Ad space available
AWS Melesat 24% ke Rp595 T, Tewaskan Rekor 3 Tahun
Amazon Web Services membukukan pertumbuhan tertinggi dalam 13 kuartal, mencapai USD 35,6 miliar di Q4 2025. Lonjakan permintaan AI dan migrasi enterprise menjadi mesin pertumbuhan utama.

AWS Melesat 24% ke Rp595 T, Tewaskan Rekor 3 Tahun
Jakarta, (Kamis, 5 Februari 2026) – Melansir laporan keuangan terbaru dari TechCrunch, Amazon Web Services (AWS) menutup tahun 2025 dengan pertumbuhan tercepat sejak tiga tahun lalu. Unit cloud computing raksana itu membukukan pendapatan kuartal IV sebesar USD 35,6 miliar—setara Rp 595 triliun—naik 24% year-on-year, menjadi lonjakan tertinggi dalam 13 kuartal.
- AWS mencatat pendapatan Rp 595 T di Q4 2025, tumbuh 24% dan menjadi rekor baru sejak tiga tahun lalu.
- Laju pertumbuhan ini mendorong tingkat pendapatan tahunan AWS mencapai USD 142 miliar—sekitar Rp 2.380 triliun.
- Lonjakan didorong oleh kontrak besar dengan Salesforce, BlackRock, Perplexity, serta permintaan AI yang terus meroket.
Angin Segar dari AI dan Migrasi Enterprise
CEO Amazon Andy Jassy menegaskan bahwa pertumbuhan 24% pada basis pendapatan USD 142 miliar jauh lebih berarti dibandingkan persentase tinggi dari basis yang lebih kecil. "Kami terus menambahkan kapasitas komputasi inti setiap hari," ujarnya dalam konferensi pers, seperti dikutip TechCrunch.
AWS menambahkan lebih dari 1 gigawatt daya ke jaringan pusat datanya selama kuartal IV, memperluas jejak global untuk menampung permintaan yang melonjak. Lebih dari separuh startup unggulan Amerika Serikat kini menjalankan beban kerja utamanya di AWS, melebihi dua pesaing berikutnya digabung.
Dampak bagi Indonesia
Pertumbuhan AWS yang supergesit ini berarti tekanan harga yang lebih kompetitif bagi perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengandalkan layanan cloud global. Dengan skala ekonomi AWS makin besar, pelaku e-commerce, fintech, dan edutech lokal bisa memperoleh paket komputasi dan AI—seperti Amazon Bedrock—dengan biaya per unit yang turun.
Namun, kebutuhan daya listrik yang besar untuk pusat data juga menjadi peringatan: pemerintah perlu mempercepat target 23% energi terbarukan pada 2025 agar ekspansi AWS di Asia Tenggara—termasuk calon region Indonesia—tetap berkelanjutan. Bagi talenta digital Tanah Air, lonjakan permintaan AI berarti lowongan spesialis cloud & machine learning bakal terus terbuka lebar, mendorong universitas untuk menyusun kurikulum yang lebih padat praktik cloud.
Investor Masih Kurang Puas
Meski mencetak rekor, saham Amazon justru anjlok 10% di perdagangan after-hours setelah investor menanggapi rencana peningkatan belanja modal dan hasil laba per saham yang tak sesuai ekspektasi Wall Street. AWS menyumbang 16,6% dari total pendapatan Amazon sebesar USD 213,4 miliar di kuartal IV.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


