Ad space available
Algoritma AI MIT Mampu Lacak Jalur Saraf Otak untuk Deteksi Dini Parkinson
Peneliti MIT mengembangkan BrainStem Bundle Tool (BSBT), perangkat lunak AI yang mampu memetakan delapan bundel saraf penting di batang otak. Teknologi ini menjadi terobosan baru dalam mendiagnosis penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.

Algoritma AI MIT Mampu Lacak Jalur Saraf Otak untuk Deteksi Dini Parkinson
CAMBRIDGE, (10 Februari 2026)
- Peneliti MIT meluncurkan BrainStem Bundle Tool (BSBT), perangkat lunak berbasis AI yang secara otomatis dapat memetakan delapan bundel serat saraf di batang otak.
- Teknologi ini mampu mendeteksi perubahan struktural halus yang menjadi ciri penyakit Parkinson, Multiple Sclerosis (MS), Alzheimer, dan cedera otak traumatik.
- Algoritma ini menggunakan Convolutional Neural Network untuk menganalisis data Diffusion MRI yang sebelumnya sangat sulit diinterpretasikan karena gangguan detak jantung dan pernapasan.
Mengutip laporan dari MIT News, tim peneliti dari MIT, Universitas Harvard, dan Massachusetts General Hospital (MGH) telah mengembangkan alat baru yang membuka jendela baru ke dalam batang otak manusia. Melansir data yang dipublikasikan di jurnal PNAS, perangkat lunak bertenaga AI ini mampu secara otomatis melakukan segmentasi terhadap delapan bundel serat saraf white matter dalam pemindaian Diffusion MRI apa pun.
Batang otak merupakan pusat kendali vital tubuh yang mengatur kesadaran, tidur, pernapasan, dan detak jantung. Namun, pencitraan wilayah ini secara historis sangat sulit dilakukan karena ukurannya yang kecil dan lokasinya yang rentan terhadap gangguan dari aliran cairan otak serta gerakan fisik seperti pernapasan.
Terobosan AI dalam Neurosains
Mark Olchanyi, kandidat doktor di MIT dan penulis utama studi ini, menjelaskan bahwa BrainStem Bundle Tool (BSBT) bekerja dengan melacak bundel serat yang masuk ke batang otak dari area tetangga seperti talamus dan serebelum. Sistem ini menciptakan peta serat probabilistik yang kemudian diproses oleh Machine Learning untuk membedakan jalur saraf individu.
Algoritma ini dilatih menggunakan Convolutional Neural Network pada 30 pemindaian Diffusion MRI dari relawan Human Connectome Project (HCP). Hasilnya, BSBT mampu mengidentifikasi pola perubahan struktural yang konsisten pada pasien Parkinson dan MS, serta memberikan informasi prognostik pada pasien koma.
Dalam satu kasus uji coba, alat ini berhasil melacak penyembuhan bundel saraf pada pasien koma berusia 29 tahun selama tujuh bulan masa pemulihan. AI tersebut menunjukkan bahwa jalur saraf pasien tidak terputus, melainkan hanya bergeser, yang memberikan harapan bagi pemulihan jangka panjang.
Dampak bagi Indonesia
Kehadiran teknologi BSBT yang bersifat open-access ini memiliki potensi besar bagi dunia medis di Indonesia. Saat ini, biaya pemeriksaan MRI di rumah sakit besar di Indonesia berkisar antara Rp2.000.000 hingga Rp5.000.000 per pemeriksaan. Implementasi algoritma AI seperti BSBT dapat meningkatkan nilai diagnostik dari perangkat MRI yang sudah ada tanpa memerlukan investasi perangkat keras tambahan yang mahal.
Bagi pasien di Indonesia, deteksi dini penyakit degeneratif seperti Parkinson dan Alzheimer sangat krusial mengingat populasi lansia yang terus meningkat. Dengan pemetaan saraf yang lebih presisi, dokter spesialis saraf di pusat kesehatan seperti RSCM atau RSPAD dapat memberikan intervensi yang lebih akurat sebelum kerusakan saraf menjadi permanen. Selain itu, ketersediaan alat ini secara publik di GitHub memungkinkan peneliti medis lokal untuk mengadaptasi teknologi ini guna memetakan karakteristik saraf spesifik pada populasi di Asia Tenggara.
Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.
Ad space available
Ditulis oleh
Tim Rekayasa AI
Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.


