Advertisement

Ad space available

Berita AI

ByteDance Tunda Peluncuran Global Seedance 2.0 Akibat Masalah Hak Cipta

ByteDance menangguhkan rencana peluncuran global generator video AI Seedance 2.0 menyusul perselisihan hukum dengan studio Hollywood. Langkah ini diambil untuk memperkuat sistem perlindungan hak cipta sebelum ekspansi internasional.

Tim Rekayasa AI
Penulis
15 Maret 2026
3 min read
#ByteDance#Seedance 2.0#Generative AI#TikTok#Artificial Intelligence
ByteDance Tunda Peluncuran Global Seedance 2.0 Akibat Masalah Hak Cipta

ByteDance Tunda Peluncuran Global Seedance 2.0 Akibat Masalah Hak Cipta

SAN FRANCISCO, (15 Maret 2026)

Key Takeaway
  • ByteDance menangguhkan peluncuran global Seedance 2.0 yang semula dijadwalkan pada pertengahan Maret 2026.
  • Penundaan dipicu oleh ancaman hukum dari Disney dan studio Hollywood lainnya terkait penggunaan IP tanpa izin dalam konten video AI.
  • Tim pengembang kini fokus membangun sistem safeguards yang lebih ketat guna menghindari tuntutan pelanggaran hak cipta di masa depan.

ByteDance dilaporkan telah menghentikan sementara rencana untuk meluncurkan model video AI terbarunya secara global. Mengutip laporan dari The Information yang dilansir TechCrunch, perusahaan induk TikTok tersebut menunda ekspansi Seedance 2.0 karena para teknisi dan pengacara masih berupaya memitigasi risiko hukum yang lebih luas.

Seedance 2.0 pertama kali diperkenalkan di China pada Februari lalu. Model Generative AI ini sempat menjadi sorotan dunia setelah video buatan pengguna yang menampilkan Tom Cruise dan Brad Pitt viral di media sosial. Hal tersebut memicu reaksi keras dari industri film Amerika Serikat, di mana para sineas menganggap teknologi ini sebagai ancaman serius bagi masa depan industri kreatif.

Sejumlah studio besar, termasuk Disney, dikabarkan telah melayangkan surat peringatan (cease-and-desist) kepada ByteDance. Pengacara Disney bahkan menyebut tindakan ByteDance sebagai upaya pengambilan paksa terhadap Intellectual Property (IP) milik mereka. Menanggapi tekanan tersebut, ByteDance berjanji akan mengintegrasikan teknologi safeguards yang lebih kuat untuk memastikan model mereka tidak menyalahgunakan materi yang dilindungi hak cipta.

Penundaan ini terjadi di tengah masa transisi besar ByteDance di pasar Amerika Serikat, di mana perusahaan tersebut kini menjadi pemegang saham minoritas setelah proses spinoff operasional TikTok di AS. Hingga saat ini, ByteDance belum memberikan komentar resmi terkait durasi penundaan peluncuran global tersebut.

Dampak bagi Indonesia

Penundaan peluncuran global Seedance 2.0 membawa beberapa implikasi penting bagi pasar teknologi dan kreatif di Indonesia:

  1. Akses Terbatas bagi Kreator: Kreator konten di Indonesia yang menantikan alternatif dari Sora (OpenAI) harus menunggu lebih lama untuk mencoba alat produksi video berbasis Machine Learning ini secara resmi.
  2. Regulasi AI: Kasus ini kemungkinan akan mendorong pemerintah Indonesia melalui Kominfo untuk mempercepat perumusan regulasi terkait penggunaan Generative AI dan perlindungan hak cipta karya lokal agar kejadian serupa tidak merugikan seniman tanah air.
  3. Potensi Harga: Jika nantinya dirilis secara berlangganan, biaya akses Seedance 2.0 diperkirakan akan berada di kisaran Rp150.000 hingga Rp350.000 per bulan, menyesuaikan dengan standar harga layanan Cloud Computing dan AI premium di wilayah Asia Tenggara.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin