Advertisement

Ad space available

Berita AI

Adopsi AI di AS Meningkat, Namun Tingkat Kepercayaan Pengguna Merosot Tajam

Jajak pendapat terbaru mengungkap paradoks di mana adopsi AI terus meluas namun 76% pengguna masih meragukan akurasinya. Kekhawatiran akan lapangan kerja dan dampak lingkungan menjadi faktor utama rendahnya kepercayaan publik.

Tim Rekayasa AI
Penulis
30 Maret 2026
4 min read
#Artificial Intelligence#AI Trust#Data Center#Generative AI#Regulasi Teknologi
Adopsi AI di AS Meningkat, Namun Tingkat Kepercayaan Pengguna Merosot Tajam

Adopsi AI di AS Meningkat, Namun Tingkat Kepercayaan Pengguna Merosot Tajam

SAN FRANCISCO, (30 Maret 2026)

Key Takeaway
  • Sebanyak 76% warga Amerika Serikat jarang atau hanya kadang-kadang memercayai hasil dari AI, meskipun tingkat penggunaan alat ini terus meningkat.
  • 70% responden memprediksi kemajuan AI akan memangkas peluang kerja, dengan Gen Z menjadi kelompok yang paling pesimis.
  • Mayoritas publik (65%) menolak pembangunan Data Center di lingkungan mereka karena kekhawatiran akan beban biaya listrik dan penggunaan air.

Masyarakat Amerika Serikat semakin sering beralih ke Artificial Intelligence (AI) untuk membantu riset, penulisan, proyek sekolah atau kerja, hingga analisis data. Namun, peningkatan penggunaan ini tidak dibarengi dengan rasa puas atau rasa aman.

Mengutip laporan dari TechCrunch yang melansir data jajak pendapat terbaru dari Quinnipiac University, ditemukan kesenjangan yang mencolok antara adopsi praktis dan kepercayaan publik. Dari hampir 1.400 warga Amerika yang disurvei, lebih dari tiga perempatnya menyatakan tidak percaya pada AI—76% mengatakan mereka jarang atau hanya kadang-kadang memercayainya, dibandingkan hanya 21% yang percaya pada informasi yang dihasilkan AI hampir sepanjang waktu.

Hal ini tetap terjadi meskipun jumlah pengguna terus tumbuh. Hanya 27% responden yang mengaku belum pernah menggunakan alat AI, angka ini turun dari 33% pada April 2025.

"Kontradiksi antara penggunaan dan kepercayaan terhadap AI sangat mencolok," ujar Chetan Jaiswal, profesor ilmu komputer di Quinnipiac. "Warga Amerika jelas mengadopsi AI, tetapi mereka melakukannya dengan keraguan yang mendalam, bukan kepercayaan yang besar."

Kecemasan Terhadap Masa Depan dan Lapangan Kerja

Sentimen negatif ini sebagian besar didorong oleh kekhawatiran akan masa depan. Poll tersebut menemukan bahwa hanya 6% responden yang merasa "sangat antusias" terhadap AI, sementara 62% merasa tidak terlalu antusias. Sebaliknya, 80% responden merasa sangat atau cukup khawatir tentang perkembangan teknologi ini.

Sektor lapangan kerja menjadi titik perhatian utama. Sebanyak 70% responden percaya bahwa kemajuan AI akan mengurangi jumlah lowongan kerja. Angka ini meningkat signifikan dari 56% pada tahun lalu. Menariknya, anggota Gen Z merupakan kelompok yang paling pesimis, dengan 81% meramalkan penurunan drastis pada peluang kerja di masa depan.

Selain isu pekerjaan, pembangunan infrastruktur fisik seperti Data Center juga mendapat penolakan. Sekitar 65% responden tidak menginginkan fasilitas tersebut dibangun di komunitas mereka, dengan alasan utama tingginya biaya listrik dan konsumsi air yang besar untuk sistem pendinginan perangkat keras.

Masalah Transparansi dan Regulasi

Kurangnya kepercayaan publik juga berakar dari perilaku perusahaan Big Tech. Dua pertiga responden merasa perusahaan-perusahaan tersebut tidak cukup transparan dalam menggunakan AI. Selain itu, persentase yang sama menilai pemerintah belum melakukan langkah yang cukup untuk meregulasi teknologi ini.

"Masyarakat Amerika tidak menolak AI secara mentah-mentah, tetapi mereka mengirimkan peringatan," kata Tamilla Triantoro, profesor analisis bisnis dan sistem informasi di Quinnipiac. "Terlalu banyak ketidakpastian, terlalu sedikit kepercayaan, regulasi yang minim, dan ketakutan yang terlalu besar terhadap nasib pekerjaan mereka."

Dampak bagi Indonesia

Fenomena di Amerika Serikat ini mencerminkan tantangan yang serupa di pasar Indonesia. Dengan penetapan harga layanan AI premium yang umumnya berkisar di angka $20 (setara Rp315.000 - Rp320.000 per bulan), hambatan adopsi bagi individu dan UMKM di Indonesia masih cukup tinggi dari sisi biaya.

Selain itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) saat ini terus menggodok kerangka regulasi AI yang lebih mengikat. Sentimen publik di AS mengenai ketidakpercayaan terhadap hasil AI seharusnya menjadi pengingat bagi pengembang lokal dan perusahaan yang mengimplementasikan Machine Learning atau LLM di Indonesia untuk lebih transparan dalam penggunaan data pelanggan dan verifikasi output guna menghindari disinformasi di tengah masyarakat.


Artikel ini akan diperbarui seiring tersedianya informasi baru. Join Komunitas Rekayasa AI di Discord untuk diskusi lebih lanjut.

Advertisement

Ad space available

✍️

Ditulis oleh

Tim Rekayasa AI

Kontributor Rekayasa AI yang passionate tentang teknologi AI dan dampaknya di Indonesia.

Bagikan:𝕏fin