Ad space available
AMI Labs Milik Yann LeCun Raih $1,03 Miliar untuk Kembangkan World Models
Yann LeCun menggalang dana $1,03 miliar untuk AMI Labs guna membangun AI yang memahami realitas fisik. Pendanaan ini menempatkan AMI Labs sebagai pemain utama dalam pengembangan World Models.

AMI Labs Milik Yann LeCun Raih $1,03 Miliar untuk Kembangkan World Models
SAN FRANCISCO, (10 Maret 2026)
- AMI Labs mengumpulkan pendanaan sebesar $1,03 miliar dengan valuasi pre-money mencapai $3,5 miliar.
- Fokus utama perusahaan adalah pengembangan World Models, AI yang belajar dari realitas fisik melalui arsitektur JEPA, bukan sekadar bahasa.
- Investor utama mencakup NVIDIA, Samsung, dan Sea (induk perusahaan Shopee), dengan komitmen kuat pada riset Open Source.
Melansir laporan dari TechCrunch oleh Anna Heim, AMI Labs, perusahaan rintisan terbaru yang didirikan oleh pemenang Turing Prize, Yann LeCun, setelah meninggalkan Meta, berhasil mengamankan pendanaan jumbo sebesar $1,03 miliar. Putaran pendanaan ini menetapkan valuasi perusahaan pada angka $3,5 miliar (pre-money).
AMI Labs berfokus pada pengembangan World Models, sebuah kategori Artificial Intelligence yang dirancang untuk memahami realitas fisik secara mendalam, melampaui kapabilitas Generative AI berbasis teks yang ada saat ini. CEO AMI Labs, Alexandre LeBrun, memprediksi bahwa World Models akan menjadi tren besar berikutnya di industri teknologi dalam enam bulan ke depan.
Melampaui Large Language Models (LLM)
Langkah LeCun membangun AMI Labs didasari oleh keyakinannya mengenai keterbatasan Large Language Models (LLM) saat ini. Menurutnya, LLM sering kali mengalami halusinasi karena hanya belajar dari data bahasa, bukan dari pemahaman tentang bagaimana dunia nyata bekerja.
Sebagai alternatif, AMI Labs menggunakan arsitektur Joint Embedding Predictive Architecture (JEPA) yang diusulkan LeCun pada tahun 2022. Arsitektur ini bertujuan untuk memungkinkan AI melakukan prediksi dan pemahaman terhadap lingkungan sekitarnya, yang sangat krusial untuk aplikasi di sektor-sektor sensitif seperti layanan kesehatan (healthcare).
"AMI Labs adalah proyek yang sangat ambisius karena dimulai dari riset fundamental. Ini bukan startup AI terapan biasa yang bisa merilis produk dalam tiga bulan," ujar LeBrun. Ia menekankan bahwa transisi dari teori World Models ke aplikasi komersial mungkin akan memakan waktu bertahun-tahun.
Dukungan Raksasa Teknologi
Meskipun memiliki cakrawala waktu yang panjang, investor kelas kakap telah memberikan dukungan penuh. Putaran pendanaan ini dipimpin bersama oleh Cathay Innovation, Greycroft, Hiro Capital, HV Capital, dan Bezos Expeditions. Nama-nama besar lainnya yang turut berpartisipasi termasuk NVIDIA, Samsung, Sea, Temasek, dan Toyota Ventures.
Selain itu, tokoh-tokoh industri seperti Eric Schmidt, Mark Cuban, Xavier Niel, hingga penemu World Wide Web, Tim Berners-Lee, tercatat sebagai investor individu. Dana segar ini akan dialokasikan untuk dua kebutuhan utama: compute (daya komputasi) dan talenta. AMI Labs berencana memperkuat tim mereka di empat lokasi strategis: Paris, New York, Montreal, dan Singapura.
Tetap setia pada prinsip LeCun, AMI Labs berkomitmen untuk tetap mempublikasikan makalah penelitian dan merilis banyak kode dalam format Open Source. "Kami percaya segala sesuatunya bergerak lebih cepat jika dilakukan secara terbuka," tegas LeBrun.
Dampak bagi Indonesia
Pendanaan masif untuk AMI Labs membawa implikasi signifikan bagi ekosistem teknologi di Indonesia:
- Keterlibatan Sea Group: Masuknya Sea (perusahaan induk Shopee yang memiliki pengaruh besar di Indonesia) sebagai investor menandakan potensi integrasi teknologi World Models di pasar Asia Tenggara di masa depan, terutama dalam layanan digital dan logistik.
- Nilai Investasi Fantastis: Pendanaan $1,03 miliar atau setara sekitar Rp16,2 triliun ini menjadi standar baru bagi startup yang berfokus pada riset mendalam (deep tech), yang mungkin akan memicu minat modal ventura di Indonesia untuk lebih melirik startup berbasis sains fundamental.
- Hub Regional di Singapura: Rencana pembukaan kantor di Singapura sebagai pusat rekrutmen talenta dan kedekatan dengan klien di Asia memberikan peluang bagi tenaga ahli Machine Learning asal Indonesia untuk berkontribusi di level global tanpa harus berpindah ke Amerika Serikat atau Eropa.
- Akses Riset Terbuka: Dengan komitmen Open Source, komunitas pengembang dan peneliti AI di Indonesia dapat mengakses serta mengadopsi arsitektur JEPA untuk membangun solusi lokal yang lebih akurat dan minim halusinasi dibandingkan LLM standar.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


