Advertisement

Ad space available

Berita AI

Amazon vs Google: Lomba Habiskan Rp3.000 Triliun demi AI

Amazon merogoh Rp3.2 triliun dan Google Rp2.8 triliun untuk data center AI-nya 2026. Pasar khawatir belum ada bukti untung.

Tim Rekayasa AI
Penulis
6 Februari 2026
3 min read
#Amazon#Google#AI capex#pusat data#investasi AI
Amazon vs Google: Lomba Habiskan Rp3.000 Triliun demi AI

Amazon dan Google Habiskan Ratusan Miliar Dollar untuk AI, Investor Khawatir

Jakarta, 5 Februari 2026 – Melansir laporan investigasi dari TechCrunch, Amazon dan Google baru saja mengumumkan anggaran belanja modal (capex) terbesar dalam sejarah mereka: masing-masing hingga US$ 200 miliar (Rp3,2 ribu triliun) dan US$ 185 miliar (Rp2,9 ribu triliun) pada 2026. Besaran ini melonjak 52% dari realisasi 2025, namun investor justara cemas karena belum ada bukti bahwa investasi raksasa itu akan berbalik untung.

Key Takeaway
  • Amazon akan menghabiskan US$ 200 miliar untuk pusat data, chip, robot, dan satelit 2026.
  • Google di belakangnya: US$ 175–185 miliar, naik dua kali lipat dibanding 2025.
  • Saham ketiga raksasa—Amazon, Google, Meta—terjun ketika cape melonjak, karena pasar belum melihat jal monetisasi AI.

Lomba Cape: Amazon Ungguli Google

Dalam laporan keuangan kuartal terakhir, Amazon memproyeksikan cape mencapai US$ 200 miliar pada 2026, naik dari US$ 131,8 miliar 2025. Meskipun sebagian digunakan untuk robot gudang dan satelit, sebagian besar akan dialirkan ke pusat data dan chip AI.

Google tidak mau kalah. Alphabet—induk Google—menargetkan cape antara US$ 175 miliar hingga US$ 185 miliar, melonjak dari US$ 91,4 miliar 2025. Angka ini membuat Meta (US$ 115–135 miliar) dan Oracle (US$ 50 miliar) terlihat minor.

Microsoft masih merahasiakan total tahunan, namun kuartal lalu mencatat cape US$ 37,5 miliar; jika berkelanjutan, totalnya sekitar US$ 150 miliar. Meski ketiga perusahaan ini memiliki strategi monetisasi yang relajar (cloud, iklan, langganan), pasar tetap cemas.

Investor Khawatir: Uangnya Besar, Hasilnya?

Logika internal Silicon Valley: AI akan membuat compute menjadi barang langka; siapapun memiliki pusat data terbesar akan memenangkan perlombaan. Namun Wall Street belum yakin. Saham ketiga perusahaan—termasuk Microsoft—turun setelah cape melonjak. Investor menuntut bukti bahwa AI benar-benar menghasilkan arus kas.

Seperti ditulis oleh Russell Brandom di TechCrunch, bahkan perusahaan dengan strategi produk AI yang jelas pun belum mampu meyakinkan pasar. Besaran cape yang terlalu besar memicu tekanan publik pada CEO Satya Nadella (Microsoft) dan rekan-rekan.

Dampak bagi Indonesia

Pertama, biaya sewa cloud di Indonesia kemungkinan naik. Amazon Web Services (AWS) dan Google Cloud Platform (GCP) menaikkan harga untuk menutup cape besar; startup Indonesia harus mempertimbangkan hybrid on-premise atau multi-cloud.

Kedua, peluang vendor lokal: kebutuhan chip AI dan pusat data akan mendorong perusahaan seperti Telkomsigma, DCI, dan Morula untuk membangun kolokasi di Batam dan Solo—dekat kabel bawah laut—menjadi destinasi alternatif Singapura.

Ketiga, regulasi: cape besar ini memicu perdebatan efisiensi energi. Indonesia harus mempercepat standar efisiensi pusat data dan insentif renewable energy agar tidak sekadar menjadi pasar impor teknologi.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedia informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin