Advertisement

Ad space available

Berita AI

Anthropic Tuduh Lab AI China 'Curi' Kemampuan Claude via 24.000 Akun Palsu

Anthropic menuduh tiga lab AI besar asal China melakukan 'distillation' ilegal terhadap model Claude melalui puluhan ribu akun palsu. Insiden ini memicu debat baru mengenai kebijakan ekspor chip AI Amerika Serikat ke China.

Tim Rekayasa AI
Penulis
23 Februari 2026
5 min read
#Anthropic#DeepSeek#Artificial Intelligence#Semiconductor#Cybersecurity
Anthropic Tuduh Lab AI China 'Curi' Kemampuan Claude via 24.000 Akun Palsu

Anthropic Tuduh Lab AI China 'Curi' Kemampuan Claude via 24.000 Akun Palsu

SAN FRANCISCO, (23 Februari 2026)

Key Takeaway
  • Anthropic menuduh DeepSeek, Moonshot AI, dan MiniMax menggunakan 24.000 akun palsu untuk menyedot kemampuan model Claude.
  • Ketiga perusahaan tersebut diduga melakukan teknik distillation dalam 16 juta interaksi untuk melatih model mereka sendiri.
  • Kasus ini memperkuat desakan bagi Pemerintah AS untuk memperketat kontrol ekspor Semiconductor dan GPU canggih ke China.

Melansir laporan dari TechCrunch yang ditulis oleh Rebecca Bellan, perusahaan AI asal Amerika Serikat, Anthropic, secara resmi menuduh tiga laboratorium AI terkemuka asal China—DeepSeek, Moonshot AI, dan MiniMax—telah mengeksploitasi model AI Claude milik mereka secara ilegal.

Anthropic mengklaim bahwa ketiga perusahaan tersebut membuat lebih dari 24.000 akun palsu untuk melakukan teknik yang dikenal sebagai distillation. Melalui lebih dari 16 juta pertukaran data, para pesaing ini diduga berupaya meniru kapabilitas paling terdiferensiasi dari Claude, termasuk agentic reasoning, penggunaan alat (tool use), dan kemampuan pemrograman (coding).

Memahami Teknik Distillation dalam Pengembangan AI

Distillation sebenarnya adalah metode pelatihan yang umum digunakan pengembang untuk membuat versi model yang lebih kecil dan murah dari model induk mereka sendiri. Namun, dalam konteks ini, Anthropic menuduh lab pesaing menggunakannya untuk "menyontek pekerjaan rumah" lab lain.

Kejadian ini bukan yang pertama kalinya. Awal bulan ini, OpenAI juga mengirimkan memo kepada anggota DPR AS yang menuduh DeepSeek menggunakan teknik serupa untuk meniru produk mereka. DeepSeek sendiri baru-baru ini mengguncang lanskap Silicon Valley dengan merilis model R1 yang mampu menandingi performa lab garis depan AS dengan biaya produksi yang jauh lebih rendah.

Anthropic mencatat skala serangan yang bervariasi dari tiap perusahaan:

  1. MiniMax: Melakukan 13 juta interaksi yang menargetkan agentic coding dan orkestrasi alat.
  2. Moonshot AI: Melakukan 3,4 juta interaksi yang menargetkan agentic reasoning, computer vision, dan pengembangan agen penggunaan komputer.
  3. DeepSeek: Melacak 150.000 pertukaran data yang bertujuan memperbaiki logika dasar dan penyelarasan kebijakan (alignment).

Risiko Keamanan Nasional dan Kontrol Ekspor Chip

Tuduhan ini muncul di saat pejabat AS tengah memperdebatkan seberapa ketat penegakan kontrol ekspor pada chip AI tingkat tinggi. Anthropic berargumen bahwa serangan distillation berskala besar ini mustahil dilakukan tanpa akses ke GPU canggih.

"Serangan distillation memperkuat alasan untuk kontrol ekspor: akses chip yang terbatas akan membatasi pelatihan model secara langsung maupun skala distillation ilegal," tulis Anthropic dalam blog resminya. Selain itu, mereka memperingatkan adanya risiko Cybersecurity jika model hasil curian ini tidak menyertakan sistem safeguard yang ketat, sehingga bisa disalahgunakan untuk kampanye disinformasi atau operasi siber ofensif.

Dampak bagi Indonesia

Kasus ini memiliki implikasi signifikan bagi ekosistem teknologi di Indonesia, terutama dalam tiga aspek utama:

  1. Harga dan Ketersediaan Perangkat Keras: Ketegangan antara AS dan China terkait ekspor Semiconductor dapat memengaruhi harga GPU (seperti seri Nvidia H200 atau RTX kelas atas) di pasar lokal Indonesia. Sebagai negara yang sering menjadi jalur distribusi teknologi di Asia Tenggara, pengetatan ekspor AS mungkin akan memicu fluktuasi harga pada komponen Data Center dan infrastruktur Cloud Computing lokal.
  2. Ketergantungan pada Model Open-Source: Banyak pengembang AI dan startup Fintech di Indonesia menggunakan model open-source asal China seperti DeepSeek karena efisiensi biayanya. Jika model-model ini terbukti dikembangkan melalui praktik ilegal, pengguna di Indonesia perlu mewaspadai potensi masalah lisensi jangka panjang atau risiko keamanan data.
  3. Regulasi Etika AI: Insiden ini dapat mendorong pemerintah Indonesia (melalui Kemenkominfo) untuk mempercepat perumusan regulasi mengenai etika penggunaan dan pengembangan Generative AI, guna memastikan bahwa inovasi lokal tidak terlibat dalam praktik distillation yang melanggar hak intelektual global.

Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin