 juta untuk mengembangkan solusi efisiensi energi pada infrastruktur AI skala besar. Teknologi ini diklaim mampu memangkas kehilangan daya hingga 10% saat dialirkan ke GPU.

Atasi Bottleneck Daya AI Data Center, C2i Raih US$15 Juta dari Peak XV
BENGALURU, (15 Februari 2026)
- Startup India C2i meraih pendanaan Seri A senilai US$15 juta (sekitar Rp235 miliar) yang dipimpin oleh Peak XV Partners untuk mengatasi krisis efisiensi daya pada Data Center AI.
- Teknologi grid-to-GPU milik C2i dirancang untuk memangkas kerugian energi hingga 10%, atau setara dengan penghematan 100 kilowatt untuk setiap megawatt yang dikonsumsi.
- Permintaan daya Data Center global diprediksi melonjak hingga 175% pada tahun 2030, menjadikan manajemen energi sebagai faktor penentu profitabilitas infrastruktur AI.
Ketersediaan daya, bukan lagi sekadar kapasitas komputasi, kini menjadi faktor pembatas utama dalam penskalaan Data Center AI secara global. Mengutip laporan dari TechCrunch oleh Jagmeet Singh, pergeseran tren ini mendorong Peak XV Partners untuk menyuntikkan modal ke C2i Semiconductors, sebuah startup asal India yang membangun solusi daya tingkat sistem plug-and-play untuk mengurangi pemborosan energi pada infrastruktur AI.
C2i (singkatan dari control conversion and intelligence) berhasil meraih US$15 juta dalam putaran pendanaan Seri A yang dipimpin oleh Peak XV Partners, dengan partisipasi dari Yali Deeptech dan TDK Ventures. Total pendanaan startup yang baru berusia dua tahun ini kini mencapai US$19 juta.
Masalah Efisiensi pada Konversi Tegangan Tinggi
Investasi ini datang di tengah akselerasi permintaan energi Data Center di seluruh dunia. Berdasarkan laporan BloombergNEF pada Desember 2025, konsumsi listrik Data Center diproyeksikan meningkat hampir tiga kali lipat pada tahun 2035. Sementara itu, Goldman Sachs Research memperkirakan permintaan daya bisa melonjak 175% pada tahun 2030 dibandingkan level tahun 2023—setara dengan menambah satu negara baru dalam daftar 10 besar konsumen listrik dunia.
Masalah utamanya bukan hanya pada pembangkitan listrik, melainkan efisiensi konversi di dalam Data Center. Listrik bertegangan tinggi harus diturunkan ribuan kali sebelum mencapai GPU. Proses ini saat ini membuang sekitar 15% hingga 20% energi dalam bentuk panas.
"Apa yang dulunya 400 volt telah berpindah ke 800 volt, dan kemungkinan akan lebih tinggi lagi," kata Preetam Tadeparthy, Co-founder dan CTO C2i. Dengan merancang pengiriman daya sebagai satu sistem terintegrasi dari bus Data Center langsung ke prosesor, C2i mengestimasi dapat memangkas kerugian tersebut sekitar 10%.
Strategi Komersialisasi dan Ekosistem Semiconductor
Didirikan pada tahun 2024 oleh para mantan eksekutif daya dari Texas Instruments, C2i menargetkan desain Silicon pertama mereka akan selesai diproduksi (tape-out) antara April hingga Juni mendatang. Setelah itu, mereka berencana melakukan validasi performa dengan operator Data Center dan Hyperscaler.
Bagi Peak XV Partners, daya tarik utama C2i terletak pada aspek ekonomi infrastruktur AI. Rajan Anandan, Managing Director Peak XV, menjelaskan bahwa biaya energi menjadi pengeluaran berkelanjutan (OPEX) yang paling dominan bagi Data Center. "Jika Anda dapat mengurangi biaya energi sebesar 10 hingga 30%, itu adalah angka yang sangat besar—kita berbicara tentang puluhan miliar dolar," ungkapnya.
Anandan juga menyoroti kematangan ekosistem desain Semiconductor di India yang mulai menunjukkan taringnya di kancah global, menyamakannya dengan kondisi sektor e-commerce pada tahun 2008 yang sedang berada di titik awal pertumbuhan masif.
Dampak bagi Indonesia
Langkah C2i memberikan implikasi strategis bagi Indonesia yang saat ini sedang bertransformasi menjadi pusat Data Center regional, khususnya di wilayah Batam (Kawasan Ekonomi Khusus) dan Jakarta.
- Efisiensi Biaya Operasional: Dengan harga tarif listrik industri yang terus disesuaikan, teknologi efisiensi daya seperti yang dikembangkan C2i sangat krusial bagi penyedia Data Center di Indonesia untuk menjaga daya saing harga sewa rak server.
- Target Net Zero Emission: Indonesia berkomitmen pada target keberlanjutan. Teknologi yang mampu menghemat 100 kW per megawatt akan sangat membantu perusahaan teknologi di Indonesia memenuhi standar ESG (Environmental, Social, and Governance).
- Inspirasi Startup Lokal: Kesuksesan C2i menunjukkan bahwa peluang startup di sektor Deeptech dan Semiconductor sangat menjanjikan. Nilai pendanaan US$15 juta (Rp235 miliar) menjadi bukti bahwa investor global mulai melirik solusi perangkat keras (hardware) yang spesifik menyelesaikan masalah infrastruktur AI.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


