Advertisement

Ad space available

Berita AI

Bumble Hapus Fitur Swipe, Siapkan AI Agent untuk Revolusi Aplikasi Kencan

CEO Bumble, Whitney Wolfe Herd, mengonfirmasi akan menghapus fitur 'swipe' ikonik dan menggantinya dengan teknologi AI. Langkah ini diambil menyusul penurunan jumlah pengguna berbayar secara signifikan.

Tim Rekayasa AI
Penulis
7 Mei 2026
4 min read
#Bumble#Aplikasi Kencan#AI Agent#Whitney Wolfe Herd#Teknologi AI
Bumble Hapus Fitur Swipe, Siapkan AI Agent untuk Revolusi Aplikasi Kencan

Bumble Hapus Fitur Swipe, Siapkan AI Agent untuk Revolusi Aplikasi Kencan

SAN FRANCISCO, (7 Mei 2026)

Key Takeaway
  • Bumble secara resmi akan meninggalkan fitur swipe yang telah menjadi standar industri aplikasi kencan selama satu dekade terakhir.
  • Perusahaan melaporkan penurunan pengguna berbayar sebesar 21% secara year-on-year, memicu perombakan total ekosistem aplikasi.
  • Fokus baru Bumble akan tertuju pada integrasi AI Agent dan asisten kencan pintar bernama "Bee" untuk mempermudah koneksi antar pengguna.

Era menggeser layar atau swiping di aplikasi kencan tampaknya akan segera berakhir. Mengutip laporan dari TechCrunch, CEO Bumble, Whitney Wolfe Herd, menyatakan bahwa perusahaan akan segera mengucapkan selamat tinggal pada fitur swipe yang selama ini menjadi identitas utama aplikasi kencan sejak era 2010-an.

Melansir wawancara dengan Axios pada hari Kamis, Wolfe Herd menegaskan bahwa Bumble sedang bersiap untuk meluncurkan sesuatu yang ia yakini sebagai revolusi baru di kategori ini. "Kami akan mengucapkan selamat tinggal pada swipe dan menyambut sesuatu yang saya yakini akan merevolusi kategori ini," ujar Wolfe Herd.

Mengatasi Penurunan Pengguna Berbayar

Langkah berani untuk merombak total antarmuka aplikasi ini merupakan respons atas kinerja keuangan yang kurang memuaskan dalam beberapa kuartal terakhir. Bumble secara konsisten kehilangan pengguna berbayar. Pada kuartal pertama tahun ini, jumlah pengguna berbayar Bumble merosot sekitar 21% menjadi 3,2 juta, turun dari 4 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Redesain aplikasi ini dipandang sebagai intervensi serius untuk meyakinkan investor. Meski angka-angka menunjukkan penurunan, Wolfe Herd berkilah bahwa Bumble sedang melakukan "reset" sengaja terhadap basis anggotanya. Ia menekankan bahwa perusahaan kini memprioritaskan kualitas di atas kuantitas, dengan fokus pada anggota yang memiliki niat baik dan terlibat secara aktif.

Masa Depan Kencan Berbasis AI

Berdasarkan strategi yang dipaparkan, Bumble akan sangat mengandalkan teknologi Artificial Intelligence. Perusahaan saat ini sedang mengembangkan AI Agent khusus asisten kencan yang diberi nama "Bee". Wolfe Herd sebelumnya sering berkomentar bahwa Generative AI akan menjadi "penguat tenaga" (supercharger) bagi cinta dan hubungan.

Salah satu visi yang sempat ia lontarkan adalah masa depan di mana pengguna memiliki personal AI bots yang akan berkencan dengan AI bots milik orang lain untuk menentukan kecocokan sebelum pengguna asli bertemu. Namun, tantangan besar menanti karena tren menunjukkan bahwa Gen Z mulai bersikap negatif terhadap fitur AI yang terlalu mencolok dan mendominasi interaksi personal.

Perombakan besar-besaran aplikasi Bumble ini diperkirakan baru akan diluncurkan pada kuartal terakhir tahun 2026. Hingga saat itu, pengguna masih akan tetap menggunakan fitur swipe seperti biasa.

Dampak bagi Indonesia

Perubahan drastis pada Bumble ini diprediksi akan memberikan dampak signifikan bagi pasar aplikasi kencan di Indonesia, mengingat Bumble adalah salah satu platform paling populer bagi kaum urban dan Gen Z di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

  1. Perubahan Perilaku Pengguna: Pengguna di Indonesia yang sudah terbiasa dengan mekanisme swipe harus beradaptasi dengan sistem kurasi berbasis AI. Jika fitur ini mewajibkan biaya tambahan, pengguna di Indonesia mungkin akan lebih selektif. Saat ini, harga langganan Bumble Premium di Indonesia berkisar antara Rp150.000 hingga Rp450.000 per bulan; perubahan fitur ini kemungkinan akan diikuti dengan penyesuaian harga paket baru.
  2. Keamanan dan Privasi: Penggunaan AI Agent untuk "berkencan atas nama pengguna" mungkin akan memicu kekhawatiran privasi data di Indonesia, terutama terkait bagaimana Machine Learning mengelola preferensi pribadi pengguna sesuai dengan regulasi UU Pelindungan Data Pribadi (UU PDP).
  3. Dating App Fatigue: Di tengah tren dating app fatigue (kelelahan aplikasi kencan) yang mulai melanda anak muda Indonesia, inovasi AI ini bisa menjadi pedang bermata dua—entah mempermudah pencarian pasangan atau justru membuat interaksi terasa kurang manusiawi.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin