Ad space available
Barry Diller: Kepercayaan pada Sam Altman Tak Relevan Saat AGI Mendekat
Miliarder Barry Diller membela Sam Altman namun memperingatkan bahwa kepercayaan personal tidak cukup untuk menghadapi risiko AGI yang tak terprediksi.

Barry Diller: Kepercayaan pada Sam Altman Tak Relevan Saat AGI Mendekat
SAN FRANCISCO, (6 Mei 2026)
- Miliarder Barry Diller menyatakan dukungannya terhadap integritas Sam Altman meskipun ada kritik mengenai gaya kepemimpinannya di OpenAI.
- Diller berpendapat bahwa faktor kepercayaan menjadi tidak relevan karena AGI merupakan kekuatan yang sulit diprediksi, bahkan oleh para pengembangnya.
- Diperlukan implementasi guardrails yang ketat secara cepat sebelum AGI berkembang menjadi kekuatan mandiri yang tidak bisa dikendalikan manusia.
Mengutip laporan dari TechCrunch yang ditulis oleh Sarah Perez, miliarder media Barry Diller memberikan pembelaan terhadap CEO OpenAI, Sam Altman, di tengah berbagai laporan yang mempertanyakan integritas pemimpin teknologi tersebut. Berbicara di konferensi "Future of Everything" yang diselenggarakan oleh The Wall Street Journal minggu ini, Diller menegaskan bahwa Altman adalah sosok yang tulus meskipun dituduh manipulatif oleh beberapa mantan kolega dan anggota dewan.
Melansir data dari diskusi tersebut, Diller menanggapi pertanyaan tentang apakah publik harus menaruh kepercayaan penuh kepada Altman untuk memastikan AI memberikan manfaat bagi kemanusiaan. Fokus utama perdebatan ini tertuju pada potensi munculnya Artificial General Intelligence atau AGI, sebuah bentuk teoritis dari AI yang suatu saat nanti dapat mengungguli manusia dalam tugas apa pun.
Ketidakpastian dalam Pengembangan AGI
Meskipun meyakini bahwa Altman adalah orang yang memiliki nilai-nilai baik, Diller menyatakan bahwa isu utama yang dihadapi dunia saat ini jauh melampaui sekadar kepercayaan personal. Menurutnya, kepercayaan menjadi tidak relevan ketika teknologi yang dikembangkan memberikan hasil yang mengejutkan bagi para penciptanya sendiri.
"Salah satu masalah besar dengan AI adalah ia melampaui masalah kepercayaan," ujar Diller. Ia menjelaskan bahwa para ahli yang terlibat dalam mode kreasi AI pun sering kali merasakan kekaguman sekaligus ketidaktahuan terhadap apa yang mereka ciptakan. "Ini adalah hal besar yang tidak diketahui. Kita tidak tahu, mereka (para pengembang) pun tidak tahu," tambahnya.
Diller, yang merupakan pemimpin IAC dan Expedia Group, menekankan bahwa kemajuan teknologi ini akan mengubah hampir segala aspek kehidupan. Ia mencatat bahwa meskipun investasi besar-besaran terus mengalir ke sektor ini, yang paling penting adalah bagaimana progres tersebut dikelola agar tidak menjadi liar.
Kebutuhan Mendesak akan Guardrails
Lebih lanjut, Diller memperingatkan bahwa umat manusia saat ini sedang mendekati titik AGI dengan sangat cepat. Kekhawatiran utamanya bukanlah pada siapa yang memimpin, melainkan pada ketidakmampuan manusia untuk memprediksi apa yang akan terjadi setelah AGI benar-benar tercapai.
Diller menegaskan pentingnya penetapan guardrails secepat mungkin. Jika manusia gagal membangun batasan tersebut, ia khawatir bahwa kekuatan AGI itu sendiri yang akan menetapkan aturannya secara mandiri. "Sekali hal itu terjadi, sekali Anda melepaskannya, tidak ada jalan untuk kembali," tegasnya.
Dampak bagi Indonesia
Perkembangan AGI yang semakin dekat memberikan tekanan signifikan bagi ekosistem teknologi di Indonesia. Saat ini, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika sedang merumuskan regulasi terkait etika AI. Pandangan Diller mengenai ketidakpastian AGI memperkuat argumen bahwa Indonesia membutuhkan kebijakan yang lebih dari sekadar pedoman etika, melainkan regulasi yang memiliki kekuatan hukum tetap (guardrails hukum).
Dari sisi ekonomi, nilai investasi AI global yang disinggung Diller mencapai angka fantastis—jika dikonversi ke Rupiah, investasi miliaran dolar ini menyentuh angka puluhan hingga ratusan triliun Rupiah. Bagi Indonesia, adopsi AI di sektor Enterprise harus dibarengi dengan kesiapan Data Center dan infrastruktur Cloud Computing lokal agar kedaulatan data tetap terjaga saat AGI mulai diimplementasikan di tingkat korporasi. Selain itu, para pelaku industri di Indonesia harus mulai mengantisipasi pergeseran beban kerja akibat potensi AGI yang mampu melampaui kemampuan kognitif manusia dalam berbagai bidang jasa.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


