Ad space available
Anthropic Uji Marketplace AI Agent: Bot Bertransaksi Pakai Uang Sungguhan
Anthropic baru saja menyelesaikan eksperimen 'Project Deal' yang memungkinkan AI Agent melakukan negosiasi dan transaksi komersial secara mandiri. Uji coba ini melibatkan uang sungguhan dan barang nyata dalam sebuah ekosistem marketplace tertutup.

Anthropic Uji Marketplace AI Agent: Bot Bertransaksi Pakai Uang Sungguhan
SAN FRANCISCO, (25 April 2026)
- Anthropic meluncurkan Project Deal, sebuah eksperimen pasar di mana AI Agent mewakili pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi nyata.
- Eksperimen ini melibatkan 69 karyawan dengan total nilai transaksi mencapai lebih dari $4.000 menggunakan uang asli.
- Model AI yang lebih canggih terbukti memberikan hasil negosiasi yang lebih menguntungkan bagi penggunanya dibandingkan model standar.
Perkembangan Generative AI telah mencapai babak baru di mana kecerdasan buatan kini mampu melakukan transaksi ekonomi secara mandiri. Mengutip laporan dari TechCrunch, Anthropic baru saja melakukan eksperimen unik yang disebut "Project Deal". Dalam uji coba ini, perusahaan menciptakan sebuah marketplace khusus di mana AI Agent bertindak sebagai perwakilan pembeli dan penjual.
Melansir data dari pengumuman resmi perusahaan, Anthropic menjelaskan bahwa uji coba ini merupakan proyek pilot dengan peserta terbatas sebanyak 69 karyawan Anthropic. Setiap peserta diberikan anggaran sebesar $100 (sekitar Rp1,6 juta) dalam bentuk kartu hadiah untuk membeli barang dari rekan kerja mereka melalui perantara AI Agent.
Efisiensi Negosiasi Antar AI Agent
Anthropic menyatakan bahwa mereka sangat terkesan dengan kelancaran Project Deal. Selama eksperimen berlangsung, tercatat ada 186 kesepakatan yang berhasil diselesaikan dengan total nilai transaksi melebihi $4.000. Perusahaan menjalankan empat jenis marketplace berbeda dengan berbagai tingkatan model untuk mempelajari perilaku negosiasi bot tersebut.
Temuan menarik dari studi ini menunjukkan bahwa ketika pengguna menggunakan AI Agent dengan model yang lebih canggih, mereka mendapatkan hasil yang secara objektif lebih baik atau lebih menguntungkan. Namun, peserta sering kali tidak menyadari adanya gap kualitas tersebut, yang menimbulkan kekhawatiran bahwa pengguna dengan model AI yang lebih rendah mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang dirugikan dalam sebuah negosiasi.
Selain itu, instruksi awal yang diberikan manusia kepada AI Agent ternyata tidak terlalu memengaruhi peluang terjadinya penjualan atau harga akhir yang dinegosiasikan. Hal ini mengindikasikan bahwa AI Agent memiliki kemampuan improvisasi yang kuat dalam mencapai kesepakatan komersial.
Dampak bagi Indonesia
Teknologi agent-on-agent commerce ini membawa implikasi besar bagi lanskap digital di Indonesia, terutama pada sektor e-commerce dan UMKM:
- Automasi UMKM: Pelaku usaha di platform seperti Tokopedia atau Shopee dapat menggunakan AI Agent untuk bernegosiasi otomatis dengan penyuplai (supplier), menghemat waktu dan potensi biaya operasional.
- Konversi Mata Uang: Dengan anggaran eksperimen $100 atau setara Rp1,6 juta, teknologi ini sudah berada pada level yang terjangkau untuk simulasi transaksi retail di pasar lokal.
- Tantangan Regulasi: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia perlu mulai mengkaji aspek legalitas transaksi yang dilakukan sepenuhnya oleh AI Agent. Siapa yang bertanggung jawab secara hukum jika terjadi penipuan atau kesalahan transaksi antar bot di masa depan?
- Kesenjangan Teknologi: Ada risiko gap ekonomi baru di mana perusahaan besar yang mampu menyewa AI Agent premium akan selalu menang negosiasi melawan individu atau bisnis kecil yang hanya menggunakan model gratisan.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


