Advertisement

Ad space available

Berita AI

Ambisi AI Meta: Pusat Data Hyperion Didukung 10 Pembangkit Gas Alam, Jejak Karbon Terancam

Rencana Meta untuk mendukung kebutuhan energi AI data center Hyperion dengan 10 pembangkit listrik tenaga gas alam telah menimbulkan kekhawatiran besar. Langkah ini bertentangan dengan janji keberlanjutan perusahaan dan diprediksi meningkatkan jejak karbonnya secara signifikan.

Tim Rekayasa AI
Penulis
1 April 2026
3 min read
#Meta#AI Data Center#Gas Alam#Perubahan Iklim#Energi Terbarukan
Ambisi AI Meta: Pusat Data Hyperion Didukung 10 Pembangkit Gas Alam, Jejak Karbon Terancam

Ambisi AI Meta: Pusat Data Hyperion Didukung 10 Pembangkit Gas Alam, Jejak Karbon Terancam

SAN FRANCISCO, (1 April 2026)

Key Takeaway
  • Meta akan membangun total 10 pembangkit listrik tenaga gas alam untuk mendukung kebutuhan energi AI data center Hyperion yang baru.
  • Pembangkit-pembangkit ini dirancang untuk menghasilkan sekitar 7,5 gigawatt listrik, kapasitas yang setara dengan seluruh konsumsi energi di negara bagian South Dakota, AS.
  • Keputusan ini diperkirakan akan meningkatkan jejak karbon tahunan Meta sebesar 50% dibandingkan tahun 2024, menimbulkan pertanyaan serius tentang komitmen keberlanjutan perusahaan.

Data Center modern telah tumbuh sedemikian rupa sehingga kebutuhan daya mereka kini menyaingi seluruh negara bagian di Amerika Serikat. Contohnya adalah AI data center Hyperion milik Meta. Ketika rampung, data center baru ini akan menarik listrik sebanyak konsumsi seluruh South Dakota.

Mengutip laporan dari TechCrunch pada Rabu (1/4), Meta pekan lalu mengumumkan akan mendanai tujuh pembangkit listrik tenaga gas alam tambahan, di luar tiga yang sudah berkomitmen untuk dibangun, guna mendukung data center tersebut. Secara total, 10 pembangkit listrik di Louisiana ini akan menghasilkan sekitar 7,5 gigawatt listrik, sedikit lebih banyak dari kapasitas seluruh “Mount Rushmore State.” Laporan ini ditulis oleh Tim De Chant, Senior Reporter Climate di TechCrunch.

Meta, seperti banyak perusahaan teknologi lainnya, selama bertahun-tahun telah menggembar-gemborkan kredensial iklim dan lingkungannya. Perusahaan secara teratur menerbitkan laporan keberlanjutan, dan sering kali membanggakan pembelian energi terbarukan. Bahkan, Meta secara efektif membeli pembangkit listrik tenaga nuklir selama 20 tahun. Namun, data center Hyperion di Louisiana ini akan menguji komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan.

Gas alam telah lama disebut sebagai “bridge fuel” – artinya membangun beberapa pembangkit listrik tenaga gas alam saat ini sembari menunggu energi terbarukan, baterai, dan tenaga nuklir berkembang. Ini kemungkinan besar adalah bagaimana Meta membenarkan langkah tersebut secara internal. Namun, argumen “bridge fuel” ini telah digunakan selama beberapa dekade dan mulai menipis. Harga energi terbarukan dan baterai telah anjlok, sementara harga turbin gas justru melonjak. Meta sendiri merupakan pembeli utama panel surya, baterai, dan tenaga nuklir dalam beberapa tahun terakhir, yang membuat keputusan untuk sangat bergantung pada gas alam ini semakin membingungkan.

TechCrunch telah menghubungi Meta, tetapi perusahaan tidak menanggapi beberapa permintaan komentar.

Turbin-turbin raksasa di Louisiana ini diperkirakan akan membuang 12,4 juta metrik ton CO2 ke atmosfer setiap tahun, berdasarkan perhitungan TechCrunch dari data Departemen Energi AS. Angka itu 50% lebih tinggi dari seluruh jejak karbon Meta pada tahun 2024, yang merupakan tahun terakhir data tersebut tersedia.

Angka tersebut bahkan merupakan perkiraan rendah dari dampak iklim, karena tidak termasuk kebocoran dari rantai pasokan gas alam. Methane, komponen utama gas alam, menghangatkan planet 84 kali lebih banyak daripada Carbon Dioxide. Bahkan tingkat kebocoran 0,2% di sepanjang rantai pasokan dapat membuat dampak iklim gas alam lebih buruk daripada batu bara. Di AS, produksi dan pipa gas alam bocor methane pada tingkat yang mendekati 3%, yang jelas bukan energi bersih.

Laporan keberlanjutan terbaru perusahaan tidak menyebutkan kebocoran methane. Bahkan tidak menyebutkan methane atau gas alam sama sekali. Namun, bahan bakar ini diperkirakan akan menjadi salah satu kontributor terbesar jejak karbon Meta dalam beberapa tahun mendatang.

Perusahaan mungkin akan tetap berpegang pada janji iklimnya dan menemukan cara untuk mengimbangi emisi tersebut melalui carbon removal credits. Namun, kini mereka akan membutuhkan lebih banyak lagi, bersama dengan perhitungan jujur tentang berapa banyak methane yang akan bocor ke atmosfer demi menggerakkan pembangkit listrik barunya.

Dampak bagi Indonesia

Fenomena lonjakan kebutuhan energi untuk Data Center, terutama AI data center, juga relevan bagi Indonesia. Dengan pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, permintaan akan layanan Cloud Computing dan infrastruktur Data Center di Indonesia terus meningkat. Perusahaan teknologi global maupun lokal semakin banyak mendirikan Data Center berskala besar, termasuk yang berfokus pada Machine Learning dan Generative AI yang membutuhkan daya komputasi tinggi serta GPU khusus.

Kasus Meta ini menjadi studi kasus penting bagi para pemangku kepentingan di Indonesia. Pembangunan Data Center yang sangat besar, terutama untuk kebutuhan AI intensif, secara signifikan meningkatkan beban pada jaringan listrik nasional. Jika energi tidak bersumber dari energi terbarukan, hal ini dapat menghambat tujuan Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emissions dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Pemerintah Indonesia telah mendorong investasi dalam Fintech, Cloud Computing, dan Data Center, serta secara aktif menggalakkan pengembangan energi terbarukan. Oleh karena itu, penting bagi operator Data Center di Indonesia untuk mempelajari dampak lingkungan dari pilihan sumber energi Meta. Peningkatan harga turbin gas seperti yang disebutkan dalam laporan TechCrunch juga dapat mempengaruhi biaya investasi bagi pengembang Data Center di Indonesia jika mereka berencana menggunakan sumber energi serupa. Diskusi mengenai Prompt Engineering dan efisiensi model AI juga menjadi penting untuk mengurangi konsumsi energi secara keseluruhan. Regulator perlu mempertimbangkan kebijakan yang mendukung Data Center yang lebih hijau, misalnya dengan insentif untuk penggunaan energi terbarukan atau standar efisiensi energi yang lebih ketat.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin