Ad space available
Anthropic Sempat Blokir Kreator OpenClaw dari Akses Claude
Anthropic sempat menangguhkan akun Peter Steinberger, pencipta OpenClaw, di tengah perselisihan mengenai kebijakan biaya API baru. Insiden ini menyoroti ketegangan antara penyedia AI tertutup dan komunitas open-source.

Anthropic Sempat Blokir Kreator OpenClaw dari Akses Claude
SAN FRANCISCO, (10 April 2026)
- Anthropic sempat menangguhkan akun Peter Steinberger, pencipta OpenClaw yang kini bekerja di OpenAI, karena alasan aktivitas "mencurigakan".
- Insiden ini terjadi setelah Anthropic mengubah kebijakan harga yang mengharuskan pengguna alat pihak ketiga membayar biaya tambahan melalui API.
- Peter Steinberger menuduh Anthropic sengaja membatasi ekosistem open-source setelah mengintegrasikan fitur serupa ke dalam AI Agent milik mereka sendiri.
Melansir laporan dari TechCrunch, Anthropic sempat memblokir akses Peter Steinberger, pencipta alat open-source populer OpenClaw, ke model AI Claude miliknya pada Jumat pagi waktu setempat. Peter Steinberger, yang saat ini menjabat sebagai staf di OpenAI (rival utama Anthropic), mengunggah pesan penangguhan akunnya di platform X dengan keterangan adanya "aktivitas mencurigakan".
Pembatasan ini hanya berlangsung selama beberapa jam. Akun tersebut segera dipulihkan setelah unggahan Steinberger menjadi viral. Seorang insinyur dari Anthropic bahkan memberikan respons di kolom komentar, menyatakan bahwa perusahaan tidak pernah memblokir siapapun hanya karena menggunakan OpenClaw dan menawarkan bantuan teknis.
Kebijakan "Claw Tax" dan Perselisihan Biaya
Insiden pemblokiran ini terjadi menyusul pengumuman Anthropic minggu lalu bahwa langganan Claude tidak akan lagi mencakup dukungan untuk third-party harnesses seperti OpenClaw. Di bawah aturan baru ini, pengguna OpenClaw harus membayar biaya penggunaan secara terpisah berdasarkan konsumsi melalui API Claude.
Kebijakan yang sering disebut sebagai "Claw Tax" ini diberlakukan karena OpenClaw dinilai lebih boros dalam penggunaan compute dibandingkan prompt sederhana. Alat ini sering menjalankan continuous reasoning loops, melakukan pengulangan tugas secara otomatis, dan terintegrasi dengan berbagai alat pihak ketiga lainnya.
Steinberger mengkritik langkah tersebut. Ia menduga Anthropic sengaja mengunci ekosistem open-source setelah mereka menambahkan fitur serupa ke dalam AI Agent internal mereka, yakni Cowork dan Claude Dispatch. Fitur-fitur tersebut memungkinkan pengguna mengontrol agent dari jarak jauh dan memberikan tugas secara otomatis, mirip dengan fungsi utama OpenClaw.
Pengujian Lintas Platform
Meski kini bekerja untuk OpenAI, Steinberger menjelaskan bahwa ia tetap menggunakan Claude untuk tujuan pengujian. Sebagai bagian dari OpenClaw Foundation, ia ingin memastikan alatnya tetap kompatibel dengan berbagai penyedia LLM, termasuk Anthropic, demi kepentingan komunitas pengembang luas.
"Anda harus memisahkan dua hal. Pekerjaan saya di OpenClaw Foundation bertujuan agar OpenClaw berfungsi baik untuk penyedia model mana pun, dan pekerjaan saya di OpenAI adalah membantu strategi produk masa depan mereka," tegas Steinberger dalam diskusinya di media sosial.
Dampak bagi Indonesia
Bagi komunitas developer dan startup di Indonesia, perubahan kebijakan harga Anthropic ini memberikan dampak finansial langsung. Biaya API yang berbasis konsumsi berarti biaya operasional untuk implementasi AI Agent berbasis Claude akan meningkat signifikan dibandingkan sistem langganan flat.
Jika dikonversi ke Rupiah (estimasi kurs Rp16.000), penggunaan intensif melalui API bisa memakan biaya jutaan hingga belasan juta Rupiah per bulan bagi perusahaan skala menengah. Pengembang lokal yang mengandalkan OpenClaw untuk automasi alur kerja harus mulai melakukan audit efisiensi token atau mempertimbangkan migrasi ke model open-source yang bisa di-hosting sendiri (self-hosted) untuk menghindari ketergantungan pada kebijakan vendor global yang dinamis.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


